Sentani, Jubi – Masyarakat di wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua enggan melakukan deteksi dini kanker leher rahim atau serviks karena takut atau belum siap mengetahui hasilnya.
Kepala Puskesmas Sentani, Delila Mehue mengatakan selama Januari 2025 hingga Desember 2025, pihaknya hanya melayani 31 pemeriksaan IVA untuk mendeteksi dini kanker leher rahim atau serviks.
“Pemeriksaan IVA tidak ada cakupan atau sasaran dari Dinas Kesehatan. Mereka yang datang untuk memeriksakan diri karena adanya keluhan. Ada 31 pemeriksaan, terdiri dari 28 orang dari Sentani dan tiga orang di luar Sentani,” kata Delila Mehue di Sentani, Sabtu (25/10/2025).
Menurutnya, ada beragam faktor pemeriksaan IVA masih sedikit. Selain karena masyarakat takut atau belum siap mengetahui hasil pemeriksaan tersebut, faktor lainnya karena rasa malu atau kurang nyaman, sebab keterbatasan ruangan di puskesmas.
Mehue mengatakan, beberapa waktu lalu, telah dilakukan deteksi dini di Puskesmas Sentani dengan pengambilan sampel mandiri metode HPV-DNA, dan antusias masyarakat mencapai sasaran 100 orang.
Katanya, pemeriksaan metode HPV-DNA ketika itu melibat beberapa kader, polwan, juga petugas yang memenuhi syarat. Kegiatan itu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Karena sampelnya dilakukan oleh diri sendiri, bukan petugas.
Ia mengatakan, apabila pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim ini perlu disosialisasikan secara komunal bukan individu.
“Mungkin lebih bagus kalau buat program atau sosialisasi pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim mengajak kelompok ibu-ibu pengajian, gereja, dan kelompok lainnya,” ujarnya.
Ia menganjurkan untuk perempuan yang sudah melakukan hubungan suami-istri memeriksakan kesehatan reproduksinya.
Dua puskesmas di Kabupaten Jayapura, Puskesmas Sentani dan Harapan menjadi pilot di Provinsi Papua untuk pelaksanaan pengambilan sampel mandiri deteksi dini kanker serviks dengan metode HPV-DNA.
Anggota tim kerja penyakit kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular atau PTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia drg Ni Kadek Diah Antari Kurniawati MKes berharap adanya program tersebut bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri.
“Kanker serviks merupakan kanker mematikan nomor dua setelah kanker payudara. Oleh karena itu, deteksi dini kanker serviks ini dilakukan untuk menjaga para wanita yang masih produktif bisa menghasilkan generasi-generasi yang sehat. Ini dasar kita untuk menuju Indonesia Emas 2045,” katanya kepada Jubi, beberapa waktu lalu. (*)



























Discussion about this post