Jayapura, Jubi – Sejumlah besar perempuan, laki-laki, dan pemuda yang menghadiri program penyaringan yang dilakukan oleh PNG Tribal Foundation dan AFL PNG awal pekan ini, menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang tidak dilaporkan di Kavieng, Provinsi New Ireland, Papua Nugini (PNG).
Para perempuan secara terbuka membahas masalah kekerasan dalam rumah tangga yang mereka alami di rumah. Mereka mengatakan, banyak kasus tidak pernah dilaporkan ke polisi karena takut akan serangan lebih lanjut, gosip masyarakat, dan kurangnya kepercayaan pada polisi dalam menangani kasus kekerasan berbasis gender, sebagaimana dikutip jubi.id dari laman internet,tvwan.com.pg, Jumat (29/5/2026)
Seorang perempuan bernama Caroline, berbagi pengalamannya hidup dalam pernikahan yang diatur oleh ayahnya.
Ia mengatakan, menanggung kekerasan selama bertahun-tahun, bahkan hingga hari ini ketika semua anaknya sudah dewasa.
“Saya memiliki empat anak yang semuanya berpendidikan dan menjalani kehidupan mereka sendiri,” katanya. “Kaki saya menjadi lumpuh dan saya tidak bisa berjalan selama berbulan-bulan, tetapi melalui bantuan anak-anak saya, saya berhasil berjalan lagi,” kata Caroline.
Caroline mengatakan dia sekarang hidup dengan disabilitas permanen dan ini memengaruhi pergerakannya seiring bertambahnya usia.
Ia mendorong para pemuda untuk menghormati dan merawat istri mereka. Dia juga mengatakan mentalitas laki-laki yang membayar mahar dan kemudian menyalahgunakan istri mereka harus dihentikan.
Mark Davey dari Bagail, Ward 4, di Kavieng, mengatakan salah satu tantangan utama yang dihadapi di masyarakat adalah keterlibatan kaum muda dalam kegiatan sosial negatif yang berkontribusi pada masalah ketertiban umum.
“Program kesadaran seperti ini sudah lama dibutuhkan, dan pihak berwenang di sini tidak turun ke masyarakat untuk mengatasi masalah ini,” ucap Mark Davey.
“Kami berterima kasih kepada AFL PNG dan PNG Tribal Foundation karena telah datang ke komunitas kami dan berbicara secara terbuka tentang masalah yang dihadapi banyak orang, tetapi tidak ada yang membicarakannya,” ujarnya.
Program penyaringan ini merupakan bagian dari kegiatan kesadaran berkelanjutan PNG Tribal Foundation yang bertujuan untuk mengatasi Kekerasan Berbasis Gender (GBV), Kekerasan Terkait Tuduhan Sihir (SARV), dan mempromosikan hubungan yang saling menghormati dan komunitas yang lebih aman. (*)


























Discussion about this post