Jayapura, Jubi – Para penggemar reggae di Honiara baru saja menikmati malam bersejarah yang dipenuhi musik dan perayaan saat The Lucky Dube Band tampil langsung di Coral Sea Resort & Casino pada Sabtu, 22 November, menandai ulang tahun ke-10 tempat tersebut.
Ini bukan pertama kalinya Lucky Dube berkunjung ke Honiara. Pada 1994, ketika Lucky Dube masih hidup, ia pernah tampil di kota tersebut. Karena itu, bagi mereka, Kepulauan Solomon merupakan rumah kedua bagi kelompok musik reggae asal Afrika Selatan ini.
Pertunjukan tahun ini menampilkan TK Dube (Thokozani Dube), putra sulung mendiang Lucky Dube, yang melanjutkan warisan kuat salah satu ikon reggae paling dicintai di Afrika. Band ini beranggotakan beberapa kolaborator asli Lucky Dube dari The Slaves dan One People Band — Thuthukani Cele, Andile Nqubezelo, Doods Molefi, Skipper Shabalala — serta trio vokal ternama Letta Phala, Bellina Radebe, dan Gabi Sel Mdluli. Demikian dilansir jubi.id dari laman solomonstarnews.com, Jumat (5/12/2025).

Acara tersebut menjanjikan malam persatuan, irama, dan penghormatan dengan tema “Satu Cinta, Satu Malam, Satu Suasana Legendaris.”
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Konser ini tidak hanya merayakan satu dekade Coral Sea Resort, tetapi juga menjadi penghormatan tulus bagi pengaruh abadi musik Lucky Dube — suara yang terus menginspirasi lintas generasi dan batas negara.
Tampil di Jayapura 3 Desember di Lapangan Karang PTC
Usai tampil di Honiara, rombongan The Lucky Dube Band tiba di Jayapura melalui perjalanan darat dari Vanimo, PNG. Mereka tampil memukau menghibur warga Papua. Bahkan para pecinta reggae dari Wamena berkendara mobil menuju Jayapura dengan membawa bendera reggae merah–emas–hijau.
Semula mereka dijadwalkan tampil pada 29 November, namun terkendala visa transit sehingga konser baru dapat digelar pada 3 Desember di Lapangan Karang PTC Entrop. Tak heran ribuan warga Papua tumpah ruah menuju Jayapura untuk menyaksikan show perdana musisi reggae dari Afrika Selatan ini.
Pada Rabu malam, 3 Desember 2025, ribuan warga sudah berkumpul sejak siang hari di Lapangan Karang Entrop. Antusiasme tinggi menyambut kedatangan band reggae dunia tersebut.
Lucky Dube Band tampil membawakan lagu-lagu hits seperti Remember Me, Prisoner, It’s Not Easy, dan Together as One. Syair lagu-lagu tersebut jelas menyentuh hati para penonton, terutama karena menggambarkan luka kolektif, perjuangan, dan kerinduan akan martabat yang utuh.
Tak heran jika karya-karya mendiang musisi Afrika Selatan yang bertahun-tahun melawan apartheid itu sangat menyentuh bagi Orang Papua. Mereka berdiri, bernyanyi, melambaikan tangan, dan larut dalam irama reggae.
Siapa itu Lucky Dube?
Lucky Dube adalah salah satu artis reggae Afrika paling berbakat, dan dianggap sebagai salah satu penampil live terbaik di dunia. Konser-konsernya selalu memukau para penggemar. Ia dikenal mampu mentransfer energi musik live secara luar biasa ke atas panggung.
Band pendukungnya, The Slaves, terdiri dari musisi-musisi berbakat dan disiplin. Jika salah satu dari mereka datang terlambat, Lucky Dube tidak segan mengusirnya. Demikian dikutip jubi.id dari laman www.newvision.co.ug dalam laporan Special Tribute to Late Lucky Dube.
Pertunjukannya yang padat membuat penggemar tidak pernah bosan, meskipun lagu-lagu hitsnya telah dirilis bertahun-tahun sebelumnya. Popularitasnya membuat promotor Uganda, Geoffrey Lutaaya dari Eagles Production, berencana membawa Lucky Dube tampil untuk kelima kalinya pada Paskah 2008.
Lucky Dube lahir pada 3 Agustus 1964 di Ermelo, Transvaal Timur, Afrika Selatan. Pada usia 9 tahun, ia terpilih menjadi asisten perpustakaan di sekolahnya. Keinginannya mempelajari dunia dan sejarah Afrika Selatan yang kontroversial membawanya masuk ke dunia sastra. Dari sinilah ia berkenalan dengan agama Rastafarian melalui sebuah ensiklopedia, termasuk musik yang identik dengannya — reggae.
Ketertarikannya semakin tumbuh hingga ia bekerja untuk membeli album Peter Tosh, satu-satunya album reggae yang tersedia di Afrika Selatan saat itu.
Semasa sekolah, ia mendirikan band pertamanya, Skyway Band, dan berhasil membeli gitar pertamanya dari hasil produksi drama panggung. Bakatnya menarik perhatian Richard Siluma, produser rekaman sekaligus kerabatnya.
Pada 1979, Lucky memulai karier sebagai penyanyi mbaqanga. Bersama calon anggota The Slaves, Thutukani Cele dan Chris Dlamini, ia merekam album Mbaqanga pada 1982. Selama tiga tahun berikutnya, ia merilis album solo Lengane Ngeyetha, disusul Kukuwe, yang meraih emas. Ia kemudian merilis dua album tradisional Zulu lainnya.
Pada 1985, tanpa sepengetahuan perusahaan rekamannya, Lucky dan Richard merekam Rastas Never Die — album reggae pertama yang direkam di Afrika Selatan. Karena situasi politik saat itu, album tersebut dilarang dan kurang sukses secara komersial.
Perusahaan rekaman menekannya untuk kembali ke musik pop Zulu tradisional. Lucky sempat membintangi film Getting Lucky dan terlibat dalam soundtrack-nya. Pada 1986, ia merilis album reggae keduanya, Think About the Children.
Awal mula Slaves Band terbentuk pada periode ini. Pada 1987, ia merilis album reggae ketiganya, Slave, dengan lagu hits I’ve Got You Babe, Slave, dan Back to My Roots. Ia tampil di hadapan lebih dari 50.000 penonton di Johannesburg.
Ia kemudian melakukan tur internasional untuk mempromosikan album Slave, yang dirilis di Prancis. Pada 1988, album Together as One dirilis, menyerukan persatuan Afrika Selatan lintas ras.
Pada 1989, Lucky tampil dalam tur besar Franchment Zoulou di Prancis bersama 60 musisi top Afrika Selatan, lalu melanjutkan ke AS. Tahun itu ia juga membintangi film Voice in the Dark.
Album Prisoner (1989) menjadi terlaris, meraih double platinum dalam lima hari. Pada 1991, ia menjadi artis Afrika Selatan pertama yang tampil di Sunsplash Festival Jamaica dan mendapat kehormatan encore 25 menit. Ia kemudian tur ke Australia, Jepang, dan Ghana.
Ia merekam total 22 album dalam 25 tahun dan menjadi artis reggae terlaris di Afrika sepanjang masa. Lucky Dube dibunuh pada 18 Oktober 2007 di Rosettenville, Johannesburg.
Meski ia telah tiada, anak dan grup bandnya terus melanjutkan warisannya hingga tampil di Jayapura pada 3 Desember 2025.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


























Discussion about this post