Jayapura, Jubi – Amerika Serikat telah “mendengarkan dengan saksama” masukan dari negara-negara Kepulauan Pasifik dalam upaya meningkatkan pengaruh diplomatiknya di kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS, Kurt Campbell, saat menghadiri Pertemuan Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik ke-53 di Nuku’alofa, Tonga.
Dalam wawancara dengan RNZ yang dikutip oleh jubi.id pada Kamis (29/8/2024), Campbell mengungkapkan bahwa Washington sedang meluncurkan berbagai inisiatif di kawasan Pasifik, mulai dari ketahanan terhadap perubahan iklim, penangkapan ikan ilegal, hingga peningkatan sektor pendidikan, teknologi, dan konektivitas.
Campbell juga mengumumkan bahwa AS telah menyumbang sebesar USD 25 juta kepada Fasilitas Ketahanan Pasifik, sebuah dana yang dirancang untuk memudahkan negara-negara anggota Forum Kepulauan Pasifik (PIF) mengakses pendanaan iklim guna mendukung proyek adaptasi, kesiapsiagaan bencana, dan tanggap darurat.
“Langkah maju kita di Pasifik ini sangat substansial,” ungkap Campbell, seraya menambahkan bahwa momen ini adalah “saat yang menggairahkan” bagi kemitraan AS dengan kawasan tersebut. “Kami yakin bahwa kami telah mendengarkan dengan baik kepemimpinan PIF dan negara-negara anggotanya, serta mengarahkan kontribusi kami sesuai dengan apa yang kami dengar.”
AS merupakan salah satu dari lebih dari 20 mitra dialog PIF, termasuk Tiongkok, Uni Eropa, Prancis, dan Inggris. Sejak 2021, AS telah mengambil berbagai langkah signifikan untuk memperkuat hubungannya dengan negara-negara Pasifik, termasuk menjadi tuan rumah dua KTT Forum Kepulauan Pasifik, membuka kedutaan di Kepulauan Solomon, Tonga, dan Vanuatu, serta merilis Strategi Kemitraan AS-Pasifik yang pertama.

Selain itu, AS juga telah menyediakan lebih dari USD 8 miliar dalam pendanaan baru untuk kawasan Pasifik, mengakui Kepulauan Cook dan Niue sebagai negara berdaulat, memperluas kantor USAID di Papua Nugini dan Fiji, serta mengembalikan Peace Corps ke beberapa negara Pasifik seperti Fiji dan Tonga.
Campbell menegaskan bahwa AS terus berupaya membangun kemitraan yang lebih kuat, tidak hanya dengan mitra tradisional seperti Australia dan Selandia Baru, tetapi juga dengan negara-negara baru seperti Jepang, Korea Selatan, dan India.
“Kami ingin PIF menjadi lebih kuat,” kata Campbell.
Ia juga menambahkan bahwa segala upaya AS di kawasan Pasifik dilakukan melalui konsultasi yang transparan, dengan menekankan pentingnya demokrasi dan hak asasi manusia.
Namun, Campbell juga menyatakan kekhawatirannya terhadap “proyeksi kekuatan” dari Tiongkok di kawasan Pasifik. Ia menggarisbawahi adanya area di mana Tiongkok mendukung elemen-elemen yang tidak demokratis serta pelanggaran dalam praktik penangkapan ikan.
“Kami khawatir dengan potensi kemampuan proyeksi kekuatan ke wilayah yang damai,” ujar Campbell, menegaskan kembali komitmen AS terhadap hak asasi manusia dan demokrasi di kawasan tersebut. (*)

























Discussion about this post