Jayapura, Jubi – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mengirim 250 putra dan putri asli daerah dari delapan kabupaten di wilayah itu untuk mengikuti bimbingan belajar atau bimbel selama dua bulan di Jayapura, Papua. Pelepasan ratusan anak asli Papua Tengah itu dilakukan, Sabtu (20/6/2026).
Program ini difasilitasi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Papua Tengah. Bimbel ini bertujuan mempersiapkan putra dan putri asli Papua Tengah itu untuk mengikuti tes masuk sekolah kedinasan nantinya.
Para peserta akan berangkat secara bertahap mulai Senin hingga Rabu (22-24 Juni 2026). Bimbingan belajar akan berlangsung mulai 25 Juni 2026 hingga 25 Agustus 2026.
Peserta bimbel di Jayapura nantinya dibagi dua kelompok, 125 orang mengikuti program di Papua Hope Language Institute (PHLI) dan 125 lainnya di Ruang Guru.
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Papua Tengah, dr. Silwanus Soemoel dalam sambutannya mewakili Gubernur Meki Nawipa S.H mengatakan, bimbel ini sebagai wujud nyata komitmen pemerintah daerah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia atau SDM di Papua Tengah, khususnya bagi anak-anak asli Papua yang akan mengikuti seleksi sekolah kedinasan.
Pemprov Papua Tengah berharap, para peserta dapat memanfaatkan bimbel itu dengan sungguh-sungguh. Sebab, para peserta ini diseleksi bukan hanya untuk belajar, juga menyiapkan diri menghadapi proses seleksi yang membutuhkan disiplin, kemampuan akademik, kesehatan fisik, dan mental yang kuat.
“Saya minta kepada seluruh peserta agar menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, dan Provinsi Papua Tengah. Ikuti seluruh proses pembelajaran dengan tertib, patuhi arahan pembimbing, jaga kesehatan, dan hindari hal-hal yang dapat mengganggu tujuan utama kalian,” ujarnya.
Menurut Soemoele, Pemprov Papua Tengah ingin semakin banyak putra-putri daerah yang masuk ke sekolah kedinasan.
Karenanya, program seperti ini harus menjadi langkah nyata untuk membuka akses pendidikan lebih baik, dan menyiapkan aparatur masa depan yang memahami kebutuhan daerahnya sendiri.
Para pendamping dan pembina, juga diharapkan dapat membimbing peserta secara serius. Memperhatikan perkembangan belajar, kedisiplinan, dan kesiapan mereka selama mengikuti bimbingan belajar.
“Keberhasilan program ini membutuhkan pengawasan dan kerja sama dari semua pihak. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ucapnya.
Katanya, seleksi sekolah kedinasan menuntut disiplin, kemampuan akademik, kesehatan fisik, dan mental yang kuat. Pemprov pun ingin makin banyak anak asli Papua Tengah yang lolos, agar kelak menjadi aparatur yang memahami kebutuhan wilayahnya sendiri.
Sementara itu, Kepala BKPSDM Denci Meri Nawipa, S.IP, MM menjelaskan materi yang disiapkan mencakup Tes Kompetensi Dasar (SKD), psikotes, latihan fisik, tryout berbasis sistem CAT, serta pemahaman wawasan kebangsaan dan karakteristik pribadi.
Katanya, seleksi yang dituju meliputi enam sekolah kedinasan, yaitu Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Politeknik Imigrasi, Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip), Sekolah Tinggi Meteorologi dan Geofisika (STMKG), dan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).
“Waktu ujian masih menunggu jadwal resmi dari Kementerian PAN-RB. Selama dua bulan ini kami harap peserta benar-benar fokus, tunjukkan bahwa anak asli Papua Tengah juga mampu bersaing dan lolos seleksi ketat ini,” kata Denci Meri Nawipa. (*)























Discussion about this post