• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Fenomena pelanggaran HAM di Tanah Papua

January 21, 2024
in Opini, Tanah Papua
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Admin - Editor: Timoteus Marten
HAM

Aksi protes kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM Papua di Jakarta beberapa waktu lalu - IST

0
SHARES
1.4k
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Florentinus Tebai*

Papua tanah damai yang diimpikan oleh berbagai pihak, termasuk orang asli Papua atau OAP, belum dicapai. Pertanyaannya adalah, mengapa orang asli Papua belum merasakan kedamaian, kebahagiaan, keadilan, dan kesejahteraan?

Pokok pertanyaan seperti ini menjadi pertanyaan paling penting bagi penulis. Tetapi juga bagi pembaca, dalam usaha menulis dan memahami persoalan OAP. Dan eksistensi orang asli Papua di tanah leluhurnya yang dikenal sebagai “Pulau Surga” tetapi kini berubah menjadi “Pulau Neraka” karena konflik dan pelanggaran HAM.

Berkaitan dengan fenomena penderitaan orang asli Papua pada masa kini, maka penulis melihat bahwa aktor utama atau penyebab pertama yang menyebabkan OAP masih hidup dalam kungkungan penderitaan, ketidakadilan, ketidaksejahteraan, ketidakbahagiaan di tanah leluhurnya adalah satu penyebab utama. Yakni integrasi atau aneksasi melalui Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) oleh pemerintah Indonesia atas orang asli Papua pada 1 Mei 1963. Sejak Papua bergabung dengan Republik Indonesia, 1 Mei 1963 pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil terjadi hingga saat ini atas orang asli Papua di Tanah Papua (Magai, 3: 2020).

Penulis hendak mengetengahkan bahwa fenomena konflik dan pelanggaran HAM di Tanah Papua itu tidak hanya dialami oleh OAP pada masa kini. Namun, fenomena penderitaan itu sudah dialami oleh OAP sejak 1963.

Fenomena penderitaan dan penyiksaan, pembunuhan, penangkapan, ketersingkiran, ketidakadilan dan fenomena penderitaan lainnya itu, juga masih dialami oleh orang asli Papua hingga saat ini.

Penulis hendak mengajak pembaca untuk melihat fenomena penderitaan yang dialami oleh orang asli Papua hari-hari terakhir ini. Kita sebut saja beberapa kasus penembakan yang terjadi di Wamena.

Penembakan oleh TNI/Polri terhadap sembilan warga sipil OAP. Kita juga ingat penembakan di Intan Jaya oleh TNI/Polri terhadap warga sipil, yakni Nopelius Sondegau, Yoakim Majau, dan Emeliana Duwitau. Mereka adalah korban penembakan pada operasi militer tahun 2019-2021 yang mengakibatkan konflik pelanggaran HAM. Dan pembunuhan secara brutal dan membabi buta terhadap rakyat sipil OAP dan anak-anak di bawah umur.

BERITATERKAIT

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

Papua Provincial Government Accelerates Infrastructure Repairs in Yapen Islands Regency

Pemenuhan SDM nakes merupakan kebutuhan mendesak di Papua Tengah

Pemprov Papua percepat penanganan infrastruktur di Kabupaten Kepulauan Yapen

Fenomena konflik pelanggaran HAM dan penderitaan OAP yang sudah terjadi maupun yang sedang terjadi ini, hemat penulis, disebabkan karena dua sebab. Pertama, orang asli Papua tidak menganeksasikan diri ke dalam bingkai NKRI atau menolak aneksasi ke dalam pemerintah Indonesia, sehingga menyebabkan berbagai konflik pelanggaran HAM.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Orang asli Papua tidak mengintegrasikan dirinya ke dalam bingkai NKRI, maka orang asli Papua mengambil sikap untuk menentukan sikap dan penentuan nasib sendiri bagi masanya. Sikap inilah yang menjadi titik temu pro-kontra antara pemerintah Indonesia dan orang asli Papua.

Yang kedua, adalah orang asli Papua tidak percaya penuh (full believe) kepada pemerintah Indonesia, sebab, dalam banyak hal tidak memberikan kebahagiaan dan kenyamanan dalam kehidupan orang asli Papua. Kita sebut saja di sini bahwa orang asli Papua, walaupun sudah diberikan Otonomi Khusus berjilid-Jilid, Jilid I-II, masih saja mengalami fenomena penderitaan dalam berbagai bidang dan segi kehidupan. Misalnya, dalam bidang ekonomi, kemiskinan masih dirasakan oleh orang asli Papua.

Dalam bidang kesehatan, fasilitas dan tenaga medis yang kurang memadai. Demikian juga dalam bidang lain seperti pendidikan. Hari ini wajah pendidikan di Papua semakin memburuk dan tidak berjalan secara efektif.

Hukum dan peraturan perundang-undangan NKRI yang tidak memihak kepada orang asli Papua di atas tanah Papua. Kita bisa lihat contoh terdekat yang dialami oleh Viktor Yeimo dan Lukas Enembe Gubernur Provinsi Papua.

Untuk menangani dan menyelesaikan konflik di Tanah Papua ini, maka ada beberapa upaya yang sudah dilakukan oleh berbagai lembaga kemanusiaan, misalnya, ULMWP, dialog dan rekonsiliasi sistem, alam, leluhur, dan manusia. Juga dengan Tuhan yang sudah diupayakan oleh Tim JDRP II yang didorong oleh Tuan Selpius Bobii.

Berkaitan dengan itu, akhir dari tulisan ini penulis juga memberikan dukungan positif dan humanis kepada lembaga-lembaga kemanusiaan yang sudah berjuang. Dalam hal inilah penulis mengajak juga kepada pembaca, terutama pihak NKRI, agar bisa mungkin membuka ruang dialog untuk menyelesaikan konflik pelanggaran HAM yang sudah dan sedang terjadi di atas tanah Papua ini.

Dialog dan rekonsiliasi itu mesti dimediasi dan ditangani oleh pihak ketiga yang netral, seperti PBB, dalam hal ini Dewan HAM PBB untuk menyelesaikan konflik pelanggaran HAM di Papua dan Duta Vatikan untuk Indonesia, dalam hal ini yang bekerja dalam bidang komisi Rekonsiliasi dan Perdamaian Dunia dan bangsa-bangsa yang berkedudukan di Negara Kepausan Roma-Vatikan. (*)

*) Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura, Papua, yang sedang mengikuti Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Salib Suci Madi-Paniai

Tags: HAMopiniPapua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Sarmi

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
dana abadi

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

May 23, 2026
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

May 23, 2026
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

May 23, 2026
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
ikan asar

Dapur ikan asar yang dikelola tiga generasi

May 21, 2026
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

0
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

0
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

0
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

0
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

0
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

0
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

0

English Stories

The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo
Pacnews

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papua National Liberation Army (TPNPB) in Yahukimo Claims Eight Suspected Security Officers Killed in Operation

May 21, 2026
KNPB
Pacnews

Yahukimo Police Release Arrested KNPB (West Papuan National Committee) Activist

May 21, 2026
Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026

Trending

  • Pesta Babi

    Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara