Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus, M.Kes, Sp.KKLP mengatakan, pemenuhan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan atau nakes, merupakan kebutuhan mendesak yang mesti segera dipenuhi di wilayah itu, guna mendukung visi-misi gubernur dan wakil gubernur Papua Tengah.
dr. Agus mengatakan, pemenuhan SDM ini menjadi mendesak mengingat lompatan besar infrastruktur yang sedang disiapkan sesuai visi misi dan program prioritas Gubernur Meki Nawipa, S.H dan Wakil Gubernur, Deinas Geley S.Sos yaitu pelayanan kesehatan bermutu, merata, berkeadilan serta berkelanjutan.
Pernyataan itu disampaikan dr. Agus dalam sambutannya saat pembukaan Workshop Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 di Nabire, Kabupaten Nabire, Rabu (20/5/2026).
Katanya, sebelum merumuskan langkah ke depan, perlu melihat potret nyata ketersediaan tenaga kesehatan di Provinsi Papua Tengah kini. Berdasarkan hasil pemantauan, harus diakui bahwa kondisi di lapangan masih jauh dari kata ideal.
Untuk layanan rujukan, dari delapan rumah sakit yang terdata di wilayah Papua Tengah, hanya tiga Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD yang memiliki kelengkapan tujuh jenis dokter spesialis utama, yaitu RSUD Nabire, RSUD Mimika, dan RSUD Paniai.
“Sementara itu, lima rumah sakit lainnya masih mengalami kekurangan tenaga spesialis, dengan total kebutuhan tambahan 27 orang dokter spesialis,” kata dr. Agus.
Kekurangan ini meliputi satu dokter spesialis anak, enam dokter spesialis bedah, tiga dokter spesialis obstetri dan
Ginekologi, tiga dokter spesialis penyakit dalam.
Lima dokter spesialis anestesiologi, enam dokter spesialis radiologi, dan empat dokter spesialis patologi klinik, dan satu dari delapan RSUD belum terakreditasi yaitu RSUD Kabupaten Deiyai.
Menurutnya, situasi layanan dasar juga menuntut perhatian serius. Seba, dari total 148 puskesmas di Provinsi Papua Tengah, baru 12 puskesmas atau sekitar 9,5 persen yang memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan secara lengkap. Sisanya, sebanyak 122 puskesmas atau 82,4 persen, masih belum memenuhi standar ketenagaan.
“Secara keseluruhan, kita masih kekurangan 447 tenaga kesehatan di puskesmas, yang terdiri atas 55 dokter umum, 115 dokter gigi, 1 perawat, 15 bidan, 32 tenaga promosi kesehatan, 65 tenaga sanitasi lingkungan, 74 tenaga gizi, 62 tenaga farmasi, dan 55 Ahli Teknologi
Laboratorium Medis (ATLM),” ucapnya.
dr. Agus mengatakan, kesenjangan yang sangat nyata antara kebutuhan dan ketersediaan ini menunjukkan betapa pentingnya upaya perencanaan SDM kesehatan yang berbasis data dan dilakukan secara sistematis.
Sebab, secanggih apa pun alat medis yang diturunkan, dan semegah apa pun
gedung rumah sakit yang dibangun, hanya akan menjadi monumen mati tanpa adanya SDM kesehatan yang kompeten untuk mengoperasikannya.
Katanya, kini Pemerintah Provinsi Papua Tengah mendapat dukungan penuh dari
Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia (Kemenkes RI) dalam mendesain dan membangun RSUD provinsi, yang kelak
akan menjadi pusat rujukan tertinggi sekaligus rumah sakit pendidikan serta RS Freeport.
“Di saat yang sama, kita juga terus melakukan penguatan terhadap RSUD tingkat kabupaten, baik melalui alokasi APBD Provinsi maupun sinergi dengan pemerintah pusat dan juga kabupaten,” ujarnya. (*)






















Discussion about this post