Jayapura, Jubi – Perbedaan dan keragaman di Tanah Papua adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh pihak manapun. Begitupula dengan keberadaan kehidupan beragama antara umat baik suku dan agama.
Pernyataan itu disampaikan dosen Sosiologi dan wakil dari Majelis Muslim Papua, Dr. La Muchtar Unu saat “Dialog Perdamaian dan Respon Ummat Beragama Terhadap Dinamika Kemanusiaan di Tanah Papua “ di Kota Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (17/9/2026).
“Oleh karena itu di tanah Papua yang beraneka ragam suku dan budaya termasuk keanekaragaman hayati merupakan anugerah serta keniscayaan yang tidak bisa dihindari bagi semua pihak,” kata Dr. La Muchtar Unu.
Menurutnya, keberagaman hayati, tak bisa langsung dirubah menjadi tanaman monokultur, karena akan menimbulkan bencana. Begitu pula dengan agama maupun kepercayaan.
“Sebab di Tanah Papua semua itu lahir karena ada rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang erat antar kekerabatan,” ucapnya.
Kata dosen yang lahir dan besar di Fakfak, Provinsi Papua Barat itu, rasa kekeluargaan antara agama menjadi simbol toleransi di masyarakat.
Misalnya di Fakfak, di sana masyarakat membangun Masjid Patimburak secara bersama oleh saudara pemeluk agama Kristen, Katolik dan Islam di Distrik Koka Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
“Pembangunan masjid ini mencerminkan keharmonisan hidup masyarakat Fakfak dengan falsafah adat “Satu Tungku Tiga Batu” simbol kebersamaan tiga agama: Islam, Protestan, dan Katolik,” ujarnya.
Selain itu lanjutnya, perayaan mandi Safar di Fakfak merupajan tradisi turun temurun yang dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar.
Saat mandi Safar, semua warga terlibat dan saling menyiram air, dengan melibatkan agama Islam maupun Kristen dalam toleransi yang tinggi.
Karenanya kata La Mochtar Unu, di Tanah Papua yang multikultur dengan keberagaman sebanyak 250 suku, jangan melihat itu sebagai ancaman. Sebab perbedaan tersebut adalah sebuah anugrah yang harus disyukuri termasuk menjaga kearifan lokal dan budaya.
Sementara itu dosen sejarah dari Universitas Cenderawasih, Dr. Bernarda Meteray mengakui konflik di Tanah Papua terus meningkat dan tidak pernah selesai.
Ia meminjam pendapat fisikawan dunia, Dr. Alberth Eisntein yang mengatakan bahwa kedamaian tidak dapat dijaga dengan kekerasan.
“Hal itu hanya dapat dicapai dengan pemahaman. Sebenarnya kekerasan hanya menunda masalah. Menindak dengan kekuatan militer hanya meredam konflik untuk menghilangkannya,” kata Bernarda Meteray.
Katanya, pentingnya empati dan dialog untuk bisa memberikan pemahaman berarti. Duduk bersama mendengarkan pihak lain dan mencari tahu akar masalah.
Namun, Dr. Bernarda Meteray mengutip pernyataan anggota DPD RI dari daerah pemilihan Papua Tengah, Yorrys Raweyai dalam diskusi buku Thom Beanal, bahwa sampai saat ini Presiden Prabowo Subiyanto belum membuka pintu untuk dialog.
“Sementara pernyataan Presiden Jokowi sebelum yang diberitakan media menyebutkan bahwa kunjungannya beberapa kali ke Papua sudah termasuk dialog,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perdamaian adalah proses aktif dan bukan sekadar kondisi tidak ada perang. Melainkan usaha aktif untuk membangun keadilan, toleransi dan rasa saling menghormati antar manusia.
Hal senada juga dikatakan Pastor Yanuarius Pududwiyai Douw, Pr bahwa membangun perdamaian atau pun pembangunan model apa pun di Tanah Papua harus memegang prinsip kemanusiaan di atas segala galanya.
“Untuk itu mari kita terus membangun dialog secara bersama termasuk dengan pihak TPN OPM maupun pemerintah dan TNI Polri di Tanah Papua,” ucap Pastor Yanuarius Pududwiyai Douw
Ia mengapreasi Majelis Muslim Papua dan Aliansi Demokrasi Papua (ALDP) yang telah melakukan diskusi sehari ini dengan melibatkan berbagai stake holder termasuk pihak TNI, Polri serta pemerintah.
Sementara itu, Direktris Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP), Latifa Anum Siregar mengatakan bahwa sekarang ini bukan hanya membicarakan ‘Papua Merdeka’. Akan tetapi bicara Otsus saja menjadi masalah.
“Bicara lingkungan maupun tanah adat juga menjadi masalah, oleh karena itu harus ada lingkungan untuk saling berdialog sehingga jangan sampai saling mencurigai,” kata Latifah Anum Siregar. (*)




Discussion about this post