• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Mamta

Perbedaan dan keragaman, keniscayaan yang tidak bisa dihindari di Tanah Papua

September 17, 2026
in Mamta
Reading Time: 2 mins read
0
Penulis: Dominggus A Mampioper - Editor: Arjuna Pademme
Perbedaan dan keragaman di Tanah Papua

Para narasumber dan moderator, dari kiri ke kanan Dr La Mochtar Unu, Dr Bernada Meteray sejarahan Uncen, Pastor YP Douw Pr dan moderator Mulyadi dari Majelis Muslim Papua- Jubi/Dominggus A Mampioper

0
SHARES
24
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Perbedaan dan keragaman di Tanah Papua adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh pihak manapun. Begitupula dengan keberadaan kehidupan beragama antara umat baik suku dan agama.

Pernyataan itu disampaikan dosen Sosiologi dan wakil dari Majelis Muslim Papua, Dr. La Muchtar Unu saat “Dialog Perdamaian dan Respon Ummat Beragama Terhadap Dinamika Kemanusiaan di Tanah Papua “ di Kota Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (17/9/2026).

“Oleh karena itu di tanah Papua yang beraneka ragam suku dan budaya termasuk keanekaragaman hayati merupakan anugerah serta keniscayaan yang tidak bisa dihindari bagi semua pihak,” kata Dr. La Muchtar Unu.

Menurutnya, keberagaman hayati, tak bisa langsung dirubah menjadi tanaman monokultur, karena akan menimbulkan bencana. Begitu pula dengan agama maupun kepercayaan.

“Sebab di Tanah Papua semua itu lahir karena ada rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang erat antar kekerabatan,” ucapnya.

Kata dosen yang lahir dan besar di Fakfak, Provinsi Papua Barat itu, rasa kekeluargaan antara agama menjadi simbol toleransi di masyarakat.

Misalnya di Fakfak, di sana masyarakat membangun Masjid Patimburak secara bersama oleh saudara pemeluk agama Kristen, Katolik dan Islam di Distrik Koka Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

BERITATERKAIT

Amnesty Internasional Indonesia: Hentikan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua

HONAI menyerukan pembukaan akses kemanusiaan ke Tanah Papua

HONAI hadir untuk perdamaian dan kemanusiaan di Tanah Papua

Korneles Howay harapan baru sepak bola Tanah Papua

“Pembangunan masjid ini mencerminkan keharmonisan hidup masyarakat Fakfak dengan falsafah adat “Satu Tungku Tiga Batu” simbol kebersamaan tiga agama: Islam, Protestan, dan Katolik,” ujarnya.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Selain itu lanjutnya, perayaan mandi Safar di Fakfak merupajan tradisi turun temurun yang dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar.

Saat mandi Safar, semua warga terlibat dan saling menyiram air, dengan melibatkan agama Islam maupun Kristen dalam toleransi yang tinggi.

Karenanya kata La Mochtar Unu, di Tanah Papua yang multikultur dengan keberagaman sebanyak 250 suku, jangan melihat itu sebagai ancaman. Sebab perbedaan tersebut adalah sebuah anugrah yang harus disyukuri termasuk menjaga kearifan lokal dan budaya.

Sementara itu dosen sejarah dari Universitas Cenderawasih, Dr. Bernarda Meteray mengakui konflik di Tanah Papua terus meningkat dan tidak pernah selesai.

Ia meminjam pendapat fisikawan dunia, Dr. Alberth Eisntein yang mengatakan bahwa kedamaian tidak dapat dijaga dengan kekerasan.

“Hal itu hanya dapat dicapai dengan pemahaman. Sebenarnya kekerasan hanya menunda masalah. Menindak dengan kekuatan militer hanya meredam konflik untuk menghilangkannya,” kata Bernarda Meteray.

Katanya, pentingnya empati dan dialog untuk bisa memberikan pemahaman berarti. Duduk bersama mendengarkan pihak lain dan mencari tahu akar masalah.

Namun, Dr. Bernarda Meteray mengutip pernyataan anggota DPD RI dari daerah pemilihan Papua Tengah, Yorrys Raweyai dalam diskusi buku Thom Beanal, bahwa sampai saat ini Presiden Prabowo Subiyanto belum membuka pintu untuk dialog.

“Sementara pernyataan Presiden Jokowi sebelum yang diberitakan media menyebutkan bahwa kunjungannya beberapa kali ke Papua sudah termasuk dialog,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perdamaian adalah proses aktif dan bukan sekadar kondisi tidak ada perang. Melainkan usaha aktif untuk membangun keadilan, toleransi dan rasa saling menghormati antar manusia.

Hal senada juga dikatakan Pastor Yanuarius Pududwiyai Douw, Pr bahwa membangun perdamaian atau pun pembangunan model apa pun di Tanah Papua harus memegang prinsip kemanusiaan di atas segala galanya.

“Untuk itu mari kita terus membangun dialog secara bersama termasuk dengan pihak TPN OPM maupun pemerintah dan TNI Polri di Tanah Papua,” ucap Pastor Yanuarius Pududwiyai Douw

Ia mengapreasi Majelis Muslim Papua dan Aliansi Demokrasi Papua (ALDP) yang telah melakukan diskusi sehari ini dengan melibatkan berbagai stake holder termasuk pihak TNI, Polri serta pemerintah.

Sementara itu, Direktris Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP), Latifa Anum Siregar mengatakan bahwa sekarang ini bukan hanya membicarakan ‘Papua Merdeka’. Akan tetapi bicara Otsus saja menjadi masalah.

“Bicara lingkungan maupun tanah adat juga menjadi masalah, oleh karena itu harus ada lingkungan untuk saling berdialog sehingga jangan sampai saling mencurigai,” kata Latifah Anum Siregar. (*)

Continue Reading
Tags: KeniscayaanKeragamanPerbedaanTanah Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Hentikan pembununah warga sipil

Amnesty Internasional Indonesia: Hentikan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua

September 17, 2026
Launching HONAI

HONAI menyerukan pembukaan akses kemanusiaan ke Tanah Papua

September 15, 2026
HONAI

HONAI hadir untuk perdamaian dan kemanusiaan di Tanah Papua

September 15, 2026

Korneles Howay harapan baru sepak bola Tanah Papua

September 14, 2026

PGI: Hentikan kekerasan di Tanah Papua dan gelar dialog kemanusiaan

September 12, 2026

109 orang menjadi korban kekerasan dan konflik bersenjata di Tanah Papua

September 12, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara