Jayapura, Jubi – HONAI (Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative) yang dibentuk berbagai denominasi gereja di Tanah Papua, hadir untuk perdamaian dan kemanusiaan di Bumi Cenderawasih.
Pembentukan HONAI ini sebagai wujud komitmen berkelanjutan dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, pemenuhan pelayanan dasar, dan pemberdayaan masyarakat marginal di wilayah Tanah Papua.
Launching HONAI Rumah Bersama dilaksanakan di gedung Graha SARA Kantor Sinode GKI Di Tanah Papua, di Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, Selasa (15/9/2026).
Ketua dan salah satu pendiri HONAI, Pdt. Andrikus Mofu mengatakan, gagasan membentuk HONAI diawali dalam pertemuan pada 3-4 Desember 2025.
“Pada pertemuan selanjutnya, saya diminta menjadi Ketua HONAI dan untuk kerja kemanusiaan tidak ada rasa keraguan,” kata Pdt. Andrikus Mofu saat launching.
Menurut Ketua Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua itu, pihaknya bersama semua gereja-gereja di Tanah Papua sebagai pendiri, bersepakat berada bersama dalam HONAI, sebagai rumah keadilan.
“HONAI dan kita semua bekerja untuk kemanusiaan. Saya minta semua pihak agar melihat kerja-kerja kita secara positif. Hari ini di Tanah Papua di mana-mana ada pengungsian, ada jeritan tangis, ada kematian, ada linangan air mata dan darah,” ucapnya.
Pdt. Andrikus Mofu pun meminta semua pihak mendukung keberadaan HONAI dan apa yang dikerjakan.
“Mari kita semua mendukung kerja HONAI ini agar apa yang kita launching hari ini akan bermanfaat, berguna bagi kemanusiaan. Bagi mereka yang berpikiran lain, saya mau katakan mereka tidak punya hati nurani,” ujarnya.
Ia pun berterimakasih atas dukungan dan motivasi dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) (Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), GUSDURian, organisasi yang terinspirasi oleh nilai, pemikiran, serta perjuangan almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang hadir dalam launching itu, serta semua pihak yang akan bersama bekerja dalam HONAI.
Sementara itu, Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You mengatakan, bagi orang asli Papua, khususnya di wilayah pegunungan, Honai adalah jantung kehidupan.
Honai tempat mengajarkan tentang kehidupan bagi generasi muda, tempat membicarakan masalah dan mempersatukan semangat persaudaraan.
“Api selalu menyala di dalam honai. HONAI bersama ini ada untuk membicarakan masalah- masalah kemanusiaan di Tanah Papua yang begitu lama dan panjang,” kata Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You.
Katanya, HONAI hadir bukan hanya membicarakan hal ringan. Akan tetapi krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Tanah Papua, luka yang terus ada, pengungsian yang belum usai, hutan yang gundul, sungai yang tercamar dan berbagai masalah lain.
Menurutnya, berbagai hal itu merupakan memoria passionis yang tidak boleh dilupakan. Sebab, jika dilupakan hanya akan menambah luka mereka yang mendirita.
“Kita harus bangkit, bersatu dan bergerak. Tidak boleh diam ditengah penderitaan umat Tuhan,” ucapnya.
Uskup Matopai You mengatakan, gereja hadir untuk memperjuangkan kemanusiaan, berani berkata benar, menegur ketidak adilan dan berani membela keadilan, karena tanpa keadilan tidak ada damai sejahtara.
Katanya, tugas gereja adalah menciptakan perdamaian, kasih dan persaudaraan. Gereja adalah rumah bagi semua orang tanpa memandang suku, ras dan agama, serta gereja tidak memihak kekuasaan.
“Membangun Papua Tanah Damai bukan hanya tugas gereja. Akan tetapi tugas bersama. Pemerintah, masyarakat, TNI, Polri, TPNPB dan semua pihak,” ujarnya.
Karenanya lanjut Uskup Jayapura, gereja di Tanah Papua mesti bersatu. Jangan lagi ada ‘Yudas’ ditengah-tengah gereja.
“Marilah kita berdoa dan bekerja. Mari kita bergandengan Tanah perbedaan pendapat tidak boleh memisahkan kita. HONAI menjadi rumah bersama semua orang. Menjadi jembatan yang menghubungkan kita semua dalam persaudaraan yang sejati. Semua Tuhan Yang Mahakuasa menyertai langkah dan niat kita. Untuk kita, untuk Papua dan untuk generasi mendatang,” kata Uskup Matopai You.
Pihak PGI dan KWI pun menyatakan dukungan terhadap hadirnya HONAI. Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Dharmawan mengatakan karena hati pimpinan dan gereja bersatu di bawah HONAI untuk menyuarakan apa yang menjadi isi hati masyarakat Tanah Papua.
“Kita tidak bisa mewartakan cinta dan keadilan apabila kita tidak bersatu. Kita membangun HONAI agar kasih Tuhan, pertolongan Tuhan, keadilan Tuhan dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” kata Pdt. Darwin Dharmawan.
Ia mengajak semu pihak merawat dan membesarkan HONAI, agar Indonesia belajar tentang cinta, kasih dan persatuan dari HONAI. Karenanya, PGI dan KWI juga akan menyatukan hati bersama HONAI.
“Ada banyak yang menyatakan cintai Papua tapi hanya Gusdur yang merebut hati orang Papua dan banyak yang percaya Gusdur memiliki hati tulus untuk Papua dan penerus Gusdur, GUSDURian ikut hadir dalam launching ini,” ucapnya.
Launching HONAI Rumah bersama ini juga dihadiri pengurus wilayah Muhammadiyah, pengurus Majelis Ulamah Indonesia (MUI) Papua, para aktivis kemanusiaan dan gereja-gereja di Tanah Papua. (*)























Discussion about this post