Jayapura, Jubi – Para pengunjung di Taman Nasional Papua Nugini di Port Moresby baru saja dikejutkan dengan tewasnya seorang pawang buaya saat memberi makan seekor ayam ke mulut buaya. Akibatnya, buaya berumur 48 tahun ditembak mati. Sang pawang meninggal di RS Pusat Port Moresby, Minggu 6 September 2026.
Pakar buaya, Scott Frazier yang pernah meneliti jenis buaya di Tanah Papua dengan Conservation International Indonesia (CII) Waktu itu kepada Jubi mengatakan, di Pulau Papua buaya yang dikenal secara umum, yaitu buaya air tawar (endemik) dan buaya muara (air asin), serta buaya sahul di Provinsi Papua Selatan.
Buaya sahul ini, dikenal pula sebagai buaya muara air asin atau estuaria, yang berukuran sangat besar (bisa mencapai 7 meter). Hidup di wilayah pesisir, muara sungai, dan laut.
Scott Frazier sebagai salah satu kontributor ahli dalam penyusunan buku sains komprehensif jilid besar “The Ecology of Papua” (Seri Ekologi Indonesia) menjelaskan bahwa buaya Irian (Crocodylus novaeguineae) merupakan buaya air tawar endemik.
Ukurannya lebih kecil dari buaya muara, berwarna kulit lebih gelap, serta hidup di sungai, rawa, dan danau di bagian utara Pegunungan Jayawijaya.
Selain itu menurut, Prof Dr Ronald Petocz penulis buku “Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya”, dua jenis buaya endemik Papua adalah buaya pantai atau muara sungai (Crocodylus porosus) dan buaya Irian atau Nieuw Guinea (Buaya Air Tawar (Crocodylus novaeguineae / siamensis).
Buaya muara lebih besar dari buaya air tawar, buaya muara (Crocodylus porosus) termasuk reptil terbesar di bumi yang panjangnya bisa mencapai 5–7 meter dengan bobot lebih dari 1 ton.
Karakter mereka sangat agresif, dominan, dan memiliki kekuatan rahang yang luar biasa.
Buaya muara sepanjang delapan meter yang menerkam dan membunuh pawang buaya di Taman Nasional Port Moresby di PNG.
Buaya itu akhirnya ditembak mati pada Sabtu, 5 September 2026 sedangkan pawang buaya meninggal pada 6 September di rumah sakit PNG.
Sedangkan buaya air tawar, ukurannya jauh lebih kecil, umumnya hanya berkisar antara 1,5–2,5 meter dengan moncong ramping.
Karakter mereka cenderung lebih tenang dan pemalu. Karena ketimpangan ukuran ini, buaya air tawar sangat mudah didominasi dan dijadikan mangsa oleh buaya muara yang jauh lebih besar.
Di sungai Mamberamo, dihuni oleh dua jenis buaya utama, yaitu buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar Irian (Crocodylus novaeguineae).
Di era 1980 hingga awal 2000an di Kawasan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Papua terdapat penangkaran buaya milik perusahaan swasta.
Anakan buaya di penangkaran itu diambil dari Sungai Mamberamo, terutama buaya air tawar. Namun warga mengeluh karena makanan buaya berupa ikan berbau anyir, sehingga akhirnya penangkaran itu ditutup.
Suku Bauzi di Kabupaten Mamberamo Raya melihat kedua jenis buaya ini berperan penting dalam ekosistem. Tetapi mereka juga manfaatkan secara tradisional sebagai sumber protein dan nilai ekonomi.
Bahkan dulu perusahaan penangkar buaya pernah menjual daging buaya dan dendeng buaya di Kota Jayapura.
Buaya air tawar yang mendiami Papua Nugini, yang kini dikenal sebagai Crocodylus novaeguineae menunjukkan perbedaan morfologis, molekuler, dan ekologis antara lereng utara dan selatan. Dataran tinggi tengah dan menempati jalur evolusi yang terpisah.
Sejumlah besar penelitian telah lama mendorong deskripsi formal buaya Papua Nugini dari lereng selatan dataran tinggi, sebagai garis keturunan yang berbeda dengan taksonomi yang mencerminkan hubungan yang telah didiagnosis.
Peneliti menggunakan teknik morfometrik geometris untuk menilai variasi bentuk tengkorak antara spesimen dari kedua lereng dan menambah bukti diagnostik yang mendukung taksonomi yang lebih akurat.
Secara formal mendeskripsikan varian selatan sebagai garis keturunan yang berbeda (Buaya Papua Nugini Hall; Crocodylus halli , spesies baru).
Buaya Papua Nugini ( Crocodylus novaeguineae ) adalah spesies buaya air tawar endemik di pulau Papua Nugini di Oseania utara. Spesies ini mendiami negara Papua Nugini di timur dan Papua Barat Indonesia.
Crocodylus novaeguineae ditemukan di sisi utara dan selatan Dataran Tinggi Tengah, yang membentang dari timur ke barat membagi seluruh pulau menjadi dua bagian, utara dan selatan.
Seperti kebanyakan buaya, C novaeguineae mendiami berbagai rawa berumput dan berhutan di daerah air tawar dataran rendah dan telah mempertahankan signifikansi budaya dan ekonomi di wilayah tersebut selama berabad-abad.
Korban-korban buaya di Tanah Papua
Buaya muara di Kali Tami, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, dekat perbatasan Indonesia dan PNG memangsa WNA asal PNG bernama David (21 tahun) di pada Sungai Tami hingga tewas pada Selasa, 10 Februari 2026, sekitar pukul 11.00 WIT.
Setahun lalu, seorang nenek berusia 70 tahun, Yustina Kairo diterkam buaya di Distrik Amar, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Jenazahnya ditemukan warga pada Senin (10/2/2025).
Insiden itu menandai masih kerapnya peristiwa serangan buaya terhadap warga Kabupaten Mimika yang beraktivitas di daerah aliran sungai.
Nenek berusia 70 tahun itu pergi bersama 20 warga lainnya pergi ke Sungai Anyar untuk mencari kepiting di pinggir sungai, Pada Sabtu (8/2/2025). Nenek itu diterkam buaya dan hilang, hingga jenazahnya ditemukan mengambang pada Senin (10/2/2025).
Kasus serangan buaya telah beberapa kali terjadi di berbagai daerah aliran sungai di Kabupaten Mimika.
Pada 30 Oktober 2022, seorang warga bernama Darwis La Daima (27) hilang di Sungai Amar. Jenazahnya ditemukan dan dievakuasi Tim Siaga SAR Timika pada 15 Januari 2023.
Pada 15 November 2023, serangan buaya terjadi di Kali Pece Lama, Distrik Jita, Mimika. Korbannya seorang perempuan, Marlina Onawame (19). Onawame dilaporkan hilang saat memancing ikan di Kali Pece Lama.
Pada 20 Januari 2022, seorang warga dari Kampung Ayuka, Distrik Mimika Timur, diterkam buaya. Jenazahnya ditemukan di Sungai Ayuka setelah warga membunuh buaya sepanjang 7 meter.
Selain itu pada 2018 penangkaran buaya milik perusahaan swasta di SP 1, Kabupaten Sorong, Senin (16/07/2018), setelah terjadi pembunuhan terhadap 292 buaya karena warga mengamuk ada seorang warga tewas diterkam buaya.
Karena warga menilai pemilik perusahaan lalai melindungi warga sehingga mereka melakukan aksi balas dendam membunuh buaya buaya itu. (*)
























Discussion about this post