Jayapura, Jubi – HONAI (Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative) West Papua Humanitarian Crisis Centre menyerukan kepada Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah membuka akses kemanusiaan seluas-luasnya, menjamin perlindungan bagi pekerja kemanusiaan, dan menempatkan dialog kemanusiaan sebagai jalan utama dalam penyelesaian konflik bersenjata di Tanah Papua.
Seruan ini disampaikan Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th saat konferensi pers bersama para pendiri HONAI dari denominasi gereja-gereja di Tanah Papua, dan mitra, usai launching HONAI Rumah Bersama di Gedung Graha SARA Kantor Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua, di Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Selasa (15/9/2026).
Kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik di Tanah Papua, HONAI menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil, penghormatan terhadap hukum humaniter, serta pemberian ruang yang aman bagi pelayanan kemanusiaan.
“Kepada media lokal, regional, nasional dan internasional, HONAI mengajak untuk memberitakan situasi Papua secara berimbang, mendalam, dan berperspektif kemanusiaan,” kata Pdt. Andrikus Mofu.
Katanya, HONAI juga mengajak seluruh rakyat Indonesia, gereja-gereja, masyarakat sipil, lembaga kemanusiaan, dan komunitas internasional untuk membangun solidaritas nyata.
Sebab menurutnya, pemulihan Papua harus dimulai dengan memulihkan manusianya. Melindungi kehidupan, mendengarkan suara korban, merawat mereka yang terluka, dan memastikan pengungsi dapat menjalani kehidupan yang aman dan bermartabat.
Ketua Sinode GKI Di Tanah Papua itu mengatakan, dalam semangat HONAI sebagai Rumah Bersama, pihaknya percaya selalu harus tersedia ruang perlindungan bagi mereka yang kehilangan rasa aman.
Ruang untuk didengar bagi mereka yang suaranya terabaikan, ruang pemulihan bagi mereka yang terluka, dan jembatan perjumpaan bagi aemua yang sungguh-sungguh ingin membangun perdamaian.
Katanya, di tengah krisis kemanusiaan berkepanjangan akibat konflik
bersenjata di berbagai wilayah Tanah Papua, gereja-gereja meneguhkan komitmen bersama melalui HONAI sebagai wadah bersama untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan, khususnya bagi pengungsi internal (Internally Displaced Persons/IDPs), penyintas, dan masyarakat sipil yang terdampak konflik.
“HONAI lahir dari kesadaran bahwa di balik setiap angka korban dan pengungsi terdapat manusia dan keluarga yang menghadapi ketakutan, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, keterbatasan akses terhadap kesehatan dan pendidikan, serta luka sosial, budaya, dan psikologis yang mendalam,” ucapnya.
Karena itu lanjut Pdt. Mofu, penderitaan manusia di Tanah Papua akibat kekerasan bersenjata tidak boleh dianggap sebagai keadaan yang biasa atau normal, dan tidak boleh dibiarkan menjadi sekadar angka dan statistik.
Berakar pada panggilan iman gereja untuk menjaga kehidupan dan melindungi martabat manusia, HONAI memandang pelayanan kepada mereka yang lapar, haus, kehilangan tempat berlindung, terluka, dan hidup dalam ketakutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesaksian iman.
Melindungi kehidupan, merawat yang terluka, menerima mereka yang
kehilangan tempat berlindung, serta memulihkan martabat manusia adalah tindakan iman, pastoral, dan berteologi.
Sebagai rumah bersama kemanusiaan.
HONAI bekerja berdasarkan prinsip netralitas dan kemanusiaan, keadilan sosial, solidaritas dan soliditas kemanusiaan, pemberdayaan berbasis masyarakat lokal, serta koordinasi dan sinergi.
HONAI melayani masyarakat
terdampak tanpa membedakan suku, agama, maupun posisi politik, karena setiap manusia memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan dan menjalani kehidupan yang bermartabat.
Kerja bersama HONAI diarahkan pada perlindungan pengungsi dan pemenuhan kebutuhan dasar; dukungan psikososial dan ruang aman bagi penyintas, terutama perempuan, anak-anak dan kelompok rentan; konsolidasi data kemanusiaan yang faktual dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penguatan kolaborasi dengan pemerintah, lembaga keagamaan, masyarakat sipil dan mitra internasional, pemberdayaan sosial-ekonomi pengungsi tanpa mengabaikan masyarakat lokal, serta mobilisasi sumber daya untuk memastikan keberlanjutan pelayanan kemanusiaan.
“HONAI Rumah Bersama untuk Kemanusiaan, Martabat, Pemulihan, dan Perdamaian di Tanah Papua,” ujar Pdt. Andrikus (*)





















Discussion about this post