• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Seniman biola Papua di ruang publik

Sudah sekitar dua tahun Filemon kerap diminta bermain biola oleh pengelola Ramayana. Sebelumnya, ia berpindah-pindah lokasi, termasuk di lampu merah Abepura.

March 11, 2026
in Indepth Story
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Syofiardi Bachyul Jb
biola papua

Filemon Ondoafo menyuguhkan permainan biolanya di teras Ramayana. – Jubi/Sudjarwo

0
SHARES
361
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Suara merdu dawai biola Billy Nebore memecah suasana ruang tunggu keberangkat Bandara Internasional Sentani, di antara deru mesin pesawat, suara pengumuman, dan obrolan para penumpang yang sedang menunggu keberangkatan. Terpisah 19 kilometer di timur, Filemon Ondoafo juga melakukan hal serupa di teras Ramayana, Kotaraja.

Keduanya adalah seniman OAP (Orang Asli Papua) yang memilih ruang publik sebagai panggung. Mereka adalah orang-orang yang berjuang menjalani hidup lewat talenta bermusik dengan latar belakang kehidupan yang berbeda, dan keinginan besar untuk mengenalkan alat musik biola kepada anak-anak Papua.

​Melawan depresi

Billy Nebore, 28 tahun, belajar memainkan biola secara otodidak sejak 2015, dan mulai menekuninya pada 2018. Keahliannya terus berkembang setelah mengenal beberapa orang yang mau bertukar ilmu. Ia mengaku tidak mudah mendalami musik biola, butuh waktu hingga tiga bulan untuk menguasai nada.

​”Biola pertama saya dapat dari seorang rekan di Jakarta. Dari situ saya belajar sendiri secara otodidak. Ada juga seorang misionaris dari Korea Selatan yang memberi saya beberapa teknik dasar,” kata Billy kepada Jubi, Senin (9/3/2026).

​Billy sempat mengecap pendidikan musik di Jakarta, tempat ia bertemu dengan kawannya yang sudah seperti saudara sendiri, Filemon Ondoafo. Namun, kehidupan di ibu kota tidak selalu ramah. Ada pengalaman tak mengenakkan yang memutuskannya pulang ke Jayapura.

Sekembali dari Jakarta, ia melanjutkan pendidikan dan meraih gelar S1 dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) di Doyo, Kabupaten Jayapura.

biola papua

BERITATERKAIT

Penumpang di Bandara Sentani meningkat 3,3 persen selama periode Lebaran

Lonjakan penumpang di Bandara Sentani diperkirakan terjadi pekan depan

Trafik penumpang di Bandara Sentani meningkat pada akhir 2025

Jelang Nataru: Penumpang yang berangkat dari Bandara Sentani berkurang

​Biola ibarat penyelamat bagi kehidupan Billy dari masa kelam. Keputusannya bermain musik di jalanan bukan bermula dari rencana besar, melainkan dari titik terendah dalam hidupnya. Pada awal pandemi Covid-19, sekitar 2019 hingga 2020, Billy mengalami depresi.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

​”Saat itu saya sedang stres dan depresi karena susah mencari kerja. Saya sudah kirim lamaran ke mana-mana, termasuk kementerian di Jakarta, namun tidak memiliki ongkos untuk berangkat mengikuti seleksi,” katanya.

Hingga kemudian, ia terinspirasi oleh tayangan video musisi jalanan di Amerika Serikat melalui YouTube. Muncul keinginan untuk membawa konsep serupa ke Jayapura. Ia ingin menyuguhkan musik yang berkualitas, membawakan lagu-lagu populer agar masyarakat bisa menikmati sesuatu yang baru.

​”Saya tidak mau seperti kebanyakan pengamen yang terkadang memaksa orang atau menghibur dengan nada yang fals. Saya ingin menyuguhkan musik yang berkualitas,” ujarnya.

​Setelah pandemi mereda pada 2021, Billy mulai tampil di Ramayana, kemudian merambah ke area Bandara Sentani. Di bandara, kehadirannya menarik perhatian banyak orang, termasuk para pilot MAF (Mission Aviation Fellowship).

​”Biasa mereka kasih sawer. Mereka bilang nanti kalau ada ibadah-ibadah atau apa, ikut. Dari situ kenalan, dan mereka bilang coba lobi untuk main di boarding gate bandara, lalu kemudian saya mendapatkan akses untuk main di bandara,” katanya.

​Kini, Billy rutin setiap hari bermain di bandara. Meski ada yang memandangnya sebelah mata, ia tetap bersyukur karena banyak orang yang tertarik melihat anak Papua bisa memainkan biola dengan mahir. Ia bahkan sering diundang oleh tokoh-tokoh penting untuk mengisi acara privat maupun publik, dan melanglang buana ke sejumlah daerah.

Hasil dari bermain musik juga ia gunakan untuk membantu keluarga, termasuk membiayai adik bungsunya yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi pendeta.

​”Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Dari penghasilan saya ini bisa ikut membantu ekonomi keluarga, termasuk membiayai sekolah adik bungsu saya,” katanya.

biola papua
Billy Nebore sedang memainkan biolanya. – Dok Billy Violin

​Mengajar sambil mengamen

​Serupa dengan Billy, Filemon Ondoafo juga punya impian besar di balik gesekan dawai biolanya di teras Ramayana. Pria berusia 33 tahun ini sehari-hari seorang guru honorer di SMA Negeri 1 Lereh. Namun, di kala waktu libur atau saat ada kesempatan senggang, ia memilih berada di tengah masyarakat dengan biolanya.

​Filemon mulai belajar biola pada usia 27 tahun, usia yang dianggap cukup terlambat bagi sebagian orang. Namun ia membuktikan bahwa dengan konsistensi bisa mendatangkan hasil. Filemon mengawali bermain biola bersama Billy Nebore ketika berada di Jakarta.

​”Kami sama-sama kuliah di Jakarta, kebetulan basic kami memang sekolah musik di sana. Waktu itu saya mencoba tiup trompet dan saksofon tapi tidak bisa. Lalu dia bawa biola, saya coba-coba main, ternyata ‘dapat’ feeling-nya di biola. Akhirnya saya tekuni biola sampai pulang ke Jayapura,” kata Filemon.

​Sudah sekitar dua tahun Filemon kerap diminta bermain biola oleh pengelola Ramayana. Sebelumnya, ia berpindah-pindah lokasi, termasuk di lampu merah Abepura.

​Tampil di ruang publik seringkali mengundang pandangan skeptis. Filemon sadar bahwa banyak orang yang mengira ia hanya sedang mengamen mencari recehan. Namun, baginya ada sesuatu yang jauh lebih berharga ketimbang uang yang masuk ke dalam wadah kartonnya.

​”Banyak orang merasa risih ketika saya main biola di jalanan sambil menaruh karton. Tapi yang ingin saya tunjukkan bukan soal ‘mengamennya’. Saya ingin menunjukkan bahwa kita orang Papua juga bisa main biola. Supaya anak-anak Papua lihat bahwa kita punya kemampuan itu,” ujar Filemon.

Sebagai seorang guru, Filemon memiliki impian untuk mendirikan ‘Rumah Musik’ di daerah Lereh, Kabupaten Jayapura, tempatnya mengajar. Ia melihat banyak bakat terpendam pada murid-muridnya, namun terkendala oleh ketiadaan alat musik.

​”Saya sebenarnya sangat memerlukan alat musik. Kalau pemerintah bisa sediakan alat, itu lebih bagus lagi untuk saya mengajar. Di Lereh, saya ingin sekali buka ‘Rumah Musik’. Jadi anak-anak yang mau belajar keyboard atau biola bisa datang ke saya. Kalau alatnya ada, saya pasti sudah ajar mereka dari dulu,” katanya.

​Saat ini, ia hanya bisa mengajar dengan peralatan seadanya di rumah. Ia sering mengajak murid-muridnya untuk datang ke rumah jika ingin belajar musik di waktu kosong. Dukungan dari pengelola Ramayana Jayapura yang sering menghubunginya untuk mengisi kegiatan juga menjadi penyemangat tersendiri baginya untuk tetap eksis di jalanan.

​Menciptakan ruang kreatif

​Fenomena musisi biola di ruang publik ini mendapat perhatian dari Stephen Wally, musisi asal Papua sekaligus pentolan grup Nogei. Stephen melihat aksi Billy dan Filemon sebagai sebuah langkah yang patut diacungi jempol.

biola papua
Stephen Wally (kanan) bersama Michael Jakarimilena. –Dok Stephen Wally

​”Saya pikir ini fenomena yang positif karena generasi muda Papua mau membuka dan mengembangkan diri dengan menciptakan ruang kreatif di ruang publik. Dengan ‘ngamen’ di pusat keramaian, menciptakan exposure mengingat minimnya ruang ekspresi yang diciptakan oleh penyelenggara seni khususnya di Papua,” ujar Stephen.

​Menurutnya, apa yang dilakukan para pemuda ini adalah bentuk aktualisasi diri untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Ia menyoroti bahwa akses adalah kunci dari modernitas, termasuk akses pada pekerjaan dan ekspresi diri.

​”Menurut saya aktualisasi dan apresiasi terhadap produk seni perlu mendapat pengakuan publik. Saya rasa salah satu wujud modernitas adalah mudahnya akses. Akses pada pekerjaan dan hidup yang lebih layak. Akses pada aktualisasi diri dan akses pada ekspresi,” katanya.

Kendati begitu, Stephen juga mengakui bahwa tantangan bagi musisi muda Papua cukup besar, mulai dari faktor lingkungan hingga modal finansial untuk mendapatkan peralatan.

“Faktor yang bisa menopang atau mendorong seorang seniman untuk sukses menurut pengalaman saya itu, faktor lingkungan dan modal. Lingkungan keluarga yang support, lingkungan pertemanan yang positif, lingkungan kerja yang profesional dan tentu membutuhkan biaya yang relatif tidak sedikit,” ujarnya.

Di mata Stephen, eksistensi bukanlah soal popularitas, melainkan tentang integritas dalam berkarya. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan spiritualitas sebagai kompas dalam melangkah.

“Mulai dari hal-hal sederhana, dengan jujur dan tetap takut akan Tuhan. Sebab untuk setiap langkah besar dibutuhkan langkah kecil, untuk bangunan yang tinggi dibutuhkan fondasi yang kuat,” katanya.

​Baginya, panggung besar atau panggung kecil sekalipun tetap memiliki nilai yang sama. Ia berpesan agar setiap orang memberikan versi terbaik mereka, karena pada akhirnya karyalah yang akan berbicara dan menentukan di mana posisi seseorang dalam pandangan dunia.

“​Tetaplah bersyukur dan berikan yang terbaik, sebab bukan tempat yang menentukan eksistensi kita, tetapi kita yang menentukan eksistensi kita sendiri lewat karya yang kita tunjukkan ke publik,” ujarnya.

Billy Nebore punya kerinduan untuk berbagi ilmu kepada anak Papua. Ia juga berharap ada wadah permanen untuk seniman-seniman musik Papua agar tetap bisa berkarya.

“Jujur, saya mau sekali ada wadah itu. Ada kerinduan untuk melihat anak-anak muda punya tempat berkarya,” katanya. (*)

Tags: Bandara SentanibiolaMusikSeniman Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Nelayan Jayapura

Nelayan Jayapura terdampak rencana migas Northern Papua

May 8, 2026
odong-odong

Pemuda Papua yang mencari nafkah dari odong-odong

April 23, 2026

Kekerasan tentara non-organik terhadap Orang Asli Papua terus berulang

April 21, 2026

Kisah Daniel Hanasbey, pesepakbola Papua pertama di Eropa

April 21, 2026

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026

Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

April 18, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
Oposisi

Pemimpin oposisi Solomon: Pemerintahan melayani rakyat, bukan kepentingan elite

May 10, 2026
Elnino

Fiji berpotensi dilanda El Nino pada akhir tahun

May 10, 2026
Stunting

Memerangi stunting pada anak di Pegunungan Kundiawa Gembogl PNG

May 10, 2026
Bupati

Bupati Raja Ampat luncurkan program ORISUN

May 10, 2026
Universitas Jayapura

Pemda didorong serap lulusan Universitas Jayapura atasi kekurangan nakes

May 9, 2026
Universitas Jayapura

Universitas Jayapura gelar wisuda perdana sejak berganti status

May 9, 2026
Investasi

Investasi tanpa pelibatan masyarakat adat berpotensi memicu konflik sosial

May 9, 2026
Gubernur Papua Tengah

Gubernur Papua Tengah undang seluruh pemain Persipura ke Nabire

May 9, 2026
Tewas ditembak

Koops Habema menduga OPM pelaku penembakan warga di Tembagapura

May 9, 2026
Universitas Jayapura

Universitas Jayapura gelar wisuda perdana sejak berganti status

May 9, 2026
Fishermen in Tanjung Ria, North Jayapura District, Jayapura, Papua, Monday (14/04/26) – Jubi/Larius Kogoya

Jayapura fishermen affected by Northern Papua Oil and Gas Project Plans

May 9, 2026
Pesta Babi

‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

April 21, 2026
Tewas ditembak

Lima warga Tembagapura dilaporkan tewas ditembak

May 8, 2026
IMG 20260506 WA0106

Sejumlah warga Puncak dilaporkan terluka karena ledakan bom di jenazah

May 7, 2026
Oposisi

Pemimpin oposisi Solomon: Pemerintahan melayani rakyat, bukan kepentingan elite

0
Elnino

Fiji berpotensi dilanda El Nino pada akhir tahun

0
Stunting

Memerangi stunting pada anak di Pegunungan Kundiawa Gembogl PNG

0
Bupati

Bupati Raja Ampat luncurkan program ORISUN

0
Universitas Jayapura

Pemda didorong serap lulusan Universitas Jayapura atasi kekurangan nakes

0
Universitas Jayapura

Universitas Jayapura gelar wisuda perdana sejak berganti status

0
Investasi

Investasi tanpa pelibatan masyarakat adat berpotensi memicu konflik sosial

0

English Stories

Fishermen in Tanjung Ria, North Jayapura District, Jayapura, Papua, Monday (14/04/26) – Jubi/Larius Kogoya
Pacnews

Jayapura fishermen affected by Northern Papua Oil and Gas Project Plans

May 9, 2026
Victims of the shooting near Kali Kabur after being evacuated to the Brimob Post at Camp David in Tembagapura, Tembapura District, Mimika Regency, Central Papua - Photo courtesy of the TPNPB National Commission
Pacnews

Five residents in Tembagapura reportedly shot dead

May 9, 2026
A number of students from SMA Negeri 1 Kobakma in Mamberamo Tengah who were struck by gunfire while receiving medical treatment at a local hospital – IST
Pacnews

Seven High School students seportedly shot in Mamberamo Tengah

May 8, 2026
A group photo following the declaration of eight indigenous youth communities in Sorong Selatan on Tuesday (May 6, 2026). – Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Eight Indigenous Youth Communities established in South Sorong

May 8, 2026
Central Papua Governor Meki Nawipa (center) delivers a keynote address at a focus group discussion themed “Upstream-Downstream Integration Strategy for Gold Reserve Management Towards Sovereign Monetary Resilience” at a hotel in Jakarta, Tuesday (May 5, 2026) — Public Relations Office of the Central Papua Provincial Government
Pacnews

Indigenous Communities in Central Papua set to manage Natural Resources under People’s Mining Permit (IPR) scheme

May 7, 2026

Trending

  • Gubernur Papua Tengah

    Gubernur Papua Tengah undang seluruh pemain Persipura ke Nabire

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koops Habema menduga OPM pelaku penembakan warga di Tembagapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Universitas Jayapura gelar wisuda perdana sejak berganti status

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jayapura fishermen affected by Northern Papua Oil and Gas Project Plans

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara