Sentani, Jubi – Mama-mama Papua penjual sagu di pasar Pharaa Sentani mengeluhkan sepinya pembeli. Banyak pasar “bergerak” yang leluasa berjualan nomaden di Kota Sentani.
Hal itu dikatakan Mama Stenni Joel (38), penjual Sagu di Pasar Pharaa Sentani, distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (14/6/2024). Dia berjualan sagu sejak 2007 hingga kini.
Dalam satu tahun terakhir ini, sagu jualannya sepi pembeli karena begitu banyaknya pasar bergerak.
“Hal itu kami sudah sampaikan ke ibu Sekda, selaku pemerintah untuk memperhatikan pasar-pasar yang ada diluar sana. Kami kan bayar pajak, sementara mereka tidak,”katanya.
Dia meminta Pemkab Jayapura agar lebih memperhatikan nasib mama-mama Papua, yang selalu berupaya menyambung hidupnya dengan berjualan Sagu, pinang, buah-buahan dan makanan khas Papua.
“Pemerintah harus batasi pendatang. Mereka jual barang seperti pakaian, sembako, alat-alat elektronik atau barang lain. Itu saja boleh. Kalau dong juga jualan sagu, pinang, pepatas, kami mama-mama Papua mau dapat uang dari mana untuk membiayai anak-anak kami” ujarnya.
Stenni berharap pemerintah Kabupaten Jayapura, segera tindak tegas para pedagang liar, karena merugikan pedagang pasar Pharaa Sentani yang merupakan pasar sentral Kabupaten Jayapura.
“Pasar Sentani belakangan ini sepi sekali. Padahal ini pasar sentral Kabupaten Jayapura. Kalau bisa pemerintah tutup saja pasar-pasar kecil itu,”katanya.
Stenni Joel, mengatakan sagu yang dijualnya asal Sentani dan Genyem. Ada dua jenis sagu yang dijajakannya, satu berduri dan satu tidak. Pada umumnya sagu berduri hasilnya akan berubah warna menjadi coklat kemerahan. Sementara sagu tidak berduri berwarna putih bening.
“Saya berjualan sagu yang paling besar ya 1 satu sak itu Rp500 ribu, lalu yang setengah sak RP 300 ribu, selanjutnya ada Rp200 ribu, ada yang Rp100 ribu, ada juga Rp50 ribu, yang kecil Rp20 ribu dan yang paling kecil Rp10 ribu. Ini semua kalo laku ya bisa dapat 2 jutaan dan puji Tuhan dapat untuk membiayai kedua anak anak saya yang masih sekolah ,” ujarnya.
Kini, dia hanya bisa meraup untukng 600-1 juta rupiah sehari.
Sementara itu, Yuliana Bayram (60) Warga Kemtuk Gresi penjual Sagu di pasar Pharaa Sentani mengatakan, dalam satu tahun terakhir ini pasar Pharaa Sentani mengalami penurunan pendapatan, karena kurangnya pembeli.
“Tidak tahu juga kenapa bisa berkurang, padahal dulu lumayan ramai, karena ini kan makanan pokok orang Sentani,”katanya.
Yuliana mengatakan kualitas sagu yang baik dapat dihasilkan dari kualitas pohon sagu. Cara pengolahannya juga akan sangat berpengaruh. Selain itu, pohon sagu yang ditanam atau tumbuh di sekitar mata air, kualitas sagunya lebih bagus.
“Ini sagu yang warna putih bagus karena tanam di mata air. (yang) merah juga bagus. Tergantung selera orang masing-masing “ujarnya.
Yuliana juga mengatakan, sagu yang dijualnya itu langsung didatangkan dari kemtuk Gresi oleh keluarga yang merupakan pemilik kebun . Yuliana dipercayakan untuk menjual di pasar Pharaa Sentani. Setelah dapat hasilnya, ia membeli barang-barang atau sembako serta uang ke keluarga di Kemtuk Gresi.
Sebelumnya di situasi normal , dia bisa mendapatkan keuntungan hingga 500 ribu sehari. Kini, paling banyak dia hanya bisa mengumpulkan 100 ribu sehari. (*)























Discussion about this post