Sentani, Jubi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura, Provinsi Papua mengalokasikan anggaran Rp1 miliar untuk pelaksanaan Festival Danau Sentani atau FDS XV pada 2026.
Bupati Jayapura, Yunus Wonda mengatakan, anggaran tersebut harus dikelola secara efektif untuk memastikan festival tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Ini disampaikan Yunus Wonda setelah pertemuan dengan sejumlah mitra pemerintah daerah, di antaranya perbankan, perhotelan, dan perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Jayapura, Rabu (12/8/2026).
Wonda menegaskan anggaran Rp1 miliar yang disiapkan pemerintah daerah khusus untuk pelaksanaan festival harus digunakan secara cermat.
“Yang pemerintah anggarkan untuk event ini, khusus festivalnya, kami anggarkan Rp1 miliar. Cukup tidak cukup, Rp1 miliar harus jalan. Harus diperhitungkan semua dengan baik, mana yang urgensi,” kata Yunus Wonda.
Ia menjelaskan, sejumlah pembangunan infrastruktur pendukung festival tidak termasuk dalam anggaran panitia FDS karena telah dialokasikan melalui dinas teknis masing-masing.
“Kalau pembangunan-pembangunan itu di luar panitia. Itu memang sudah ada di DPA dinas, jadi mereka kerjakan. Untuk event-nya, yang kami anggarkan Rp1 miliar,” ujarnya.
Selain itu menurut Wonda, pemerintah tidak menetapkan besaran bantuan yang harus diberikan pihak swasta untuk mendukung pelaksanaan FDS.
Dukungan dapat diberikan dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan masing-masing perusahaan. Sebab, yang penting bagaimana mereka memberikan dukungan untuk menyukseskan festival,” kata Wonda.
Katanya, dukungan dari perbankan, perhotelan, dan perusahaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, termasuk penyediaan fasilitas pendukung, promosi, maupun kebutuhan teknis selama pelaksanaan festival.
Ia mengatakan, FDS bukan hanya kegiatan Pemerintah Kabupaten Jayapura, melainkan menjadi milik seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di daerah tersebut.
Menurutnya, pemerintah kabupaten telah menyiapkan tata letak atau lokasi bagi para mitra yang ingin berpartisipasi dalam FDS XV, dan kesiapan lokasi progresnya telah mencapai sekitar 70 persen. Seluruh persiapan lokasi ditargetkan rampung sebelum pelaksanaan festival.
Sementara itu Koordinator Acara FDS XV 2026, Fred Modouw mengatakan pra-festival diselenggarakan pada 25–29 Agustus 2026 dan puncak festival pada 3–5 September 2026.
Katanya, panitia menyiapkan empat atraksi budaya utama sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan yang akan disuguhkan kepada pengunjung dan ditampilkan pada puncak FDS pada 3 September 2026.
Empat atraksi utama itu adalah panen ulat sagu, tokok atau pangkur sagu secara tradisional, atraksi perempuan Sentani menyelam untuk menangkap ikan sambil mengisap rokok, serta tari di atas perahu atau Isosolo.
“Untuk pra maupun sampai kepada puncak festival FDS tahun ini ada empat atraksi yang menjadi atraksi utama yang akan disuguhkan,” kata Modouw saat diwawancarai Jubi diruang di Sentani.
Menurutnya, atraksi panen ulat sagu akan dilaksanakan di sekitar kawasan Kalkote, lokasi utama penyelenggaraan festival. Atraksi itu akan menampilkan proses panen ulat sagu sebagai salah satu bagian dari pengetahuan dan tradisi masyarakat Papua.
Atraksi tokok atau pangkur sagu secara tradisional, dikemas dengan konsep berbeda tahun ini, yakni proses memangkur sagu dilakukan sambil diiringi tarian.
Para peserta akan mengenakan busana tari dan menggunakan peralatan tradisional untuk memperagakan proses pengolahan sagu. Tarian juga akan mengiringi proses menimba dan mengolah sagu hingga menjadi bahan makanan.
Atraksi tradisi perempuan Sentani menyelam ke dasar Danau Sentani menangkap ikan dan mengambil siput danau sambil mengisap rokok tradisional kata Modouw, berkaitan dengan peran perempuan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Mereka menyelam untuk mendapatkan ikan maupun siput sebagai lauk bagi keluarga. Menurutnya, rokok tradisional digunakan ketika menyelam karena air Danau Sentani yang dingin.
Rokok yang digulung secara tradisional tetap dihisap selama berada di dalam air dan digunakan sebagai bagian dari tradisi tersebut.
“Tradisi ini dilakukan oleh perempuan Sentani yang memiliki rasa tanggung jawab untuk menyiapkan ekonomi bagi keluarganya dalam bentuk ketersediaan lauk-pauk,” ujarnya.
Atraksi Isosolo atau tari di atas perahu lanjut Modouw, telah menjadi salah satu ikon Festival Danau Sentani sejak penyelenggaraan sebelumnya dan kembali menjadi pertunjukan utama pada FDS XV 2026.
Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan hadir dan membuka festival secara resmi.
Menurut Modouw, sebelum membuka festival, Wakil Presiden akan diajak menyaksikan dan mengikuti sejumlah atraksi budaya yang telah disiapkan panitia.
Rangkaian tersebut antara lain panen ulat sagu, melihat sekaligus mencoba proses pangkur sagu menggunakan peralatan tradisional, menyaksikan tradisi perempuan Sentani menyelam sambil mengisap rokok, serta menyaksikan atraksi Isosolo.
Wakil Presiden juga akan ditawarkan untuk naik ke atas perahu masyarakat yang digunakan dalam pertunjukan Isosolo.
Rangkaian tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung mengenai hubungan masyarakat Sentani dengan budaya dan lingkungan Danau Sentani.
Tema Festival Danau Sentani tahun ini adalah ‘Budayaku, Hidupku’. Modouw mengatakan persiapan FDS XV hingga kini terus dilakukan bersama para pelaku budaya.
Panitia telah melakukan pertemuan dengan pimpinan sanggar, kelompok tari, serta pelaku seni tradisional dari kampung-kampung di pesisir Danau Sentani.
Persiapan untuk atraksi panen dan pangkur sagu juga telah dilakukan. Bahan sagu yang akan digunakan dalam pertunjukan telah disiapkan di lokasi.
Sementara itu, perempuan-perempuan yang akan menampilkan atraksi menyelam sambil mengisap rokok telah dipersiapkan. Panitia juga menjadwalkan geladi untuk memastikan kesiapan atraksi tersebut sebelum pelaksanaan festival.
Untuk atraksi Isosolo, panitia telah bertemu dengan para pimpinan kelompok yang terlibat. Pertemuan lanjutan akan dilakukan untuk memastikan kesiapan sekaligus memberikan dukungan pembinaan kepada peserta.
Dukungan tersebut digunakan untuk menyiapkan berbagai atribut perahu, merakit perahu, serta menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pertunjukan.
Modouw mengatakan pemerintah Kabupaten Jayapura menyiapkan bantuan sebesar Rp10 juta untuk setiap kampung yang berpartisipasi dalam atraksi Isosolo.
Tahun ini diperkirakan terdapat 18 kampung yang terlibat sehingga total dukungan yang disiapkan mencapai sekitar Rp180 juta.
Modouw optimistis seluruh rangkaian FDS XV yang berlangsung mulai 25 Agustus hingga 5 September 2026, dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman budaya bagi masyarakat maupun wisatawan.
Ia mengatakan festival tidak sekadar menjadi agenda pariwisata, juga menjadi ruang untuk menjaga dan merawat kebudayaan masyarakat Papua, khususnya budaya masyarakat di sekitar Danau Sentani.
“Walaupun berada dalam arus globalisasi dan modernisasi teknologi yang begitu kencang, tetapi kami tidak meninggalkan budaya kami sebagai jati diri,” ujarnya.
Ia mengatakan tema “Budayaku, Hidupku” menjadi ajakan kepada seluruh masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa, untuk ikut melestarikan dan merawat budaya.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh membuat generasi muda meninggalkan budaya sebagai identitas masyarakat.
Ia berharap FDS dan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus memastikan tradisi masyarakat tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Mama Yuliana Ondi (53) penjual pinang di Sentani mengaku akan berjualan pinang dan sagu bakar di lokasi pergelaran festival Danau Sentani yang dipusatkan di Kalkote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur.
“Tahun ini kalau tidak tunda lagi seperti tanun kemarin maka tetap akan buka jualan disana. Itupun hanya rencana saja karena belum dapat tempat juga,” kata Mama Yuliana Ondi. (*)




Discussion about this post