• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Animha

Setelah Mire dan Mifee gagal, kini giliran ‘Tebu’ menghantui Merauke

Walhi : Pemerintah pusat telah melanggar mekanisme investasi yang dibuat sendiri

May 19, 2024
in Animha, Lingkungan
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Emanuel Riberu - Editor: Alberth Yomo
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat meninjau perkebunan tebu di Merauke yang dikelola PT Global Papua Abadi di Kampung Ngguti Bob, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke - JUBI/Emanuel Riberu 

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat meninjau perkebunan tebu di Merauke yang dikelola PT Global Papua Abadi di Kampung Ngguti Bob, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke - JUBI/Emanuel Riberu 

0
SHARES
4.4k
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jubi, Merauke – Mega proyek pemerintah bernama Merauke Integrated Rice Estate (Mire) pada 2007, dan Merauke Integrated Food And Energy Estate (Mifee) pada 2010 (era Presiden Bambang Susilo Yudhoyono) gagal dilaksanakan di Tanah Animha (Kabupaten Merauke)  Provinsi Papua Selatan. 

Program-program ambisius swasembada pangan dan energi dari ufuk timur Indonesia tidak berjalan mulus, tidak sesuai harapan dan tidak menghasilkan pangan/energi dalam jumlah besar. Namun justru meninggalkan luka bagi masyarakat adat Tanah Papua yang mana telah kehilangan hutan dan sumber kehidupannya.

Setelah Mire dan Mifee berlalu, pemerintah di bawah rezim Joko Widodo pada 2017 lalu menjalankan proyek pengembangan pangan skala besar (food estate), yang mana berambisi menjadikan Merauke sebagai daerah lumbung beras di Indonesia maupun di dunia. Ironis, program cetak sawah seluas 1,2 juta hektar ini juga belum menunjukan hasil yang diimpikan.

Belum selesai program cetak sawah, pemerintah di 2024 ini menelorkan kebijakan baru lagi yaitu membangun perkebunan tebu dan industri bioetanol di lahan seluas dua juta hektare di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Sejumlah kementerian, BUMN dan investor dilibatkan dalam mega proyek itu.

Pilot project proyek perkebunan tebu dilakukan oleh PT Global Papua Abadi di atas lahan seluas 506 hektare dengan nilai investasi Rp53.8 Triliun. Lokasi perkebunan berada di Kampung Ngguti Bob, Distrik Tanah Miring. Nantinya juga akan mencakup wilayah Distrik Jagebob dan sekitarnya.

Dengan adanya proyek perkebunan tebu seluas dua juta hektare ini, dapat dipastikan bahwa hutan di Merauke akan kembali “dinodai”. dan masyarakat adat mulai dihantui berbagai kekuatiran.

Walhi Papua
Direktur Eksekutif WALHI Papua, Primus Peuki. – Dok. WALHI Papua

Walhi: pemerintah cenderung melihat tanah Papua sebagai lahan kosong

BERITATERKAIT

Maikel Primus Peuki kembali pimpin WALHI Papua

Diperlukan konsolidasi bersama menghadapi tekanan oligarki di Tanah Papua

Ruang hidup masyarakat adat Papua dikepung oligarki

Walhi Papua: Raja Ampat warisan dunia yang mesti dilindungi

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia – Walhi Papua mengecam kebijakan pemerintah pusat membangun perkebunan tebu dan industri etanol di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Walhi Papua menganggap kebijakan itu sebagai bentuk kekerasan negara terhadap masyarakat pemilik ulayat, karena kebijakan yang diambil cenderung top down.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Nah ini (kebijakan proyek perkebunan) sebenarnya mau menunjukkan bahwa pemerintah ini tidak menghargai masyarakat adat di Merauke. Karena kebijakan itu top down, tanpa persetujuan masyarakat adat selaku pemilik tanah ulayat dan hutan,” kata Direktur Walhi Papua, Maikel Primus Peuki kepada Jubi di Merauke dalam wawancara melalui telpon, Sabtu (18/5/2024).

“Kami melihat proyek-proyek strategis nasional di Papua menjadikan masyarakat adat itu sebagai korban. Proyek-proyek di Merauke dan sekitarnya seperti Mire, Mifee, dan Food Estate itu menunjukkan kegagalan pemerintah yang cukup besar. Dan itu merugikan negara dan masyarakat adat Papua yang telah kehilangan sumber-sumber kehidupannya,” sambung Maikel.

Dia mengatakan bahwa perkebunan tebu di Kabupaten Merauke akan membuat masyarakat adat semakin terpinggirkan. Hal ini berangkat dari pengalaman proyek Mire dan Mifee yang gagal, yang telah memberikan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat dan kerusakan hutan di selatan Papua.

Maikel Primus Peuki juga menyatakan proyek perkebunan tebu itu tidak menunjukkan gambaran positif ke depan, baik itu soal keuntungan negara, di mana pasarnya, keuntungan masyarakat termasuk perhitungan pendapatan nantinya untuk Pemprov Papua Selatan dan Pemerintah Kabupaten Merauke.

IMG 20240518 WA0091
Banjir terjadi di kawasan Salor , Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, yang diduga pemicunya adalah hilangnya hutan dan daerah resapan air. Kondisi seperti ini dikuatirkan akan meningkat seiring dengan ambisi pemerintah yang ingin menyulap lahan 2 juta hektar di Merauke sebagai perkebunan tebu – JUBI/Emanuel Riberu

“Justru yang terjadi nanti masyarakat punya lahan yang begitu besar, hutan Papua Selatan semakin hari semakin dibabat terus. Ini merugikan masyarakat yang kehidupannya sangat tergantung dengan hutan dan alam. Karena terus menerus terjadi kerusakan lingkungan dan hutan di Papua Selatan,” ujar dia.

Menanggapi pernyataan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia soal tidak perlunya kajian sosio ekologi terkait pembangunan perkebunan tebu di Merauke, Maikel Primus Peuki menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan pemerintah justru brutal.

“Pemerintah cenderung melihat bahwa Papua itu sebagai tanah kosong, Papua itu sebagai lahan untuk mereka bisa menjadikan apa-apa tanpa melihat orang asli Papua atau masyarakat adat itu sebagai pemilik dan pewaris dalam wilayah yang dimaksud,” katanya.

“Itu menunjukkan kejahatan pemerintah seperti orang yang tidak berpendidikan atau seperti kehilangan arah dalam menempatkan proyek-proyek pembangunan tanpa melalui prosedur-prosedur yang harus ditempuh baik oleh pemerintah maupun perusahaan,”

“Kalau menyimak apa yang disampaikan Menteri Bahlil, saya pikir itu sangat keliru. Itu (pernyataan menteri) tidak menunjukkan bahwa pemerintah sebagai pengayom, pelindung dan pedoman bagi masyarakat. Menurut kami pemerintah pusat telah melanggar mekanisme investasi yang dibuat sendiri oleh pemerintah,” lanjut dia.

Maikel Primus Peuki mengatakan Walhi Papua dalam beberapa kesempatan memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah se-Tanah Papua, termasuk Kabupaten Merauke untuk berhenti memberikan ijin lokasi kepada perusahaan-perusahaan baru.

“Karena sepanjang pengalaman investasi yang ada di Tanah Papua ini tidak ada satu pun masyarakat adat Papua sebagai tuan dusun itu sejahtera. Mereka justru kehilangan sumber daya alam, hutan mereka dibabat, kayu-kayu mereka diambil. Masyarakat hidup dalam penindasan dan kemiskinan,” kata dia.

Walhi Papua juga merekomendasikan agar pemerintah pusat juga untuk mengakui keberadaan masyarakat adat Papua sebagai penyangga, penjaga, pelindung dan pewaris yang melestarikan hutan berkelanjutan di Tanah Papua. Karena hutan dan tanah bagi masyarakat adat Papua ibarat seorang mama yang menjadi sumber kehidupan.

WhatsApp Image 2024 05 17 at 22.06.59 scaled
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat disambut Pj Gubernur Papua Selatan dan Muspida Provinsi Papua Selatan, di Bandara Mopah Merauke, sebelum meninjau perkebunan tebu yang dikelola PT Global Papua Abadi di Kampung Ngguti Bob, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke – JUBI/Emanuel Riberu

“Kami juga merekomendasikan kepada pemerintah daerah se Tanah Papua, khususnya Pemprov Papua Selatan dan Pemkab Merauke untuk segera membuat peaturan daerah tentang hak ulayat dan hukum masyarakat adat. Perlu regulasi di daerah yang memproteksi hak-hak mereka,” ujar Maikel Primus Peuki.

“Juga perlu dilakukan pencadangan hutan di Kabupaten Merauke dan sekitarnya, karena hutan di wilayah selatan dibabat habis oleh investasi yang terjadi masif di sana,” ujarnya lagi.

Dia menambahkan bahwa investasi yang masuk ke Kabupaten Merauke dan sekitarnya menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang sangat besar. Baru-baru masyarakat Papua dihebohkan dengan peristiwa banjir di Salor, Distrik Kurik dan di Distrik Eligobel, Kabupaten Merauke.

“Beberapa tahun ke depan, banjir akan semakin parah jika hutan masih saja terus dibabat. Kami juga minta pemerintah pusat untuk berhenti memberikan ijin-ijin yang merampas ruang-ruang hidup di Tanah Papua,” tutupnya.

Ambisi ‘Selangit’ Pemerintah

Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia dalam kunjungannya di Merauke pada Jumat (15/5/2024), menyatakan pemerintah pusat mencanangkan proyek strategis nasional perkebunan tebu di Kabupaten Merauke dalam rangka swasembada gula dan bioetanol. Mega proyek itu diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena akan menyerap tenaga kerja lokal dan adanya kerja sama melalui pola inti plasma.

Bahlil mengatakan untuk mencapai swasembada gula dan bioetanol dari Kabupaten Merauke, maka proyek seluas dua juta hektare perkebunan tebu di sana bakal dilakukan sepenuhnya dengan sistem mekanisasi dan teknologi.

Pemerintah optimistis bahwa investasi perkebunan tebu itu akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa dari sektor pangan dan energi. Dengan lahan seluas dua juta hektare perkebunan tebu, pemerintah membayangkan tingkat produksi gula bisa mencapai 100 ton lebih per hektar.

“Sekarang produktivitas (gula) kalau di Australia itu 200 ton per hektar. Kalau di Jawa itu 65-70 ton. Nah kita pingin di Merauke itu kalau bisa rata-rata di atas 100 ton. Sekarang ini lagi dicari modifikasi oleh tim yang akan melakukan proses penelitian untuk itu (mendorong produktivitas),” kata Bahlil.

Ditanya sejauh mana kajian sosial ekologis perkebunan tebu di Merauke? Apakah telah dilakukan dan seperti apa hasilnya? Bahlil menyatakan bahwa sebenarnya tanpa dikaji pun, perkebunan tebu dapat berjalan. Sebab pada tahun 1920 silam, tanaman tebu pernah dibudidayakan di Merauke. Namun demikian, menurut dia, kajian sosial ekologis perkebunan tebu di sana harus tetap dilakukan.

Bahlil
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia ketika diwawancarai di areal perkebunan tebu yang dikelola PT Global Papua Abadi (GPA) di Kampung Ngguti Bob, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan pada Jumat (17/5/2024) – JUBI/Emanuel Riberu

“Tanpa kita kaji pun, kan 1920 barang ini (budidaya tebu) di sini sudah ada. Kita ini terlalu banyak kajian juga, tapi yang jelas kajiannya tetap jalan. Kajian penting, tapi secara kontur tanah, saya dijelaskan oleh tim perusahaan bahwa tanah di sini sangat cocok untuk tebu, hampir sama dengan Australia. Hanya kita butuh sistem drainase yang bagus, dan juga bibit yang cocok di Merauke,” katanya.

Menyoal dampak negatif alih fungsi hutan untuk perkebunan tebu? Bahlil menyatakan bahwa secara umum di Kabupaten Merauke didominasi oleh pohon kayu putih atau ekualiptus, rawa-rawa dan savana. Sedangkan pohon-pohon pelindung utama seperti Merbau dan pohon alami tidak ada.

“Mana ada hutan di tengah-tengah Merauke ini. Yang ada semua itu kayu putih, rawa-rawa, terus savana. Mana ada yang kita mau gusur. Justru dengan kehadiran tebu ini bikin drainase supaya bagus lingkungannya, terkecuali di situ masih ada kayu merbau, kayu-kayu alami, tumbuhan-tumbuhan besar, ini kan tidak ada. Jadi saya pikir tidak ada masalah,”

“Dan dalam rangka Amdalnya, wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan satwa, tumbuh-tumbuhan dan areal air itu tidak dijadikan sebagai bagian yang harus dipakai untuk kebun,” tutupnya.

Tags: Proyek strategis nasional perkebunan tebu di Kabupaten MeraukePT Global Papua AbadWalhi Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

WNA

Tiga WNA Australia mulai disidangkan di Merauke

May 13, 2026
WNA Australia

Tiga WNA Australia disidangkan di Merauke

May 7, 2026

Anggota DPD RI kritik kinerja PPL mendampingi petani di Merauke

May 7, 2026

Sampah sisa makanan berdampak lebih kuat terhadap pemanasan global

April 25, 2026

Komunitas IBAYAUW bersihkan kawasan Hutan Perempuan

April 24, 2026

Benarkah proyek pembangunan di Tanah Papua untuk masyarakat

April 21, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
Indosat

Indosat, Wadhwani, dan Kemnaker Teken MoU Cetak 1 Juta Talenta Digital Indonesia melalui AI

May 21, 2026
Child shot

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026
Condition of the Menawi–Semerbaba road section

Papua Provincial Government Accelerates Infrastructure Repairs in Yapen Islands Regency

May 20, 2026
Nobar Pesta Babi

Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

May 20, 2026
Paripurna DPRK Jayapura

DPRK Jayapura serahkan 35 rekomendasi atas LKPJ bupati 2025

May 20, 2026
Pemprov Papua Tengah

Pemprov Papua Tengah desain ketahanan kesehatan lewat ‘Ko Harus Sehat’

May 20, 2026
Papua Tengah

Pemenuhan SDM nakes merupakan kebutuhan mendesak di Papua Tengah

May 20, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
KNPB

Aktivis KNPB diingatkan pentingnya membangun kesadaran intelektual dan kolektivitas

May 20, 2026
Nobar Pesta Babi

Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

May 20, 2026
kebun sayur

Kebun sayur di lahan kosong di Kota Jayapura

May 20, 2026
Film Pesta Babi

Film dokumenter Pesta Babi: Papua bukan tanah kosong

May 16, 2026
KNPB

Aktivis KNPB Yahukimo dilaporkan ditangkap TNI-Polri

May 19, 2026
Nobar Film Pesta babi

Film Pesta Babi: Edukasi masalah yang dihadapi masyarakat di Tanah Papua

May 19, 2026
Indosat

Indosat, Wadhwani, dan Kemnaker Teken MoU Cetak 1 Juta Talenta Digital Indonesia melalui AI

0
Child shot

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

0
Condition of the Menawi–Semerbaba road section

Papua Provincial Government Accelerates Infrastructure Repairs in Yapen Islands Regency

0
Nobar Pesta Babi

Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

0
Paripurna DPRK Jayapura

DPRK Jayapura serahkan 35 rekomendasi atas LKPJ bupati 2025

0
Pemprov Papua Tengah

Pemprov Papua Tengah desain ketahanan kesehatan lewat ‘Ko Harus Sehat’

0
Papua Tengah

Pemenuhan SDM nakes merupakan kebutuhan mendesak di Papua Tengah

0

English Stories

Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026
Condition of the Menawi–Semerbaba road section
Pacnews

Papua Provincial Government Accelerates Infrastructure Repairs in Yapen Islands Regency

May 20, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papuan National Liberation Army (TPNPB) Claims One Indonesian Soldier Killed in Retaliatory Attack After Two Members Die

May 19, 2026
Malaria
Pacnews

Jayapura Regency Records Indonesia’s Second-Highest Malaria Cases

May 19, 2026
public screening of Pesta Babi
Pacnews

‘Pesta Babi (Pig Feast)’ Documentary Seen as Public Education on Papua’s Challenges

May 19, 2026

Trending

  • Anak yang ditembak

    Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis KNPB diingatkan pentingnya membangun kesadaran intelektual dan kolektivitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Usai nobar ‘Pesta Babi’, Cipayung Plus se-Kabupaten Sorong nyatakan sikap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebun sayur di lahan kosong di Kota Jayapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Film dokumenter Pesta Babi: Papua bukan tanah kosong

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara