• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Perluasan peran TNI memperparah konflik di Tanah Papua

February 11, 2026
in Polhukam
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
TNI

Ilustrasi prajurit TNI di Kota Jayapura, Papua - Dok. Jubi

0
SHARES
170
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Situasi keamanan dan hak asasi manusia atau HAM di Tanah Papua dinilai semakin memburuk dengan meluasnya peran Tentara Nasional Indonesia atau TNI di luar fungsi pertahanan.

Direktris Aliansi Demokrasi untuk Papua atau AlDP, Latifa Anum Siregar mengatakan kehadiran TNI di Tanah Papua kini tidak lagi semata-mata untuk melindungi warga sipil.

Kehadiran pasukan dari korps berbaju loreng itu di Tanah Papua, juga untuk memperkuat kepentingan institusi militer dalam berbagai aspek kehidupan sosial, politik, dan pemerintahan.

Kondisi ini pun dianggap makin memperparah konflik dan mengancam kehidupan masyarakat sipil di Bumi Cenderawasih.

Pernyataan itu disampaikan Latifa Anum Siregar dalam diskusi publik yang digelar Imparsial melalui live streaming Youtube terkait Konflik bersenjata dan stigmalisasi terorisme “Bahaya Ranperpres pelibatan TINI dan penanggulangan terorisme”,  Selasa (10/2/2026).

Laporan pemantauan 2025, yang tengah disusun AlDP menunjukkan adanya peningkatan penempatan pasukan, eskalasi kekerasan, dan dugaan pelanggaran HAM di berbagai wilayah di Tanah Papua.

Jumlah pasukan TNI organik dan non-organik di Tanah Papua disebut terus meningkat, dengan estimasi mencapai sekitar 13 ribu personel setiap tahun.

“Penambahan pasukan ini menciptakan kesan bahwa [Tanah] Papua adalah wilayah yang rawan dalam setiap aspek, sehingga selalu membutuhkan kehadiran militer. Padahal, pertanyaan pentingnya adalah di mana peran pemerintahan sipil dan kepolisian,” kata Anum Siregar.

Menurut Anum, penguatan struktur militer di Tanah Papua tidak diimbangi dengan penguatan institusi sipil. Di sejumlah wilayah strategis dan kawasan investasi, seperti Papua Selatan, TNI justru diperkuat dengan pembentukan komando daerah militer atau Kodam dan penambahan pasukan. Sementara kepolisian lemah dari sisi kewenangan maupun struktur kepemimpinan.

BERITATERKAIT

Anggota Polresta Jayapura diduga melakukan kekerasan pada mahasiswa Uncen

Lumpur, rawa, dan bakau, pelindung warga Papua saat Perang Dunia Kedua

Tanah Papua tak butuh kegaduhan, namun kerja nyata

Dialog dan pemahaman sejarah penting untuk perdamaian di Tanah Papua

“Berdasarkan catatan kami sepanjang 2025, terdapat lebih dari 100 konflik bersenjata dan aksi kekerasan di [Tanah] Papua. Angka itu sejalan dengan data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM dan rilis kepolisian, meski masih menunggu verifikasi akhir,” ucapnya.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Selain itu kata Anum Siregar, pola operasi keamanan telah bergeser dari patroli rutin menjadi operasi militer terstruktur. Indikasinya terlihat dari waktu kejadian kontak senjata yang cenderung berulang pada jam-jam tertentu, penggunaan drone dan helikopter, serta dugaan praktik bumi hangus di sejumlah kampung yang menyebabkan rumah warga terbakar dan masyarakat mengungsi.

Di Tanah Papua lanjut Anum Siregar, aparat keamanan juga menggunakan strategi lain seperti pembagian logistik dan program sosial, yang berjalan bersamaan dengan operasi militer.

Strategi gabungan ini dinilai tetap berdampak serius bagi warga sipil, karena memperluas kontrol militer hingga ke ruang-ruang sosial masyarakat.

“Sehingga kita lihat pemerintahan sipil di [Tanah] Papua semakin lumpuh akibat selalu bergantung pada pemerintah pusat. Pemotongan anggaran daerah 30 hingga 40 persen, membuat pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sangat bergantung pada Jakarta. Kepala daerah sering dipanggil untuk menerima instruksi ketimbang berdialog dan merumuskan kebijakan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Katanya, kondisi tersebut mencerminkan pergeseran dari desentralisasi menuju sentralisasi kekuasaan. Padahal, dalam kerangka Otonomi Khusus atau Otsus Papua, pemerintah daerah seharusnya memiliki kewenangan lebih besar, termasuk dalam tata kelola keamanan dan perlindungan masyarakat.

Pendekatan militer yang dominan, tanpa dialog dipandang justru memperkuat resistensi masyarakat. Penolakan terhadap kebijakan pemerintah pun semakin meluas, termasuk dari kalangan gereja dan tokoh masyarakat.

Dalam situasi ini, Anum Siregar meminta pemerintah segera meninjau ulang kebijakan keamanan dan investasi di Tanah Papua, serta membuka ruang dialog yang menyeluruh, mulai dari dialog kemasyarakatan, pembangunan, hingga dialog politik.

Sebab menurutnya, tanpa dialog yang inklusif, siklus kekerasan akan terus berulang dan korban dari kalangan masyarakat sipil akan terus bertambah.

“Kebijakan yang menempatkan militer menguasai hampir seluruh aspek kehidupan di Papua tidak hanya merugikan rakyat, juga merugikan negara itu sendiri,” katanya.

Sementara itu, Dosen Antropologi Sekolah Tinggi Filsafat atau STF Driyarkara Jakarta, Dr. Budi Hernawan mengatakan pergeseran paradigma penanganan terorisme di Indonesia dari pendekatan hukum ke pendekatan militer berpotensi memperburuk konflik bersenjata di Tanaha Papua.

Menurutnya istilah terorisme pada awalnya lahir dari ranah politik global pascaperistiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Namun, di Indonesia, terorisme sejak awal justru dimasukkan dalam ranah hukum pidana melalui Perppu Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

“Dua kata kunci yang penting adalah tindak pidana selama hampir 20 tahun, Indonesia tidak menempatkan terorisme sebagai urusan militer, tetapi sebagai persoalan hukum,” kata Budi Hernawan

Menurutnya, paradigma hukum tersebut menjadikan aparat penegak hukum, seperti Densus 88 dan BNPT sebagai garda utama penanganan terorisme.

“Regulasi awal penanganan terorisme memang mengandung sejumlah persoalan, termasuk pemberlakuan hukum secara retroaktif yang bertentangan dengan prinsip hukum pidana umum,” ucapnya.

Perubahan arah kebijakan kata Budi Hernawan, mulai terlihat sejak revisi Undang-undang Terorisme tahun 2018 yang memasukkan TNI dalam penanganan terorisme sebagai bagian dari Operasi Militer Selain Perang atau OMSP.

Peran tersebut kemudian terus diperluas melalui revisi Undang-Undang TNI dan diperkuat dengan rencana penerbitan Peraturan Presiden..Dengan Perpres ini, peran militer dalam penanganan terorisme semakin dilebarkan.

“Ini menggeser paradigma hukum yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia. Dan masyarakat di Papua hari ini terjepit dalam konflik bersenjata,” ujarnya. (*)

Tags: konflikTanah PapuaTNI
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Ketua MPM Uncen Wialo Silak tampak terluka di wajahnya. Diduga kena pukulan aparat kepolisian di Polresta Jayapura - Dok LBH Papua

Anggota Polresta Jayapura diduga melakukan kekerasan pada mahasiswa Uncen

October 1, 2026
Perang Dunia Kedua

Lumpur, rawa, dan bakau, pelindung warga Papua saat Perang Dunia Kedua

September 23, 2026

Tanah Papua tak butuh kegaduhan, namun kerja nyata

September 22, 2026

Dialog dan pemahaman sejarah penting untuk perdamaian di Tanah Papua

September 17, 2026

Perbedaan dan keragaman, keniscayaan yang tidak bisa dihindari di Tanah Papua

September 17, 2026

Amnesty Internasional Indonesia: Hentikan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua

September 17, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Young Merauke swimmer wins 15 gold medals in nine days
6 October 2026
Young Merauke swimmer wins 15 gold medals in nine days

Merauke, Jubi – Young swimmer Nathania Zefanya Wohel from Merauke, South Papua province, won 15 gold and three silver medals [...]

Search underway for to people missing in Ulilin forest
6 October 2026
Search underway for to people missing in Ulilin forest

Merauke, Jubi –  A joint search and rescue team is searching for two people who were reported missing in a [...]

Kais residents urge government to build retaining wall as riverbank erodes
5 October 2026
Kais residents urge government to build retaining wall as riverbank erodes

Teminabuan, Jubi — Residents of Kais village in Kais District, South Sorong Regency, Southwest Papua, are urging the local government [...]

Smoke haze in Sorong suspected to be from fires elsewhere
5 October 2026
Smoke haze in Sorong suspected to be from fires elsewhere

Sorong, Jubi – Smoke haze that has blanketed Sorong City, Southwest Papua, in recent days is suspected to have come [...]

Three University of Science and Technology Jayapura students named suspects
3 October 2026
Three University of Science and Technology Jayapura students named  suspects

Jayapura, Jubi – Three of four students from the University of Science and Technology Jayapura (USTJ) arrested by Jayapura City [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Penyelundupan telur burung

Balai Karantina gagalkan penyelundupan telur burung paruh bengkok dari Merauke

October 7, 2026
Demam babi Afrika

Kasus demam babi Afrika di Papua Selatan terkendali

October 7, 2026
Kapal RS TNI AL

Kapal RS TNI AL Indonesia merawat pasien dan mengoperasi warga Vanuatu

October 7, 2026
Hak investor

Hak investor membatasi aksi iklim yang diserukan negara-negara Pasifik

October 7, 2026
Gereja

Gereja Asia desak kekerasan di Papua dihentikan lewat deklarasi Chiang Mai

October 7, 2026
Target pertumbuhan ekonomi

Gubernur Nawipa minta target pertumbuhan ekonomi diterjemahkan lewat kerja nyata

October 7, 2026
Polinesia Prancis

Polinesia Prancis di Pasifik mengusulkan proses kemerdekaan di PBB

October 7, 2026
BEM USTJ

BEM: Pengibar Bintang Kejora adalah mahasiswa USTJ

October 6, 2026
Lomba bedah APBD

Tim SMA Negeri 1 Jayapura lolos final lomba bedah APBD

October 6, 2026
PM Kepulauan Solomon

PM Kepulauan Solomon: Investasikan uang anda pada alam

October 6, 2026
Sosialisasi perizinan berusaha ke kampus

DPM-PTSP Kabupaten Jayapura sosialisasi perizinan berusaha hingga ke kampus

October 6, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
Festival

Rayakan budaya, Festival Pasifika Auckland tarik 25 ribu pengunjung

March 17, 2026
Bom

Kantor pusat Komite Nasional Papua Barat diteror bom

March 17, 2026
Penyelundupan telur burung

Balai Karantina gagalkan penyelundupan telur burung paruh bengkok dari Merauke

0
Demam babi Afrika

Kasus demam babi Afrika di Papua Selatan terkendali

0
Kapal RS TNI AL

Kapal RS TNI AL Indonesia merawat pasien dan mengoperasi warga Vanuatu

0
Hak investor

Hak investor membatasi aksi iklim yang diserukan negara-negara Pasifik

0
Target pertumbuhan ekonomi

Gubernur Nawipa minta target pertumbuhan ekonomi diterjemahkan lewat kerja nyata

0
Polinesia Prancis

Polinesia Prancis di Pasifik mengusulkan proses kemerdekaan di PBB

0
Bimtek BKPSDM

Pengelola layanan kepegawaian apresiasi bimtek Microsoft Office BKPSDM Papua Tengah

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara