Merauke, Jubi – Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Selatan, Irsan Nuhantoro, mengatakan berdasarkan laporan terbaru yang diterima pihaknya, kini tidak lagi ditemukan penyebaran African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Provinsi Papua Selatan.
Penanganan penyakit ASF atau demam babi Afrika di Papua Selatan terus dilakukan setelah Pemerintah Provinsi Papua Selatan membentuk satuan tugas (Satgas) penanganan penyakit hewan menular.
“Kalau berdasarkan laporan yang kami terima, sudah tidak ada lagi penyebaran terkait penyakit ASF ini. Jadi ini salah satu hal yang positif bagi kita,” kata Irsan, Rabu (7/10/2026).
Menurut Irsan, sebelumnya telah ditemukan dua kasus positif ASF, kemudian kembali ditemukan satu kasus positif.
Pemerintah selanjutnya melakukan berbagai langkah pengendalian, termasuk membentuk Satgas berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Papua Selatan.
Satgas tersebut bertugas melakukan pengendalian dan pengawasan penyebaran penyakit, termasuk menetapkan area buffer atau wilayah penyangga serta melakukan pengendalian secara langsung pada peternakan masyarakat.
Meski saat ini tidak ditemukan lagi penyebaran, Irsan mengatakan upaya pencegahan tetap harus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus baru maupun penyebaran ke peternakan lainnya.
Menurutnya, salah satu kunci utama pengendalian ASF adalah meningkatkan kesadaran peternak dalam menerapkan biosecurity atau langkah-langkah pencegahan masuk dan menyebarnya penyakit di lingkungan peternakan.
“Untuk mengantisipasi penyebarannya, masing-masing peternak babi. Itu kunci utama. Ketika kita melaksanakan pengendalian penyakit, kita meningkatkan kesadaran biosecurity dari peternak,” katanya.
Penerapan biosecurity antara lain dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, membatasi lalu lintas orang dan hewan, serta menerapkan berbagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Selain pengendalian di tingkat peternak, pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan, termasuk vaksinasi dan penanganan teknis lainnya.
“Yang kedua terkait pemberian vaksinasi dan lain sebagainya, ini nanti akan dilaksanakan oleh Dirjen teknis Kementerian Pertanian,” ujar Irsan.
Sebelumnya, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Selatan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ASF setelah penyakit tersebut ditemukan menyebar di Kabupaten Boven Digoel.
Berdasarkan catatan Karantina Papua Selatan, kasus kematian ternak babi pertama kali dilaporkan pada April 2026 di tujuh distrik di Boven Digoel.
Saat itu sekitar 1.100 ekor babi mati dengan tingkat kematian mencapai 100 persen.
Pada awal kejadian, petugas belum dapat memastikan penyebab kematian ternak karena belum diketahui apakah disebabkan ASF atau penyakit lainnya.
Pemeriksaan dan pengambilan sampel kemudian dilakukan untuk memastikan penyebab kematian.
Perkembangan kasus kembali terjadi pada Juli 2026 di Distrik Arimop. Kasus tersebut menunjukkan pergerakan penyakit ke wilayah yang lebih rendah dari lokasi kejadian sebelumnya.
Di Arimop, tingkat kematian juga mencapai 100 persen pada salah satu kandang. Petugas kemudian mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium.
“Ini kejadian kedua. Jadi risiko terkait penyebaran virus pada babi ini yang kita deteksi memang itu adalah ASF. Ternyata masih bergerak ke bawah,” kata Irsan beberapa waktu lalu.
Irsan mengatakan sebelum kasus tersebut ditemukan, pihaknya bersama Balai Veteriner dan Karantina telah melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel di sejumlah wilayah, termasuk Boven Digoel dan Mappi. Hasil pemeriksaan sebelumnya masih menunjukkan hasil negatif.
Namun, perkembangan kasus di Arimop kemudian menunjukkan adanya ASF. Pada Agustus 2026, pihaknya kembali menerima informasi mengenai kematian ternak babi di wilayah Tanah Merah.
“Kami mendapatkan informasi bulan ini ternyata ada kejadian juga di Tanah Merah,” ujarnya.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena Merauke merupakan salah satu daerah penopang sumber ternak babi untuk wilayah Papua.
Irsan mengatakan jika ASF sampai masuk ke Merauke, dampaknya dapat sangat besar terhadap populasi ternak maupun perekonomian masyarakat. Karena itu, kewaspadaan dini perlu terus ditingkatkan.
“Merauke ini adalah penopang sumber ternak babi hampir di seluruh Papua. Kalau kita tidak meningkatkan kewaspadaan dini terhadap risiko masuk ke Merauke, ini yang nanti akan berdampak sangat besar,” ujarnya. (*)
























Discussion about this post