Sorong, Jubi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya mencatat ada 6.627 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah itu selama dua bulan terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sorong, Jenny Isir mengatakan ada 3.297 kasus ISPA pada Agustus 2026, dan 3.330 kasus selama September 2026.
Katanya, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pada Januari hingga Juli 2026. Ketika itu rata-rata kasus ISPA masih di bawah 2.000 kasus per bulan.
Peningkatan kasus ini pun menjadi perhatian serius pemerintah daerah, karena ISPA secara konsisten berada di posisi teratas dalam daftar 10 besar penyakit yang ditemukan berdasarkan rekapitulasi pelayanan kesehatan dari puskesmas dan rumah sakit di Kota Sorong.
“Melihat dari data tahun 2025 dibandingkan 2026 ini, memang ada peningkatan. Khususnya bulan Agustus dan September,” kata Jenny Isir, Senin (6/10/2026).
Menurut Jenny Isir, lonjakan tersebut tidak terlepas dari kondisi lingkungan saat ini. Cuaca panas dan kering, kemarau panjang, serta keberadaan gumpalan asap di udara dapat memperburuk kualitas udara yang kemudian meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
“Faktor lingkungan seperti gumpalan asap dan pencemaran udara menjadi salah satu pemicu meningkatnya gangguan saluran pernapasan pada masyarakat,” ucapnya.
Data Dinkes Kota Sorong menunjukkan, sepanjang Januari hingga September 2026 mencatat ada 23.482 kasus ISPA.
“ISPA memang selalu menempati urutan pertama dalam 10 besar penyakit berdasarkan rekapitulasi data dari puskesmas dan rumah sakit di Kota Sorong setiap tahunnya,” ujarnya.
Dinkes Kota Sorong juga mencatat adanya penyakit saluran pernapasan lain seperti pneumonia. Namun, menurut Jenny Isir, angka pneumonia relatif masih stabil apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Meski begitu lanjut Isir, stabilnya kasus pneumonia tidak berarti ancaman kesehatan akibat memburuknya kualitas udara dapat diabaikan.
Sebab katanya, lonjakan ISPA justru menjadi sinyal bahwa masyarakat mulai merasakan dampak dari perubahan kondisi lingkungan dan kualitas udara yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Dinkes pun mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala gangguan pernapasan yang muncul ketika kualitas udara memburuk.
“Masyarakat harus lebih waspada dan bersama-sama menjaga kesehatan diri serta lingkungan di tengah kondisi cuaca seperti sekarang,” kata Jenny Isir.
Meski jumlah kasus ISPA meningkat, hingga kini belum terdapat laporan mengenai rumah sakit di Kota Sorong yang mengalami overload atau penumpukan pasien rawat inap akibat kasus tersebut.
Namun, peningkatan kunjungan masyarakat ke puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan tetap menjadi perhatian Dinkes.
Dinkes Kota Sorong pun meminta masyarakat tidak menunggu kondisi menjadi berat sebelum mencari pertolongan medis.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggal, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara sedang buruk, serta menggunakan pelindung pernapasan ketika berada di lingkungan yang terpapar asap atau debu. (*)




Discussion about this post