Jayapura, Jubi – Balai Bahasa Papua menggelar pelatihan guru utama revitalisasi bahasa Sobey dalam rangka implementasi perlindungan bahasa daerah di Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.
Dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarmi, Yunus Luwunaung, dalam sambutannya mengatakan kebudayaan daerah adalah
kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat suatu daerah.
Hadir dalam acara pembukaan pelatihan guru utama revitalisasi bahasa Sobey adalah Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Papua, Jemmi Musa Ayomi, dan narasumber pelatihan Pereskila Ambani dan Antonius Maturbongs.
“Pada umumnya, kebudayaan daerah merupakan budaya asli dan telah lama ada serta diwariskan turun-temurun kepada generasi berikutnya,” ujar Yunus Luwunaung dalam rilisnya kepada Jubi, Senin (19/6/2023).

Dalam rangka pembinaan kebudayaan nasional, kebudayaan daerah perlu juga dikembangkan, karena kebudayaan daerah mempunyai kedudukan yang sangat penting.
“Di tengah arus kehidupan global saat ini, kekayaan budaya bangsa, keragaman bahasa, dan nilai-nilai kearifan yang ada dalam sastra harus jadi modal untuk memperkuat jati diri dan karakter
bangsa,” ujarnya.
Pemerintah berupaya untuk membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa daerah dan sastranya. Pemerintah juga berupaya memelihara semangat dan meningkatkan peran masyarakat dalam hal kebahasaan dan kesastraan.
“Sejalan dengan implementasi kebijakan Otonomi Khusus di atas, Pemerintah Kabupaten Sarmi melakukan upaya peningkatan pelestarian bahasa daerah dan mendorong kesadaran masyarakat untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan bahasa,” jelasnya.
Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Papua, Jemmi Musa Ayomi mengatakan Merdeka Belajar Episode 17 revitalisasi bahasa daerah yang telah digulirkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada Februari 2022 perlu didukung oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Pemerintah Daerah Sarmi mendukung pelaksanaan Merdeka Belajar Episode 17 melalui revitalisasi bahasa Sobey. Semua ekosistem harus turut mendukung program ini agar penutur muda bahasa Sobey meningkat, baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahasa Sobey menjadi lebih kuat dan penuturnya semakin berkembang di tengah tantangan zaman saat ini,” ujarnya.
Bahasa Sobey, lanjutnya, harus selalu diwariskan dan tunas bahasa Sobey perlu dipupuk. Oleh karena itu, semua pemangku kepentingan harus memberikan perhatian dan mendorong program tersebut.
“Implementasi pelestarian bahasa daerah perlu didukung oleh semua pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Daerah Sarmi, pemangku adat dan budaya, rohaniwan, pelaku seni, akademisi, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, pegiat literasi, praktisi, orang tua, dan tentu anak-anak sebagai tunas muda bahasa Sobey,” jelasnya.
Yohanis Sanjoko dari Balai Bahasa Papua mengatakan kegiatan tersebut dikuti oleh 30 orang terdiri atas guru SD, guru SMP, pengawas SD, pengawas SMP, tokoh masyarakat, tokoh agama, komunitas, budayawan, praktisi, dan pegiat bahasa.
“Kegiatan akan berlangsung pada 19-22 Juni 2023 di Kafe Rasya Grasya Sarmi. Revitalisasi bahasa daerah secara umum diartikan sebagai upaya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah melalui pewarisan kepada generasi muda untuk mendorong penggunaannya dalam komunikasi yang beragam sehingga daya hidup bahasa daerah tersebut pada taraf aman,” jelasnya.

Dalam rangka Revitalisasi Bahasa Daerah, Balai Bahasa Provinsi Papua, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan sembilan bahasa daerah untuk direvitalisasi.
Tujuh di antara bahasa daerah tersebut sudah direvitalisasi pada 2022 dan dilanjutkan lagi 2023. Bahasa tersebut adalah bahasa Tobati di Kota Jayapura, bahasa Sentani di Kabupaten Jayapura, bahasa Biyekwok di Kabupaten Keerom, dan bahasa Sobey di Kabupaten Sarmi.
Selain itu, bahasa Marind di Kabupaten Merauke, bahasa Kamoro di Kabupaten Mimika, dan bahasa Biak di Kabupaten Biak. Pada 2023 ini, revitalisasi bahasa daerah ada penambahan dua bahasa, yaitu bahasa Hatam di Kabupaten Manokwari, dan bahasa Moi di Kabupaten Sorong. (*)






















