Jayapura, Jubi – Siang itu di Kota Jayapura, Provins Papua jurnalis Jubi bertemu dengan seorang warga Jepang bernama, Aika Nagasawa dari Provinsi Yamaghata, dan bercerita tentang kisah Perang Dunia Kedua di Hollandia (sekarang Jayapura) dan Kabupaten Sarmi.
Nagasawa pun kaget karena dalam pertempuran di Sarmi dan Hollandia banyak tantara Jepang dari Provinsi Yamaghata yang tewas.
“Ya saya berasal dari Provinsi Yamaghata. [Saya] sangat terkejut mendengar kisah Perang Dunia Kedua di Hollandia Waktu itu. Saya baru mendengar langsung kisah ini,” kata wanita paruh baya itu belum lama ini.
Hal senada juga dikatakan Dr John Boekosrjom MSc, dosen dan Sekretaris Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua. Katanya, saat Perang Dunia Kedua di Pasifik Selatan, khususnya di wilayah Wakde Kabupaten Sarmi, dan Jayapura banyak tentara Jepang tewas di sana.
“Kebanyakan dari tentara Jepang yang tewas di Sarmi berasal dari Provinsi Yamagata Jepang,” kata Jhon Boekorsjom saat dihubungi Jubi.
Karena itu kata Boekorsjom, sejak 1994, Provinsi Irian Jaya saat itu, dan Pemerintah Yamagata Prefecture Jepang telah menjalin kerjasama dalam bentuk “Sister Region Program” dalam program Provinsi Kembar atau Twin Province.
Program Provinsi Kembar berdasarkan kebutuhan masing-masing dan hubungan serta kerja sama antar bangsa.
Boekorsjom yang pernah ikut program training di Provinsi Yamagata mengatakan, atas dasar memorandum saling pengertian antara Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya dan Pemerintah Prefecture Yamagata Jepang, Kerjasama Provinsi-Prefecture Bersaudara ditandatangani oleh Gubernur Provinsi Dati I Irian Jaya saat itu, Drs. J. Pattipi, dan Gubernur Pemerintah Prefecture Yamagata, Takahashi Kazuo.
Menurut Boekarsjom, program antara kedua provinsi kembar ini menyepakati mengembangkan bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, alih teknologi, dan pariwisata.
Program Provinsi Kembar ini telah berlangsung 15 tahun dan didukung oleh perubahan kebijaksanaan Provinsi Papua yang mengalami perubahan dalam struktur maupun sistem manajemen pemerintah sesuai dengan kebijaksanaan Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua Undang Undang Nomor 21 tahun 2001.
Katanya, Undang-Undang (UU) Otsus ini tentu saja memberikan kewenangan yang lebih luas kepada Provinsi Papua untuk mengembangkan Program Provinsi Kembar di berbagai bidang.
Program-program itu antara lain Cooperative Exchange Training yaitu mengundang para pegawai provinsi atau berbagai pemerintah kota atau bentuk pemerintahan lainnya
Pengiriman trainers dari Provinsi Papua sejak 1994 hingga dengan 2003 berjumlah 36 orang, yang terdiri dari technical trainers berjumlah 30 orang dan Cooperative Exchange Trainers sebanyak 6 orang.
“Seluruh biaya ditanggung oleh Pemerintah Yamagata Prefecture, dimana masing-masing orang menghabiskan dana kurang lebih 4.000.000 yen selama masa training 10-11 bulan,” kata Boekorsjom.
Tugu Yamagata di Sarmi
Tugu kisah Perang Dunia Kedua dibangun di Sarmi yang dinamakan Tugu Yamagata, sebab tentara Sekutu Amerika Serikat menghancurkan pertahanan Jepang di Hollandia pada 26 April 1944.
Panglima Angkatan Darat Jepang, Jenderal Inada, mundur ke hutan sebelah barat Sentani menuju Sarmi dengan pasukan berkekuatan 7.200 orang.
“Namun akibat kelaparan, sakit, bahkan dikejar dengan pasukan dan pesawat-pesawat terbang dan akhirnya tinggal 1.000 orang dari pasukan Jepang yang tiba di Wakde Sarmi,” tulis Arnold Mampioper dalam buku berjudul Jayapura Ketika Perang Pasifik.
Sekutu mendarat secara simultan di Teluk Humboldt (Hamadi) dan Teluk Tanah Merah, Depapre. Hal ini memotong jalur logistik pertahanan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Hatazo Adachi.Mundur ke Barat.
Sekitar 6.000 hingga 7.000 tentara Jepang yang selamat dari serangan awal di Hollandia terpaksa mundur ke arah barat menuju Sarmi. Jarak garis pantai antara kedua wilayah ini berkisar 200 kilometer.
Sebelumnya pada Jepang mendarat di Hollandia (Jayapura) pada 19 April 1942 Kompi ke-2 dan ke-3 Pasukan Pendarat Khusus Kure didukung oleh satuan angkatan laut Jepang, melakukan pendaratan tanpa perlawanan di Kawasan Teluk Humboldt, Vim dan Abepantai.
Kemudian pada Agustus 1942, Jepang kembali lagi menambah pasukan infanteri sebagai tentara pendudukan, maka ditempatkan Tentara ke-17 dibawah pimpinan Letnan Jenderal Harukichi Hyakutake.
Untuk selanjutnya pasukan ini digantikan oleh Tentara ke-18 dibawah pimpinan Jenderal Adachi. Hasil sadapan Sekutu terhadap komunikasi dan terbukanya kode Jepang (The Purple Code), maka diketahui terdapat 11.000 tentara Jepang yang ditempatkan di Hollandia. (*)






















Discussion about this post