Jayapura, Jubi – Puluhan warga di Korowai, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan dilaporkan mengungsi ke hutan sejak 22 Juli 2026. Warga yang mengungsi ini berada di kawasan perbatasan Kabupaten Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Boven Digoel di Provinsi Papua Selatan. Selain itu tiga warga dilaporan tertembak.
Sumber Jubi mengatakan, untuk sementara warga yang mengungsi dan telah terkonfirmasi terdiri dari 26 ibu-ibu dan satu anak. Mereka berada di salah satu lokasi di dalam hutan.
Akan tetapi menurut sumber itu, jumlah pengungsi bisa saja lebih banyak lagi, sebab masih banyak tempat yang dijadikan loksi pengungsian belum bisa terkonfirmasi karena berada di hutan yang luas. Selai itu ada kali yang sulit dilewati, dan tidak ada jaringan internet atau telepon untuk berkomunikasi.
“Ibu-ibu dan anak-anak mengungsi sejak 22 Juli 2026, sekitar pukul 11.00 [Waktu Papua] akibat 3 helikopter TNI menurunkan pasukan TNI di pinggir kali, area pemukiman warga sipil di Korowai Yahukimo, Papua Pegunungan,” kata sumber berinisial OB itu melalui pesan tertulisnya kepada Jubi, Kamis (30/7/2026) malam.
Menurut sumber itu, hingga kini ibu-ibu dan anak-anak terpencar masuk ke hutan mengamankan diri mengindari operasi yang dilakukan TN, sebab mereka mengeluarkan tembak secara serampangan dari darat maupun udara mengunakan helikopter.
“Parah pengungsi tersebar di mana-mana dan tidak dapat memastikan (dipastikan) jumlah secara keseluruhan. Keadaan pengungsi kini masih di hutan tanpa makanan, minum dan tidak ada tempat untuk tidur. Trauma [karena] operasi yang dilakukan oleh TNI,” ucapnya.
Selain itu, tiga warga dilaporkan tewas tertembak. Korban bernama Yatimin Wonda atau sering dipanggil Nareman, Wanengga Kogoya dan seorang lagi merupakan suku Korowai yang belum diketahui identitasnya.
Sementara itu, Manajemen Markas Pusat Komnas Tentara Pembebasan Nasiona Papua Barat (TPNPB) juga menyatakan adanya warga yang mengungsi di wilayah Kabupaten Yahukimo.

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari Papua Intelijen Service (PIS) TPNPB dari Boven Digoel bahwa militer Indonesia telah melakukan operasi militer di Korowai, Kabupaten Boven Digoel wilayah perbatasan antara Kabupaten Yahukimo dan Pegunungan Bintang, sejak 19 Juli-30 Juli 2026.
Menurut Sambom, berdasarkan laporan PIS, dalam operasi tersebut militer Indonesia menggunakan drone dan lebih dari tiga unit helikopter militer untuk operasi udara dan pengiriman pasukan ke dalam hutan di wilayah perbatasan.
“Dalam operasi sejak 19 Juli [2026], aparat militer Indonesia melakukan penembakan dari udara ke wilayah pemukiman warga sipil dan berlanjut hingga sekarang,” kata Sebby Sambom dalam siaran pers tertulisnya, Kamis (30/7/2026).
Katanya, operasi udara dan darat yang dilakukan oleh militer Indonesia itu untuk mengejar pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo setelah aksi penembakan terhadap Pilot Nicholas F Goselin pada 2 Juli 2026, setelah menerbangkan pesawat milik maskapai AMA memasuki wilayah yang ditetapkan sebagai zona merah oleh TPNPB di Yahukimo.
Sambom mengatakan, PIS TPNPB juga melaporkan bahwa operasi militer Indonesia tersebut mengakibatkan tiga orang warga sipil atas nama Yatimin YB Wonda, Wanenga Kogoya dan seorang warga sipil lainnya meninggal dunia.
“Masih banyak warga lainnya hilang. Sementara ratusan orang telah mengungsi dari Korowai ke arah Yahukimo, Pegunungan Bintang dan hutan-hutan sekitaran wilayah tersebut. Terdapat ibu-ibu hamil, anak-anak hingga lansia [yang mengungsi] negara harus bertanggung jawab,” ucapnya.
Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB mengimbau kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI, Agus Subyanto agar menghentikan operasi militer di permukiman warga sipil di Korowai.
Katanya, jika mau berperang silahkan datang langsung ke markas TPNPB karena mereka siap menghadapi mereka. TPNPB juga mendesak lembaga-lembaga kemanusiaan baik Palang Merah Indonesia dan internasional untuk menangani para pengungsi di Korowai dan lebih dari 122.931 warga sipil di Tanah Papua yang mengungsi akibat konflik bersenjata antara aparat militer Indonesia dengan TPNPB. (*)






















Discussion about this post