Jayapura, Jubi – Para pemilik tanah adat di sekitar komunitas Panguna bertemu pada Rabu, 16 September, untuk membahas pembakaran pada Minggu, 13 September 2026, dan memperbarui komitmen mereka terhadap rencana Pemerintah Otonom Bougainville untuk Pengembangan Kembali Tambang Panguna.
Dewan Sementara Pemilik Tanah Adat Panguna, para kepala suku, pemimpin komunitas, dan pemilik lahan dari Guava, Dapera, Moroni, dan Pirulari menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada Pemerintah Otonom Bougainville dan pengembang, Lloyds Panguna Metals and Energy Limited, atas tindakan individu yang terlibat dalam peristiwa 13 September, sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg, Jumat (18/9/2026).
Menteri Veteran Pemerintah Otonom Bougainville Linus Dake Jr, Anggota Parlemen Ioro Utara David Miringtoro, CEO LPMEL Hulala Tokome, Kepala Polisi Francis Tokura, para veteran, dan pemangku kepentingan terkait hadir untuk menyaksikan acara tersebut.
Perwakilan pemilik lahan berjanji untuk berkomitmen penuh memastikan bahwa Pengembangan Kembali Tambang Panguna berjalan tanpa ancaman gerakan ‘tidak menambang’, dan menyerukan penghentian perusakan peralatan dan properti di semua lokasi, serta tindakan pembalasan apa pun.
Kepala Suku Guava, Titus Miri, saudara dari mendiang Francis Ona tokoh pejuang Bougainville merdeka, yang telah mengambil sikap tegas terhadap gerakan ‘anti-pertambangan’, menyatakan komitmen sepenuh hati keluarganya untuk bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan dan memungkinkan ABG dan mitra pembangunan LPMEL untuk secara bebas memajukan pembangunan kembali Tambang Panguna.
“Saya menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada Pemerintah dan Lloyds Metals; Anda telah berinvestasi begitu banyak, dan rakyat kami sendiri telah melakukan ini. Sungguh memalukan,” katanya.
“Sebagai seorang Kepala Suku, saya harus membela tanah saya – itu adalah perjuangan saya. Kita semua memiliki tanggung jawab. Tetapi apa yang telah terjadi telah menyebabkan saya sangat menderita.”
“Saya dan keluarga saya, di situlah kami akan berdiri,”katanya.
Tidak ada lagi permainan; mari kita lanjutkan dan wujudkan sesuatu untuk Bougainville,” ucap Kepala Suku Miri.
Semua pemangku kepentingan sepakat untuk bekerja sama erat dengan Kepolisian dan membiarkan hukum berjalan sebagaimana mestinya.
Perwakilan Veteran juga berkomitmen untuk memainkan peran pendukung tanpa ancaman kekerasan.
CEO LPMEL, Bapak Tokome, mengimbau semua pemangku kepentingan yang hadir untuk terus berdamai dan menemukan jalan keluar bersama.
“Ada cara dan proses yang dapat kita gunakan untuk menyelesaikan masalah kita. Itulah cara Bougainville. Kita telah kehilangan mesin dan peralatan senilai jutaan kina, tetapi saya mengimbau semua orang: kekerasan dan penghancuran tidak boleh menjadi cara kita menyelesaikan perbedaan,” katanya.
“Apa yang kita katakan dan tindakan kita hari ini akan membangun atau memengaruhi generasi muda dan anak-anak kita di masa depan,” kata Toomey.
Ia menambahkan bahwa Lloyds tidak akan pergi ke mana pun, dan mereka berada di Paguna bukan hanya untuk tambang.
Ia lebih lanjut menyatakan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja, melatih kaum muda, mendukung kesehatan dan pendidikan, membangun infrastruktur, menciptakan dan mendukung bisnis lokal, serta meninggalkan komunitas yang berkelanjutan untuk generasi mendatang.
“Kita sedang membangun negara, tetapi kita tidak dapat melakukan semua hal ini jika kita terus membakar properti, jika kita terus bertikai. Ketika kita memiliki perbedaan pendapat, mari kita selesaikan,” ujarnya.
Katanya, ap yang telah terjadi, telah terjadi, dan pihaknya hanya dapat bergerak maju dari sini. Mereka yang bertanggung jawab akan ditindak oleh polisi – mereka akan melalui proses hukum.
“Sekali lagi, kami mengimbau semua orang, jangan main hakim sendiri,” pungkas Tokome.
Catatan jubi.id mendiang tokoh pejuang kemerdekaan Francis Ona (15 Februari 1953 – 24 Juli 2005) adalah pemilik tanah adat dan seorang pejuang Bougainville yang mendirikan Tentara Revolusioner Bougainville (BRA) pada 1998.
Dengan Ona sebagai Panglima Tertinggi, BRA melawan pemerintah Papua Nugini (PNG) dalam konflik Bougainville .
Ona mulai bekerja di tambang Panguna pada 1979 tetapi kemudian balik melawan perusahaan tambang di atas tanah adatnya, yang menurutnya perusahaan asing itu telah mengeksploitasi lahan tanpa memberikan banyak manfaat kepada pemilik tanah adat seperti dirinya.
Konflik Bougainville dimulai setelah Ona mendirikan BRA pada 1988. Kelompok ini melancarkan serangan untuk menyabotase tambang sebelum mendeklarasikan kemerdekaan Bougainville dari PNG pada tahun 1989.
Setelah polisi dan tentara gagal mengalahkan gerilyawan , pemerintah menarik diri dari Bougainville pada 1990 dan tambang Panguna ditinggalkan.
Ona membentuk Pemerintahan Sementara Bougainville (BIG) dan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden.
Namun, Ona berselisih dengan faksi-faksi BRA lainnya dan perang saudara yang berkepanjangan dimulai di Bougainville, terutama berdasarkan garis suku.
Pasukan PNG memasuki kembali Bougainville pada akhir tahun 1990, perlahan-lahan merebut kembali pulau itu dan bernegosiasi dengan kelompok moderat BRA.
Konflik berakhir dengan gencatan senjata tahun 1998 dan perjanjian damai tahun 2001 yang mengarah pada pembentukan Daerah Otonom Bougainville (ABG).
Menolak untuk melucuti senjata atau mengakui ABG, faksi Ona memisahkan diri dari BRA dan mundur ke ‘zona terlarang’ di sekitar tambang, tempat Ona meninggal pada tahun 2005. (*)























Discussion about this post