• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Pembinaan vokasi di SLB, bekal kemandirian anak disabilitas 

September 18, 2026
in Indepth Story, Mamta, Penkes
Reading Time: 8 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Aryo Wisanggeni G
Pendidikan Vokasi

Guru SLB Negeri Pembina Papua di Kota Jayapura, Edward Fonataba sedang mengajar dua siswanya memainkan alat musik. Pelajaran itu bagian dari pendidikan vokasi yang diberikan di SLB Negeri Pembina Papua. - Jubi/Sudjarwo Husain

0
SHARES
0
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Sekolah Luar Biasa atau SLB Negeri Pembina Provinsi Papua menambah porsi pendidikan vokasi bagi para siswa dengan disabilitas tingkat SMP dan SMA di sekolah itu. Beragam program pendidikan vokasi itu diharapkan akan membekali para murid SLB Negeri Pembina Provinsi Papua untuk mampu hidup secara mandiri setelah lulus nanti.

Suara dentingan piano memecah kesunyian dari balik dinding salah satu ruangan Sekolah Luar Biasa atau SLB Negeri Pembina Provinsi Papua, kawasan Buper Waena, Kota Jayapura, Rabu (12/8/2026) pagi. Di sebuah ruangan yang juga merangkap sebagai bengkel vokasi salon kecantikan itu, tak tampak jejeran meja tulis layaknya kelas reguler. Yang tampak hanya Edward Fonataba bersama dua orang siswanya, Adriel dan Agnes, yang sedang berlatih alat musik piano.

Aktivitas itu merupakan bagian dari kelas bengkel vokasi yang rutin diterapkan bagi siswa-siswa SLB Negeri Pembina Papua. Para siswa diarahkan untuk melatih berbagai keterampilan praktis secara rutin setiap dua kali dalam seminggu (Rabu dan kamis), agar mereka memiliki bekal keahlian untuk menghadapi masa depan.

​Berbagai jenis keterampilan dilatihkan secara intensif dan rutin kepada para murid sekolah itu. Mulai dari bermain musik, membuat noken, membatik, kerajinan kriya kayu, tata boga, teknologi informasi dan komunikasi, tata kecantikan, hingga akupresur dan suvenir.

Pihak sekolah menyadari sepenuhnya bahwa jika mereka hanya berfokus pada materi akademis semata, para siswa mereka akan kesulitan untuk hidup mandiri di tengah masyarakat setelah lulus nanti. Pentingnya keterampilan praktis ini juga dijabarkan secara rinci oleh pimpinan sekolah yang setiap hari mengamati proses dinamika pembelajaran para siswa.

Kepala SLB Negeri Pembina Papua, Irwanto Pairunan, membeberkan pola pembelajaran di sekolahnya dirancang bertahap mengikuti jenjang pendidikan anak, agar penanganannya tepat sasaran. Ketika anak-anak masih berada di bangku Sekolah Dasar, para guru masih mengutamakan pemberian teori dasar.

Namun, ketika mereka menginjak jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, porsi pembelajaran mulai digeser secara signifikan ke arah vokasi atau keterampilan kerja. ​Kalau kami, di SMP itu kelas vokasi sudah dimulai. Kalau tahun-tahun kemarin itu 60 persen vokasi, dan 40 persen teori. Sekarang 70 persen vokasi, kemudian 30 persen teori,” jelas Irwanto Pairunan.

BERITATERKAIT

Kematian anak disabilitas di Merauke: Ayah korban jadi tersangka

SLB di Papua kekurangan Guru Pendidikan Luar Biasa

Perjuangan disabilitas di Kota Jayapura mencari nafkah

Para disabilitas netra berjualan di emperan: ‘Kalau tidak jualan, saya makan apa?’

Pendidikan Vokasi
Sejumlah siswi SLB Negeri Pembina Provinsi Papua di Kota Jayapura sedang serius merajut noken. Pelatihan merajut merupakan salah satu program pendidikan vokasi di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua. – Jubi/Sudjarwo Husain

Irwanto menjelaskan ketika anak masuk SMP, pihak sekolah menawarkan pilihan program terlebih dahulu. Dengan tawaran itu, para murid baru dapat melihat dan mengenali mana bidang yang paling sesuai dengan minat serta bakat mereka.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Untuk menunjang proses pembelajaran vokasi tersebut, SLB Negeri Pembina Papua membuka tujuh program bengkel vokasi pada tahun ajaran 2026/2027—meliputi tata boga, kriya kayu, teknologi informasi dan komunikasi, tata kecantikan, akupresur, serta membatik dan pembuatan suvenir. Penentuan jenis keterampilan itu diputuskan melalui musyawarah bersama para guru, agar benar-benar sesuai dengan kemampuan, kondisi fisik, dan kesiapan mental setiap murid,” ujar Irwanto.

​Pendekatan vokasi yang serupa juga diterapkan secara konsisten di SLB Negeri 1 Kota Jayapura. Wakil Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Kota Jayapura, Eduard Tampubolon mengatakan pihak sekolah memberikan perhatian yang sangat besar kepada pemenuhan keterampilan dan keahlian praktis untuk membekali para siswa dengan keahlian khusus di luar mata pelajaran reguler.

​”Keterampilan tata boga seperti memasak sudah mulai diajarkan sejak jenjang SMP. Sementara, untuk program tata busana atau menjahit disiapkan bagi siswa tingkat SMA di ruang kelas lantai dua,” kata Eduard.

​Eduard menambahkan, para guru harus pandai menyesuaikan diri dengan kondisi dan suasana hati atau mood para siswa. Sebab, mengajar anak-anak berkebutuhan khusus menuntut kesabaran yang tinggi, karena guru tidak bisa memaksakan materi berjalan seratus persen sesuai standar kurikulum sekolah umum.

“Segala hal yang diajarkan, baik itu hitungan matematika sederhana maupun keterampilan dasar tangan, selalu disesuaikan secara fleksibel dengan batas kemampuan dan kenyamanan anak,” ujarnya.

Mengasah keahlian bermusik

​Edward Fonataba, tampak telaten mendemonstrasikan posisi jari pada tuts keyboard hitam putih di hadapan dua siswanya, Adriel dan Agnes. Pria berusia 32 tahun itu kelahiran Jayapura, berdarah Papua-Jawa. Ia seorang pengajar berlatar belakang disabilitas netra dengan klasifikasi low vision.

Kedua siswanya yang juga memiliki hambatan penglihatan itu menyimak dengan saksama penjelasan Fonataba. Adriel yang duduk di depan keyboard mencoba mengikuti irama tangan gurunya, sementara Agnes berdiri di belakang sambil menyenandungkan nada yang sedang dipelajari.

​Edward Fonataba adalah alumni SLB Negeri Pembina yang pernah meniti hari-hari belajar dari tingkat dasar, hingga ia sukses melangkah ke perguruan tinggi di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan pendidikan khusus atau PLB. Pengalaman masa lalunya saat mengikuti berbagai ajang lomba antarsekolah luar biasa hingga ke luar Papua menjadi bekal berharga dalam mendedikasikan hidupnya bagi anak-anak didiknya.

​”Supaya bisa mengembangkan apa yang mereka mau, ketika keluar dari sini, mereka tidak down begitu saja, tetapi bisa menggunakan apa yang mereka punya. Mereka dapat di sekolah,  keterampilan untuk bisa kerja di luar, kan bisa mendapatkan penghasilan,” ujarnya.

​Sebagai pengajar yang mendampingi langsung para siswa di ruang musik, Fonataba memaparkan bagaimana rutinitas latihan dijalankan. Juga dinamika yang terjadi di ruang kelasnya, saat ia membimbing anak-anak berkebutuhan khusus.

​”Hari praktik itu Rabu-Kamis. Jadi, Senin-Selasa kami berfokus di kelas. Kami di kelas untuk proses pembelajaran seperti biasa, dengan mata pelajaran yang ada. Khusus untuk Rabu-Kamis, itu untuk keterampilannya,” ungkapnya.

​Menurutnya, proses pengenalan keterampilan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan disesuaikan dengan minat para murid. Para guru juga mengamati kebiasaan para siswa saat mulai berbaur di lingkungan sekolah, sehingga mengenali bakat para siswanya.

​”Ketika anak masuk, tidak langsung seperti ini. Pasti kita masukkan di kelas dulu, kita lihat, Oh, maunya di mana? Oh, mereka maunya menyanyi, mereka maunya ini, nah, baru kita mulai. Oh, ternyata dia maunya menyanyi, dia cocoknya di sini, dia cocoknya bermain musik. Pokoknya sesuai dengan bidangnya, baru kami arahkan ke keterampilan yang sesuai dengan dia punya mau,” katanya.

​Saat mengajar musik kepada siswa tunanetra yang belum memiliki dasar sama sekali, Eduard menekankan pentingnya pendekatan yang telaten, mulai dari pengenalan rabaan bentuk instrumen hingga penguasaan tuts dasar secara bertahap. “​Jadi, untuk cara membimbing mereka sendiri, kita biasakan dulu tangannya. ‘Coba raba tutsnya’, ‘oh, ternyata bentuknya seperti ini’, ‘keyboard seperti ini’. Lalu kita mengarahkan,” ujar Fonataba.

​Menurutnya, kelas musik yang diampunya saat ini baru diikuti oleh dua orang siswa, yakni Adriel dan Agnes. Adriel merupakan alumni SD SLB Negeri Pembina Provinsi Papua, dan telah terbiasa dengan lingkungan SMP SLB Negeri Pembina Provinsi Papua. Sedangkan Agnes lulusan SD SLB lain, dan kini masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya.

Beragam pendidikan vokasi

Tak jauh dari ruang bengkel vokasi musik yang dilatih Edward Fonataba, kesibukan lain terlihat di bengkel keterampilan merajut. Di beranda ruangan itu, Selni tampak mendampingi muridnya, kebanyakan perempuan, yang belajar menganyam benang wol dan merajut noken.

​Wanita paruh baya itu telah mendedikasikan dirinya sebagai tenaga pendidik honorer di SLB sejak tahun 2005. Dalam kesehariannya, ia mendidik murid yang memiliki beragam kekhususan. ​”Kalau di di kelas keterampilan, ada [murid] tunarungu, tunawicara, dan grahita. Kalau kita kasih pelajaran, ada yang bisa menangkap [materi pelajaran], ada yang tidak,” tutur Selni.

Tiap mengajar, Selni duduk berdampingan dengan siswinya, satu demi satu, mengajarkan cara menganyam benang wol untuk dijadikan tas noken dan taplak meja. “Kelas vokasi ini untuk melatih siswa agar bisa mandiri. Mereka bisa buat hasil kerajinan tangan yang nanti bisa dijual,” katanya.

Hasil rajutan siswanya banyak yang sudah laku terjual saat mengikuti berbagai pameran. “Banyak, sudah banyak yang laku. Orang sering beli kalau ada pameran. Hasil kerajinan anak-anak ini sering diikutkan dalam pameran,” ujar Selni.

Ada pula siswa SLB Negeri Pembina Provinsi Papua yang belajar membatik. Keterampilan membatik itu diajarkan Sugiharti di ruang kelas yang berhadapan dengan ruang kelas Selni.

Sugiharti adalah guru honorer yang sudah mengabdi di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua sejak tahun 2012. Sebenarnya, ia tak punya layar belakang membatik. Karena SLB Negeri Pembina Provinsi Papua kekurangan guru khusus, Sugiharti pun diminta untuk mengajar vokasi di bengkel kerja membatik.

​”Saya tidak punya basic sebenarnya. Tapi kita ikut belajar, sampai akhirnya bisa, dan sekarang setiap dua kali seminggu saya mengajar siswa membuat batik,” kata Sugiharti.

Pendidikan Vokasi
Pelajaran keterampilan membatik di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua, Kota Jayapura. Pelajaran itu merupakan satu program pendidikan vokasi di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua. – Jubi/Sudjarwo Husain

​Di bengkel kerja membatik, Sugiharti membimbing dua siswi SMA SLB Negeri Pembina Provinsi Papua dengan hambatan pendengaran. Ia menerapkan metode peraga langsung—mulai dari menggambar pola, hingga menggunakan canting.

“Ada dua siswa yang ikut pelajaran bengkel batik ini, dua-duanya tuna rungu. Saya latih mereka pelan-pelan, lama-lama juga paham mereka. Yang penting, dikasih tahu contohnya begini-begini, mereka cepat memahami. Pertama, kita kasih contoh dulu, baru mereka mengikuti,” ujarnya.

SLB Negeri Pembina Provinsi Papua juga memiliki bengkel kerja kriya kayu. Di sana, sayup-sayup terdengar suara mesin skap kayu berderu. Instruktur bengkel vokasi kriya kayu itu adalah Hamsal Lumele, guru berusia 46 tahun yang sudah mengajar vokasi kriya kayu di SLB sejak tahun 2005.

​”Saya di SLB ini dari tahun 2005. Mulainya itu [sebagai guru dengan status] honorer, sampai 2015 baru diangkat. Jadi selama itu saya menangani di kriya kayu,” kata Hamsal.

​Di bengkel kriya kayu itu, Hamsal melatih siswa dengan beragam kekhususan—terutama siswa tunarungu, tunagrahita, dan tunawicara yang memiliki keunggulan tersendiri dalam hal kreativitas. Karena Hamsal bukan berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB), ia memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa isyarat formal. Namun Hamsal tetap bisa berkomunikasi dengan murid-muridnya, memakai gerakan isyarat praktis yang mudah dipahami siswanya.

​”Di kriya kayu ini, [kebanyakan murid [dengan kondisi] tunarungu, tunagrahita, karena mereka lebih cepat. Yang paling cepat [belajar keterampilan kriya kayu] itu anak-anak tunarungu dan tunawicara dengan pendengaran. [Mereka] itu lebih cepat dari segi kreativitasnya,” ujar Hamsal.

Di bengkel kriya kayu yang ia tangani, para murid Hamsal menghasilkan beraneka macam perkakas dapur, seperti centong, sendok, rak, dan sebagainya. ​”Sudah banyak yang mereka buat, terutama perkakas dapur. Ada yang sudah laku terjual juga. Beberapa di antaranya kami ikutkan dalam lomba kriya antar SLB se-nasional,” katanya.

Hamsal menjelaskan proses mengajarkan keterampilan kriya kayu kepada siswa difabel membutuhkan kesabaran ekstra, karena harus dilakukan secara berulang-ulang hingga anak benar-benar menguasainya. Terkait porsi kurikulum, Hamsal menegaskan bahwa porsi pembelajaran di SLB memang lebih ditekankan pada keterampilan praktis ketimbang materi akademik. Hal itu guna memberikan bekal keterampilan tertentu kepada para siswa, agar mereka mandiri ketika lulus nanti.

​”Kalau di kurikulumnya, [porsi pelatihan] keterampilan 70 sampai 75 persen. Kalau SMP itu dia 60 persen, kalau sudah SMA itu sudah 75 persen. Sedangkan [porsi] mata pelajaran itu hanya 25 persen,” ujarnya.

Pentingnya vokasi untuk anak disabilitas

Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tak bisa disamakan dengan pola pengajaran konvensional. Pemerhati dan Pengamat Pendidikan Papua, James Modouw mengatakan hakikat pendidikan khusus justru terletak pada bagaimana mengenali, merawat, dan mengoptimalkan keistimewaan lain yang dimiliki setiap anak.

​”Memang setiap keterbatasan fisik itu punya kelebihan pada kemampuan lain. Nah, itu yang selalu harus bisa diidentifikasi,” ujar James Modouw.

​Ia mencontohkan, seorang anak dengan hambatan pendengaran (tuna rungu) atau hambatan wicara (tuna wicara) memiliki kecakapan dan keunggulan di bidang lain, dan kecakapan itu harus diperkuat. Menurutnya, pendidikan vokasi penting untuk membekali keterampilan praktis yang selaras dengan bakat dan minat peserta didik.

​Melalui jalur vokasi, anak-anak berkebutuhan khusus dipersiapkan untuk mengenali potensi terbaik mereka sejak dini. Modouw menyatakan perguruan tinggi yang memiliki jurusan keguruan dan pendidikan luar biasa dituntut untuk semakin adaptif, membekali para calon guru SLB dengan keahlian spesifik agar mampu mendampingi proses tumbuh kembang anak didiknya nanti.

​Meski arah pengembangan vokasi ini dinilai sudah pada jalur yang benar, jalan menuju kemandirian para siswa disabilitas di Papua masih terkendala beberapa hal. Tantangan terbesarnya adalah kurangnya sarana dan prasarana untuk mengajarkan berbagai keterampilan yang diajarkan di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua

​James Modouw mengungkapkan bahwa alat peraga atau instrumen belajar untuk anak berkebutuhan khusus memiliki spesifikasi yang jauh berbeda dari sekolah pada umumnya. Jika alat-alat penunjang dasar seperti huruf braille atau perangkat grafis konvensional masih relatif mudah diakses di dalam negeri, lain halnya dengan perlengkapan vokasi modern.

​”Banyak hal untuk vokasi, seperti alat elektronik dan lain-lain untuk anak-anak berkebutuhan khusus tidak gampang didapat di dalam negeri. Biasanya [alat keterampilan bagi anak berkebutuhan khusus] harus dipesan dari luar negeri,” jelasnya. Modouw menekankan anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak konstitusional yang sama persis dengan anak-anak pada umumnya, termasuk dalam mengakses fasilitas belajar yang layak.

Pentingnya keterampilan vokasi sebagai bekal kemandirian anak disabilitas juga diakui oleh ketua Pertuni Papua, Stefanus Imbiri. Ia adalah penyandang disabilitas netra yang pernah mengenyam pendidikan di SLB Bagian A (khusus tunanetra) di Biak pada era 1970-an hingga 1980-an.

Pendidikan Vokasi
Seorang siswa SLB Negeri Pembina Provinsi Papua di Kota Jayapura sedang membuat perkakas dapur berbahan kayu di bengkel kerja kriya kayu sekolah tersebut. Pendidikan keterampilan kriya kayu merupakan salah program pendidikan vokasi di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua. – Jubi/Sudjarwo Husain

Imbiri menuturkan saat ia bersekolah para siswa tidak hanya menerima pelajaran akademis. Imbiri dan teman-temannya juga digembleng dengan berbagai keterampilan (life skills)—mulai dari urusan rumah tangga hingga keterampilan praktis untuk bertahan di tengah masyarakat. Saat bersekolah di sana, Imbiri diajari beragam kecakapan—dari memasak hingga membuat kerajinan anyaman.

“Semua keterampilan mau masak, mau anyaman, apapun, semua dilatih di situ. Jadi itu ada pelajaran yang mereka bilang orientasi dan mobilitas, itu supaya bisa mandiri,” kata Stefanus.

Ketua Forum Komunitas Disabilitas Kota Jayapura sekaligus Sekretaris Pertuni Provinsi Papua, Oryel Kissya menuturkan pendidikan dan pelatihan keterampilan adalah fondasi utama untuk menyiapkan anak berkebutuhan khusus menjadi sumber daya manusia yang mandiri. Dengan vokasi, lulusan SLB  tak hanya lulus membawa selembar kertas ijazah, namun memiliki bekal untuk bekerja.

Menurutnya, SLB harus menyelenggarakan pendidikan yang mampu menyiapkan lulusannya untuk menghadapi realitas hidup. Pendidikan di SLB tidak boleh membiarkan anak didik dan lulusannya menjadi pihak yang terpinggirkan karena tidak memiliki keterampilan tertentu.

​”Supaya nanti hasil yang mereka keluar dari sana itu bukan cuma sekedar kertas yang diberikan, tapi bisa bermanfaat buat diri mereka sendiri juga. Supaya mereka juga mendapat hak yang layak,” ungkapnya. Keterampilan vokasi yang diasah sejak bangku sekolah, diharapkan mampu menjadi jalan terang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berdiri di atas kaki sendiri, memiliki kepercayaan diri, dan hidup mandiri setelah lulus nanti. (*)

Continue Reading
Tags: DisabilitasPendidikan Luar BiasaPendidikan Vokasisekolah luar biasaSLBSLB Negeri Pembina Provinsi Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Kamatian anak disabilitas

Kematian anak disabilitas di Merauke: Ayah korban jadi tersangka

August 19, 2026
Guru Pendidikan Luar Biasa di SLB Negeri Pembina Papua, Kota Jayapura, melatih dua muridnya bermain musik. - Jubi/Sudjarwo Husain

SLB di Papua kekurangan Guru Pendidikan Luar Biasa

August 12, 2026
disabilitas

Perjuangan disabilitas di Kota Jayapura mencari nafkah

March 2, 2026

Para disabilitas netra berjualan di emperan: ‘Kalau tidak jualan, saya makan apa?’

January 21, 2026

Sepekan hilang, penyandang disabilitas di Sorong ditemukan tanpa busana

February 15, 2025

Sudahkah Pilkada Papua 2024 inklusif terhadap disabilitas netra?

December 30, 2024

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara