Manokwari, Jubi — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat menggunakan 8 ton garam untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) guna memicu hujan, mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah.
Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, mengapresiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), SKK Migas, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan bahan baku untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca itu.
“Bahan sudah ada, hari ini kita sudah saksikan bersama pesawat garam yang sudah disiapkan dan hari ini pesawat akan terbang selama kurang lebih dua jam untuk satu ton bahan modifikasi cuaca,” kata Dominggus Mandacan, Rabu (14/10/2026).
Menurut Mandacan, Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor, Sekda Papua Barat, Ali Baham Temongmere, Perwakilan Kodam XVIII/Kasuari, Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Alfred Papare, Ketua Pengadilan Tinggi, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Barat meninjau pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di Bandar Udara Rendani, Manokwari.
Peninjauan ini untuk memastikan penanganan asap dan cuaca buruk yang mengganggu aktivitas penerbangan, serta mobilitas masyarakat di wilayah Papua Barat dapat teratasi dengan baik.
Operasi modifikasi cuaca ini difokuskan tidak hanya di sekitar Manokwari, juga mencakup wilayah lain di Papua Barat, terutama Kabupaten Kaimana, Fakfak, dan Bintuni.
“Kami berharap langkah ini dapat menghilangkan kabut asap sehingga seluruh aktivitas masyarakat, khususnya sektor penerbangan, dapat kembali normal,” ucap Mandacan.
Katanya, pada tahap awal, sebanyak 4 ton bahan semai (garam) telah disiapkan. Dengan kapasitas terbang yang mampu membawa 1 ton per penerbangan, operasi ini dijadwalkan berlangsung secara intensif hingga kondisi cuaca dan udara kembali bersih.
Pihak ketiga pelaksana operasi modifikasi cuaca menyiapkan sebanyak 8 ton garam (NaCl) untuk mendukung penyemaian awan di wilayah Papua Barat.
Koordinator Lapangan Pelaksanaan OMC Papua Barat dari PT Smart Cakrawala Aviation (operator mitra BNPB), Fais Ramadan, mengatakan bahwa dari 8 ton garam yang disiapkan, sebanyak 4 ton sudah tiba di Bandara Rendani, Manokwari, sisanya masih dalam perjalanan.
“Kita sudah mempersiapkan 8 ton garam, saat ini dalam perjalanan setengahnya dan yang sudah ready ada 4 ton,” kata Fais Ramadan.
Menurut Fais, penentuan lokasi penyemaian garam sepenuhnya mengacu pada analisis dan arahan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Katanya, tim di lapangan terus memantau pertumbuhan awan cumulus potensial yang masuk ke wilayah Papua Barat, khususnya di area prioritas yang memiliki titik hotspot.
“Untuk perencanaan saat ini masih belum ada arahan dari pihak BMKG untuk penyemaian di mana. Nanti akan kita pantau terus bersama ritual awan yang potensial. Ketika sudah masuk ke wilayah Papua Barat, apalagi wilayah prioritas titik hotspot, di situ akan kita lakukan penyemaian,” ucapnya.
Katanya, sekali penerbangan, pesawat OMC mampu membawa hingga 1 ton garam. Jumlah sortie atau frekuensi penerbangan tiap harinya akan disesuaikan dengan kondisi awan dan rekomendasi BMKG.
Mengenai rentang waktu terjadinya hujan setelah proses penyemaian kata Fais, hal itu sangat bergantung pada tingkat kejenuhan awan.
“Jika kondisi awannya sudah jenuh, perkiraan hujan akan turun sekitar 1 hingga 3 jam setelah penyemaian. Namun jika awan belum terlalu padat, hujan kemungkinan baru akan turun pada malam harinya,” kata Fais.
Fais menjelaskan, air hujan tersebut aman dan tidak berdampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan. Garam yang digunakan adalah garam dapur murni dan jumlah yang disemai sangat sedikit jika dibandingkan dengan volume air yang ada di dalam awan.
Selain itu, sudah dilakukan pengujian terkait dampak lingkungan dan tidak ada masalah, sebab garam itu seperti garam dapur pada umumnya.
Pelaksanaan OMC di Papua Barat dijadwalkan berlangsung hingga Kamis (15/10/2026), dan akan diperpanjang tergantung pada evaluasi dan arahan lebih lanjut dari BNPB.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi Rendani Manokwari, Sony Hartono, mengatakan bahwa musim hujan di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya diprediksi mulai akhir Oktober.
Katanya, sebelum memasuki musim hujan, kondisi cuaca di wilayah tersebut cenderung labil dan belum konsisten.
“Kalau misalnya belum musim hujan, namun hujan itu bisa terjadi namun tidak konsisten, kadang ada, kadang tidak, kadang lebat,” ujar Sony.
Namun, ia memastikan bahwa ketika musim hujan tiba, intensitas curah hujan akan menjadi lebih konsisten dengan frekuensi yang hampir terjadi setiap hari.
Terkait dengan kondisi arah angin yang memengaruhi sebaran asap, Sony mengungkapkan bahwa arah angin saat ini masih dominan bertiup dari arah timur ke arah barat dengan kekuatan yang cukup kuat.
Ini menyebabkan asap dari Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan yang sebelumnya sempat berdampak kini tertahan dan tidak mengarah ke Manokwari.
Kondisi itu membuat kualitas udara dan cuaca di Manokwari dalam beberapa hari terakhir terpantau relatif baik karena sebaran asap tidak mengarah ke wilayah tersebut.
“Karena angin timur sangat kuat, tidak bisa belok ke arah utara, jadinya anginnya akan terus dari wilayah selatan bagian Papua, terus dari Merauke, Timika, Kaimana, Fakfak, terus sampai ke arah barat hingga Maluku,” ucapnya. (*)





















Discussion about this post