Manokwari, Jubi – Ketua DPR Papua Barat, Orgenes Wonggor menyatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat belum maksimal menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga menyebabkan kabut asap yang masih terjadi di beberapa daerah di provinsi itu.
Misalnya karhutla, kabut asap dan krisis air bersih di Kabupaten Fakfak, Teluk Bintuni, Kaimana, Teluk Wondama, dan Manokwari Selatan. Padahal setiap tahun dianggarkan dana darurat bencana.
Terparah di Kabupaten Fakfak, di sana kabut asap mulai menggangu warga di kawasan kota, dan krisis air bersih dalam beberapa bulan terakhir ini.
“Pemerintah provinsi terutama instansi terkait kurang maksimal menangani masalah ini. Waktu perubahan musim hujan ke musim kemarau harus ada tim yang dibentuk, misalnya dari [Dinas] Kehutanan tugasnya apa, Dinas Kesehatan tugasnya apa, begitu juga Dinas Perkebunan serta BPBD,” kata Orgenes Wonggor, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, dampak dari karhutla yang menyebabkan kabut asap, dapat mengakibatkan warga mengalami ISPA. Di sisi lain, kekeringan menyebabkan warga kesulitan mendapat air bersih dan kebun petani gagal panen.
“Tim ini sudah harus ada, seketika ada bencana mereka turun, jangan sampai terjadi bencana dulu baru bentuk tim,” ucap politikus Partai Golkar itu.
Katanya, dalam menangani bencana, seperti ini tidak boleh hanya dibebankan ke pemerintah kabupaten. Peran dari pemprov dibutuhkan.
Di di Distrik Karas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, warga tak hanya menghadapi masalah kabut asap akibat karhutla, juga kekeringan yang terjadi tiga bulan terakhir.
“Kebakaran hutan di musim kering ini mulai muncul dari belakang Pulau Tiga sampai sebelah area Pelabuhan Karas,” ujar warga Kampung Malakuli, Distrik Karas, Rizal Rumodar.
Rizal Rumodar mengatakan, kebakaran hutan sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Pohon pala hangus terbakar hingga sejumlah kebun milik warga juga dilahap si jago merah.
“Api muncul dari dalam hutan, dan masyarakat Distrik Karas tidak tahu pasti penyebabnya, intinya menyebar karena panas kering,” ucapnya.
Imbas dari kabut asap yang meluas di Distrik Karas, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Fakfak meliburkan aktivitas belajar mengajar di sekolah untuk sementara.
Sekolah yang diliburkan ialah SD Negeri Karas, SMP Negeri Karas, hingga SMA Karas.
Jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap karhutla, juga membuat sebagian nelayan di Distrik Karas memilih tidak melaut.
Salah satunya adalah Rolly yang sudah dua pekan tidak memancing karena kondisi laut berkabut.
“Kami sudah tidak pergi melaut lagi karena kondisi seperti ini, sementara bertahan dulu karena keadaan. Di laut itu kabut tra dapat lihat jelas,” kata Rolly.
Ia mengaku, hanya bisa berpasrah dengan keadaan kondisi alam tersebut.
“Mau bagaimana lagi, kita mau paksa keadaan juga takut ada kenapa-kenapa kita di laut, memilih di rumah saja sembari apa yang bisa kita kerja ya kerjakan,” ucapnya.
Kapolres Fakfak, AKBP Naim Ishak, mengatakan, pihaknya beberapa hari terakhir ini mengedukasi warga sekaligus membagi masker di beberapa titik.
“Hari ini pembagian masker kurang lebih 600 masker dibagikan ke anak sekolah dan masyarakat di sekolah seperti SMP Negeri 1 Fakfak dan di SD 2 Fakfak,” kata AKBP Naim Ishak. (*)





















Discussion about this post