Manokwari, Jubi — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan melanda Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat yang berdampak terhadap aktivitas sekolah di Distrik Bomberai dan hasil pertanian warga di Distrik Tomage.
Di SMK Negeri 2 Bomberai, pelajar terpaksa menjalani rutinitas sekolah dengan menggunakan masker sebab kobaran api yang menyala sejak Rabu malam (23/9/2026), telah mendekati sekolah hingga pagi.
Andi, salah satu guru di SMK Bomberai mengatakan meski asap dari kebakaran hingga ke sekolah, pihaknya tetap masuk sekolah menjalankan tugas mengajar.
“Iya, aktivitas masih tetap tatap muka tapi ada siswa memakai masker,” kata Andi, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, sebelum mengikuti aktivitas belajar hari ini, guru dan murid sempat memadamkan api di dekat sekolah sekitar pukul 10.00 WP (Waktu Papua).
“Kami berupaya dengan peralatan seadanya mencoba memadamkan titik hotspot api,” ucapnya.
Katanya, belum ada instruksi terkait aktivitas pendidikan di wilayah tersebut, baik pemberlakuan jam belajar online dari rumah atau kebijakan meliburkan murid.
Selain masalah karhutla, kekeringan yang melanda Distrik Bomberai dan Distrik Tomage membuat lahan pertanian warga mengering.
Salah satu petani lokal di kawasan Kinam, Sayani mengungkapkan, beratnya kondisi yang dihadapi warga kini.
Lahan pertanian yang mengering menyebabkan tanaman gagal tumbuh optimal hingga berujung pada nihilnya hasil panen.
Sayani menjelaskan bahwa para petani sempat berupaya menyiram tanaman secara manual demi mempertahankan kelangsungan hidup tanaman.
Namun, keterbatasan sarana dan jauhnya jarak ke sumber air membuat upaya tersebut sulit dilakukan secara konsisten.
“Kami tidak mampu jika harus terus-menerus mengangkut air tiap hari untuk menyiram tanaman,” kata petani lokal itu.
Sayani menyebut tenaga dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding. Selama ini, pihaknya hanya berharap dari hujan.
Sebagian besar petani di kawasan itu menanam jenis tanaman seperti jagung dan sayur-mayur. Mereka kemudian membawa hasil untuk dijual di pasar-pasar lokal di daerah Fakfak.
“Terhentinya produksi sayur dan jagung ini memukul perekonomian kami secara langsung. Tanpa adanya pasokan yang bisa dijual, omzet dan pendapatan harian kami petani merosot drastis.”
Sayani bersama puluhan petani lainnya di Kampung Kinam berharap kondisi kekeringan yang telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan ini dapat segera berakhir, sehingga lahan pertanian mereka kembali produktif dan perekonomian keluarga pulih.
Di tengah krisis air bersih dan kebakaran hutan dan lahan, Polres Fakfak mendistribusikan air bersih ke dua tempat, yakni Gereja Katolik dan Pesantren Hidayatullah.
Kapolres Fakfak, AKBP Naim Ishak memimpin pendistribusian air bersih itu. Sebanyak 13.200 liter air bersih disalurkan, masing-masing 6.600 liter untuk Gereja Santo Yosep dan 6.600 liter untuk Pondok Pesantren Hidayatullah.
Usai menyalurkan bantuan di Gereja Santo Yosep, kendaraan pendistribusian air bersih kemudian bergerak menuju wilayah Fakfak Barat.
Kapolres juga tiba di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kampung Sekru, dan langsung melaksanakan pendistribusian sebanyak 6.600 liter air bersih.
Ini adalah bagian dari upaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar di tengah kondisi kekeringan yang terjadi.
“Bantuan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, juga menggambarkan kehadiran Polri di tengah masyarakat tanpa membedakan latar belakang maupun tempat ibadah yang dilayani,” kata AKBP Naim Ishak.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan belum merespons konfirmasi dari Jubi terkait penanganan karhutla dan juga krisis air bersih di daerah itu. (*)




Discussion about this post