Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH, mendorong petani lokal meningkatkan produksi mereka guna memenuhi kebutuhan pangan di wilayah itu. Berdasarkan data 2024, produksi beras lokal di Provinsi Papua Tengah hanya kisaran 3.500 ton setiap tahun, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat mencapai 80 ribu ton pertahun.
Gubernur Nawipa menyatakan, ada selisih 76.500 ton antara produksi beras lokal dan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Provinsi Papua Tengah masih sangat bergantung pada pasokan beras dari luar daerah, yang diperkirakan mencapai 80 hingga 90 persen.
Katanya, ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan di delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah.
Pernyataan Gubernur Nawipa itu disampaikan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, S.Sos, M.AP, saat membuka Penyuluhan dan Pemberdayaan Petani Delapan Kabupaten se-Provinsi Papua Tengah Tahun Anggaran 2026, Rabu (14/10/2026).
Agenda ini diselenggarakan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Tengah di Aula LPP RRI Nabire, Jalan Merdeka, Karang Mulia, Kabupaten Nabire, Papua Tengah hingga 16 Oktober 2026.
Dalam sambutannya Gubernur Nawipa mengatakan, sektor pertanian memiliki peran strategis meningkatkan ketahanan pangan, pendapatan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, serta kesejahteraan petani.
Karenanya, pembangunan pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, juga harus memperhatikan keberlanjutan usaha pertanian dan potensi pangan lokal yang dimiliki masyarakat di setiap wilayah.
“Papua Tengah memiliki potensi sumber daya pertanian yang besar. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan peningkatan pengetahuan, keterampilan, teknologi, pengolahan hasil pertanian, serta penguatan kelembagaan petani,” kata Ukkas saat membacakan sambutan Gubernur Nawipa.
Untuk itu lanjut Ukkas, pembangunan pertanian harus dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan dengan memperhatikan potensi serta kondisi wilayah masing-masing.
“Ketergantungan juga terjadi pada sejumlah kebutuhan pokok lainnya, seperti minyak goreng, gula, dan berbagai komoditas pangan,” ucapnya.
Ukkas mengatakan, Gubernur Nawipa menegaskan persoalan ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan hanya oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Ketahanan Pangan.
Akan tetapi diperlukan kerja sama seluruh organisasi perangkat daerah atau OPD di tingkat provinsi maupun delapan kabupaten, untuk memperkuat produksi dan distribusi pangan lokal.
Pemerintah daerah diminta membangun kolaborasi yang lebih terarah, agar berbagai program pertanian benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Gubernur Nawipa kata Ukkas, juga mengingatkan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam meningkatkan produktivitas petani.
Penyuluh pertanian dinilai merupakan penghubung antara pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan petani di lapangan. Karenanya, penyuluh tidak cukup hanya menyampaikan materi atau memberikan informasi kepada kelompok tani.
“Mereka harus terlibat langsung dalam pendampingan, membantu mengidentifikasi persoalan, serta mencari solusi terhadap berbagai kendala yang dihadapi petani,” ujarnya.
Masalah itu meliputi kebutuhan bibit, pupuk, obat-obatan pertanian, pengelolaan irigasi, serta penggunaan alat dan mesin pertanian.
Gubernir Nawipa pun mengingatkan agar bimbingan teknis tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa memberikan dampak nyata bagi petani. Akan tetapi pentingnya keberlanjutan pendampingan setelah pelatihan berakhir.
Sebab, pengalaman dan pengetahuan penyuluh yang terus berkembang akan membantu petani meningkatkan kemampuan mengelola usaha pertanian.
Di sisi lain, Gubernur Nawipa menilai pengembangan pangan lokal harus menjadi perhatian pemerintah daerah dalam mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bahan makanan dari luar Papua Tengah.
Kabupaten di wilayah pegunungan, seperti Puncak Jaya, Puncak, dan Intan Jaya, memiliki potensi pengembangan tanaman pangan lokal.
Komoditas seperti keladi, ubi-ubian, jagung, dan berbagai hasil pertanian lainnya dipandang dapat menjadi sumber pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Namun, pengembangan pangan lokal harus diikuti dengan peningkatan kemampuan petani dalam mengolah hasil panen.
Hasil pertanian tidak boleh hanya dipandang sebagai bahan mentah, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan dapat dipasarkan.
Pengolahan hasil pertanian pascapanen juga dinilai penting untuk membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya petani lokal dan kelompok usaha di kampung-kampung.
Akan tetapi, Gubernur Nawipa mengakui kondisi geografis Papua Tengah masih menjadi tantangan dalam pengembangan sektor pertanian.
Distribusi barang dari Nabire, ibu kota provinsi menuju Timika maupun daerah pedalaman membutuhkan akses transportasi yang tidak mudah.
Namun Gubernur Nawiapa meminta pemerintah daerah, penyuluh, dan petani tidak menyerah menghadapi berbagai keterbatasan itu. (*)





















Discussion about this post