Jayapura, Jubi – Hujan salju baru saja terjadi di Pegunungan Tengah Papua. Begitu pula pada tiga distrik di Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan. Membuat kawasan sekitar memutih.
Ini terjadi pada Minggu (16/8/2026) sekitar pukul 01.16 WP, di Distrik Kuyawage, Goa Balim (Gawaloem), dan Wano Barat, Provinsi Papua Pegunungan.
Ini bukan hal bagi warga di sana, para leluhur masyarakat di Pegunungan Papua telah mengajarkan bagaimana cara bertahan hidup dalam situasi ini secara turun temurun.
Mulai dari tanam pangan petatas atau ipere dalam bahasa Dani dan ternak babi atau Wam. Sesuai tradisi dan ekosistem di Papua Pegunungan setelah hujan es, biasanya gagal panen, kelapa hutan dan buah merah menjadi pilihan pangan alternatif untuk kondisi darurat.
Turunnya salju mengakibatkan kebun warga gagal panen, sehingga perlu pangan alternatif untuk makanan bagi masyarakat di sana.
Pakar sosiologi ekonomi (Sosek) pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Negeri Papua (UNIPA) di Manokwari, Dr. Agus Sumule pun mengingatkan Gubernur Papua Pegunungan dan Papua Tengah soal embun beku atau warga menyebut hujan salju ini.
“Pasalnya embun beku atau frost ini terjadi sesudahnya akan terjadi sel sel di dalam daun dan batang pecah,” katanya dalam pesan singkat yang diterima Jubi Selasa (25/8/2026).
Menurut Sumule, biasanya sesudah embun salju turun terjadi gagal panen, sehingga mengakibatkan kelaparan.”
“Saran saya kepada bapak Gubernur sebaiknya melaporkan peristiwa ini kepada pemerintah pusat dan mengambil Langkah Langkah untuk mengantisipasinya,” ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa bahwa beberapa waktu lalu pernah terjadi pula kekeringan di Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan.
Peristiwa di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya terjadi pada Juni 2022. Diawali kekeringan yang melanda wilayah itu. Setelah kekeringan, terjadi fenomena embun beku pada 5 dan 6 Juli 2022. Peristiwa ini terulang lagi pada 2026.
Agus Sumule pun menyarankan, agar pemerintah cepat mengatasi bahaya kelaparan yang akan melanda warga di sana.
Ini dirasa penting, karena pada Juli 2022 lalu, tanaman ubi (patatas), keladi dan sayuran di lahan 56 hektar gagal panen. Padahal warga di sana sangat mengandalkan hasil panen itu.
Akibatnya kelaparan melanda warga. Tercatat ada 548 kepala keluarga atau 2.740 jiwa terjebak dalam krisis pangan.
Dalam situasi ini, salah satu yang menjadi pangan alternatif warga Pegunungan Papua adalah kelapa hutan.
Buah kelapa hutan termasuk Pandanus spp yang tahan terhadap perubahan lingkungan walau pun El Nino 2026, sangat panjang dan dampak perubahan lingkungan global, Global Change Climate.
Kelapa hutan dalam Bahasa Lanny disebut Woromo sedangkan warga Dani lembah di sekitar Kota Wamena, menamakannya Tuke.
Biasanya anak-anak mengosumsi buah kelapa hutan ini sambil menanti bahan pangan utama seperti patatas/hipere yang sedang dimasak dengan cara bakar batu. Bahkan patatas bisa pula dimakan mentah untuk mengganjal perut anak anak yang sedang bermain di kebun.
Kelapa hutan atau Woromo (Pandanus spp.) adalah buah endemik Pegunungan Tengah Papua, yang sering diandalkan masyarakat di sana sebagai sumber pangan darurat saat terjadi kekurangan makanan. Kelapa hutan dan buah merah pun menjadi alternatif pilihan.
Masyarakat di Pegunungan Papua biasanya memanfaatkan buah ini saat kekurangan makanan atau sebagai camilan bergizi tinggi.
Kandungan nutrisi dari buah ini kaya akan asam lemak, omega-2, dan omega-3 yang baik untuk tubuh.
Peneliti asal Papua bernama Dr Been Kogoya, SP, MMA, dalam jurnalpapuaasia.unipa.ac.id menyebutkan bahwa masyarakat suku Lanny mengenal kelapa hutan (Pandanus spp.) dengan sebutan Helak atau Wormonggen.
Artinya, jenis tumbuhan yang memiliki susunan daun spiral dan daging buah seperti kelapa.
Menurut Dr Kogoya, kelapa hutan dibagi dalam dua kelompok yaitu Woromo (P. Julianettii Mart) dan Gawen (P. Brosimos Merr).
Kogoya telah meneliti bahwa indikasi potensi ekologi tumbuhan kelapa hutan terlihat dari niai INP yang diperoleh P. Julianettii Mart, baik pada fase pohon (152,61%), tiang (164,58%), pancang (103,40%), dan semai (115,16%).
Jumlah populasi fase pohon di hutan alam dapat mencapai 168 pohon/ha dengan sebaran pohon 20–35 pohon per habitat.
Sejak nenek moyang dulu, kelapa hutan ini menjadi pangan cadangan terutama ketika cuaca ekstrem, dan gagal panen ubi jalar (hipere), atau isolasi geografis memicu krisis pangan di wilayah pegunungan.
Buah kelapa hutan menjadi penyelamat karena tahan disimpan dan bisa dipanen dari hutan. Bahkan pengelolaannya mudah dengan cara dibakar, direbus, atau dimasukkan ke dalam proses bakar batu bersama hasil bumi lainnya.
Cilakanya perubahan iklim global bisa pula mengganggu tanaman kelapa hutan ini, karena tanaman ini menyukai tanah yang lembab, sehingga dikhawatir akan rusak alias gagal panen pula.
Penurunan curah hujan tahunan atau musim kemarau yang berkepanjangan akibat krisis iklim, memicu kekeringan yang mengancam kelangsungan hidup tanaman ini.
Meskipun kelapa hutan telah menjadi tanaman alternatif, namun ini merupakan kearifan lokal masyarakat adat di Kabuaten Lanny Jaya, memanfaatkan biodiversitas hutan untuk bertahan hidup di alam pegunungan yang keras.
Semoga pangan darurat ini tidak ikut rusak akibat embun salju dan kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Lanny Jaya. (*)





















Discussion about this post