Jayapura, Jubi – Pasukan keamanan Indonesia telah melancarkan operasi gabungan untuk mengejar kelompok pejuang Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang menewaskan lima pekerja konstruksi jalan di provinsi Dataran Tinggi Papua, Minggu (2/8/2026).
Situasi ini terjadi di tengah laporan bahwa konflik yang semakin mendalam antara pejuang Papua pro-kemerdekaan dan pasukan Indonesia telah menyebabkan pengungsian internal asal masyarakat di dataran tinggi Papua dan wilayah sekitarnya, sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Rabu (5/8/2026).
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) membenarkan telah membunuh lima pekerja Indonesia di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan dengan tuduhan bahwa mereka adalah agen intelijen Indonesia yang menyamar sebagai tenaga pekerja konstruksi.
Pemerintah Indonesia pun menuding pembunuhan tersebut pada sebuah “Kelompok Kriminal Bersenjata”, sebutan yang mereka berikan untuk TPNPB. Polisi dan militer mulai memburu para pelaku.
Bulan lalu, seorang pilot Amerika, Nicholas Goselin, ditembak mati oleh TPNPB setelah mendaratkan pesawat komersial kecil di Distrik Yahukimo, di Dataran Tinggi Papua.
TPNPB menuduh pilot tersebut telah membantu mengangkut personel militer Indonesia, namun klaim itu telah ditolak oleh perusahaan pemilik pesawat yang dikemudikan Goselin, PT AMA.
Pada awal 2023, seorang pilot Selandia Baru bernama Phillip Mark Mehrtens disandera selama delapan belas bulan oleh kelompok lain di dalam TPNPB setelah mendaratkan pesawat komersial kecil di Distrik Nduga. Seperti pesawat Goselin, pesawatnya dibakar.
Pada April tahun lalu, 16 warga Indonesia yang dideskripsikan sebagai penambang emas ilegal ditembak mati oleh pasukan TPNPB di Distrik Yahukimo, juga di Dataran Tinggi Papua.
Selain memperingatkan pihak luar untuk tidak memasuki wilayah yang digambarkan sebagai zona perang, TPNPB dalam sebuah pernyataan kembali menegaskan peringatannya kepada warga Indonesia untuk meninggalkan wilayah Dataran Tinggi.
“Seluruh agen intelijen militer pemerintah Indonesia dan imigran Indonesia yang bekerja sebagai pengemudi ojek, pekerja konstruksi, petugas kesehatan, guru, dan pegawai negeri sipil harus segera menghentikan aktivitas mereka di wilayah operasional TPNPB di Tolikara,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Respons dari pasukan militer Indonesia terhadap peristiwa-peristiwa ini – peningkatan operasi di wilayah tersebut – telah menyebabkan kasus-kasus pengungsian massal warga desa di berbagai daerah.
Menurut Human Rights Monitor, operasi militer Indonesia sebagai tanggapan atas pembunuhan Goselin telah mengakibatkan tewasnya tiga warga sipil Papua di wilayah Korowai dalam delapan hari terakhir.
Operasi tersebut juga dilaporkan menyebabkan ratusan warga asli Papua, termasuk anak-anak, wanita hamil, dan orang tua, mengungsi ke hutan terdekat.
Human Rights Monitor melaporkan bahwa sumber-sumber lokal dan TPNPB menuduh pasukan keamanan menyerang desa-desa menggunakan pasukan darat, helikopter, dan drone – klaim ini belum diverifikasi.
Disebutkan bahwa hingga akhir Juni 2026, lebih dari 125.931 warga sipil di berbagai kabupaten masih menjadi pengungsi internal akibat operasi militer dan konflik bersenjata. (*)























Discussion about this post