Jayapura, Jubi – Hujan es dan embun salju turun di seluruh Provinsi Enga di Dataran Tinggi Papua Nugini (PNG), Selasa (6/10/2026). Peristiwa ini disertai badai es yang dahsyat.
Curah hujan es dan salju yang belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan pemandangan luar biasa bagi wilayah tersebut.
Dampak El Nino yang kuat berkontribusi pada peristiwa cuaca ekstrem dan tidak biasa ini terjadi.
Michael Kasmi warga Kampung Kepelam, sebuah kampung yang terletak di wilayah Pemerintah Daerah (LLG) Pilikambi Provinsi Enga mengatakan hujan es melanda kampung mereka sekitar pukul 16.00 sore, pada Selasa (6/10/2026).
“Hujan es menutupi tanah, jalan dan rumah menciptakan lapisan es setebal beberapa sentimeter,” katanya sebagaimana dikutip Jubi dari laman thenational.com.pg, Jumat (9/10/2026).
Ia menambahkan salju itu menyebar merata di seluruh kampung dan warga mengambil bongkahan es batu yang besar.
“Ini bukan di Eropa atau wilayah kutub lainnya. Di Dataran Tinggi PNG, badai hujan es yang belum pernah terjadi sebelumnya terjadi kemarin di Kepelam, LLG Pilikambi, Provinsi Enga, karena El Nino semakin menguat di sebagian besar wilayah negara itu,” tulis media berita PNG Sun dalam akun http://facebook.com.
Pemerintah PNG telah mengirimkan lebih dari K280 juta (1 = Rp4.500) ke distrik dan provinsi untuk pasokan bantuan.
Warga di beberapa bagian Provinsi Enga, khususnya di sekitar hulu Sungai Lai di daerah Laiagam, melaporkan gelombang dingin yang luar biasa parah, dengan es dan embun beku terlihat di seluruh wilayah tersebut hari ini.
Menurut pendeta setempat Mathew Tapus, kondisi tersebut berbeda dari apa pun yang pernah dialami warga dalam beberapa waktu terakhir, dengan es dilaporkan muncul di dataran tinggi tropis.
“El Nino belum berakhir. Es belum pernah terlihat dan dialami separah seperti yang terlihat di sini hari ini,” kata Pastor Tapus.
Katanya, cuaca dingin ekstrem dilaporkan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada kebun, dengan tanaman pangan yang rusak akibat embun salju itu.
Ia mengatakan, masyarakat setempat kini khawatir bahwa penghancuran kebun sayur dapat menyebabkan kekurangan pangan yang serius jika kondisi dingin terus berlanjut.
“Ini terjadi dengan cepat dan dahsyat,” kata Pastor Tapus.
Ia memperingatkan agar masyarakat bersiap diri menghadapi kondisi yang memburuk dan menyerukan doa bagi keluarga yang terkena dampak.
Dikatakan di dataran tinggi Papua Nugini sangat bergantung pada pertanian subsisten, sehingga peristiwa cuaca ekstrem menjadi sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat pedesaan.
“Kerusakan pada tanaman pokok dapat berdampak lebih luas daripada sekadar desa-desa, terutama jika produksi pangan terus terganggu,” ucapnya.
Warga diimbau memantau kondisi cuaca dengan cermat, melindungi tanaman dan persediaan makanan yang masih bisa diselamatkan, serta mendukung keluarga rentan di komunitas mereka.
Masyarakat di Distrik Lagaip Provinsi Enga, Papua Nugini dengan kota utama di distrik ini, Laiagam terdapat Sungai Lagaip merupakan sungai terbesar di Provinsi ini yang juga menjadi anak sungai dari Sungai Fly di perbatasan Provinsi Barat PNG dan Provinsi Papua Selatan Indonesia di Merauke.
Provinsi Enga ini terletak di Pegunungan Timur Tengah berdekatan dengan Provinsi Barat yang terdapat tambang Ok Tedi berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan Indonesia. (*)




Discussion about this post