Jayapura, Jubi – Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia, Chris Bowen, mengatakan negara-negara Kepulauan Pasifik bukanlah penyebab utama perubahan iklim, tetapi komunitas mereka tetap berada di garis depan yang menanggung dampak dan akibat dari perubahan iklim.
Mengenai pertemuan Pra-COP yang diadakan di Fiji, Bowen menegaskan bahwa Australia telah membantu menyampaikan kekhawatiran kawasan Pasifik kepada 53 pemimpin dan menteri serta lebih dari 3.000 peserta selama pertemuan tersebut.
“Kepulauan Pasifik tidak menyebabkan perubahan iklim, tetapi masyarakat mereka berada di garis depan dalam menangani dampaknya,” kata Bowen sebagaimana dikutip Jubi dari laman fijitimes.com.fj, Sabtu (10/10/2026).
“Kami telah mendengar pengalaman langsung dari komunitas-komunitas yang berada di garis depan dampak perubahan iklim,” ucapnya.
Dia mengatakan bahwa bagi masyarakat Pasifik, perubahan iklim sudah memengaruhi kehidupan dan tidak bisa hanya dianggap sebagai ancaman di masa depan.
“Orang-orang yang bagi mereka perubahan iklim bukanlah masalah di masa depan, melainkan realitas saat ini,” ujarnya.
Bowen mengatakan, Australia mendukung rencana untuk meningkatkan penggunaan listrik hingga 35 persen dari total penggunaan energi dunia pada tahun 2035.
Australia juga mendukung Global Rooftop Solar Pledge, yang bertujuan untuk memperluas akses energi surya kepada setidaknya 300 juta orang.
Bowen mengatakan kerja sama internasional akan tetap penting seiring perhatian beralih dari Pra-COP ke COP31 di Turki.
“Kerja sama global tidak pernah sepenting ini, dan kami akan mempertahankan momentum ini saat kami memasuki COP31 di Turki,” katanya.
Dia mengatakan fokus harus tetap pada “mendukung energi terbarukan, mengikuti sains, dan menjaga target 1,5 tetap dalam jangkauan.” (*)




















Discussion about this post