Jayapura, Jubi — Perdana Menteri (PM) Fiji, Sitiveni Rabuka menyerukan kepada para pemimpin global yang datang ke negara itu, untuk melihat dan mendengarkan orang-orang yang berada di garis depan perubahan iklim saat pertemuan pra-COP31 dimulai pada hari Senin.
Sitiveni Rabuka menyampaikan pidato dalam kebaktian gereja antaragama pada Minggu (4/10/2026), menjelang pertemuan minggu ini.
Ia mengatakan pendanaan iklim harus menjangkau komunitas yang membutuhkannya — “bukan suatu hari nanti, tetapi sekarang, dan sebagai tindakan keadilan, bukan amal”. Demikian dikutip Jubi dari laman RNZ Pasifik, Senin (5/10/2026).
Meskipun tawaran bersama Australia dan Pasifik untuk menjadi tuan rumah COP31, KTT iklim tahunan PBB, kalah dari Turki, disepakati bahwa Pasifik akan menjadi tuan rumah pertemuan pra-COP.
Pertemuan utama COP akan diadakan di Antalya, Turki, dari 9 hingga 20 November 2026, dengan Australia bertindak sebagai presiden negosiasi.
Pemerintah Fiji mengatakan dalam siaran pers bahwa para pemimpin regional, menteri, diplomat, pemimpin agama, pemuda, organisasi masyarakat sipil, LSM, anggota komunitas, dan anak-anak berkumpul untuk kebaktian pada hari Minggu.
Disebutkan bahwa doa dan pertunjukan tersebut mencerminkan realitas masyarakat Pasifik yang sudah hidup dengan dampak perubahan iklim yang semakin meningkat.
“Kawasan Pasifik sedang menantikan perayaan Jubileum. Kita memikul beban yang bukan kita ciptakan,” kata Rabuka.
Sementara itu, koordinator perubahan iklim Palau menyerukan permintaan maaf dari negara-negara penghasil gas rumah kaca utama.
Xavier Matsutaro berbicara kepada Pasifika TV menjelang pertemuan pra-COP.
Ia mengatakan bahwa telah banyak pembicaraan tentang mekanisme dan prinsip-prinsipnya, tetapi sudah saatnya bagi para penghasil emisi utama untuk memulai proses pemulihan dengan meminta maaf karena telah menyebabkan kerugian dan kerusakan sejak awal.
“Menurut saya, ketika terjadi kerugian yang disebabkan oleh manusia terhadap manusia, dari orang ke orang, hal yang tepat untuk dilakukan terlebih dahulu adalah meminta maaf,” katanya.
“Lalu, ketika sumber daya, ketika sarana untuk mengatasinya, tersedia, maka itu akan jauh lebih bermakna. Dan kita sama sekali belum melakukan dialog mengenai hal itu,” tambahnya. (*)





















Discussion about this post