Merauke, Jubi – Di sebuah kampung pedalaman Asmat, seorang anak bertanya polos kepada dr. Intan Andaru: “Indonesia itu di mana, Dok?” Pertanyaan sederhana itu menancap di benak dokter muda asal Banyuwangi itu, membuka lembaran perjalanan yang kemudian menjadi novel ‘Bia dan Kapak Batu’.
Intan datang ke Asmat pertama kali pada 2018, bukan sebagai penulis, melainkan dokter relawan. Tujuannya jelas. Ia ingin menyelamatkan nyawa, namun juga belajar mendengar dan melihat realitas masyarakat Asmat dari dekat. Dari pelayanan medis, ia menemukan realitas sosial – ketimpangan, pergeseran budaya, dan tantangan pembangunan yang tidak selalu menyentuh akar masalah.
“Saya merasa tidak mungkin datang ke Asmat hanya untuk menulis. Saya harus berbuat sesuatu,” kata dr. Intan kepada Jubi dalam sebuah wawancara panjang melalui telepon.
Selama dua bulan di Sawaerma, Intan terjun langsung melayani pasien, sekaligus mengamati kehidupan masyarakat. Ia mencatat kisah anak-anak yang bermain sambil membawa alat tradisional, perempuan yang menyiapkan sagu untuk keluarga, dan interaksi dengan tenaga medis serta relawan NGO. Setiap peristiwa, setiap percakapan, menjadi bahan penting bagi tulisannya.
Setahun setelah penugasan pertamanya, Intan kembali ke Asmat sebagai dokter PTT di RSUD Agats. Selain praktik medis, ia menghabiskan waktu dengan teman-teman NGO, tenaga medis lain, masyarakat hingga para pekerja seks untuk berdiskusi tentang berbagai masalah sosial. Topik diskusi terkait gegar budaya, ketergantungan pangan, prostitusi, kekerasan, diskriminasi, hingga eksploitasi perempuan dan sumber daya alam.
“Saya menangkap kegelisahan itu sebagai dokter, tapi saya menulis sebagai perempuan Asmat. Saya banyak berteman dengan remaja perempuan untuk memahami pandangan mereka tentang adat, agama, bahkan seksualitas,” jelasnya.
Intan juga menyaksikan ironinya pembangunan, seperti kios yang menjual bahan makanan dengan harga berlipat dan minuman energi untuk anak-anak, tenaga medis yang seharusnya kampanye antirokok justru menjual rokok, serta proyek kayu gaharu yang mengeksploitasi alam dan perempuan pekerja seks. Semua itu membentuk lapisan realitas yang kompleks, yang tidak mudah ditangani hanya dengan niat baik.
“Bantuan yang datang sering kali tidak diimbangi pengetahuan tentang masyarakat. Mereka belum tentu siap. Itu yang membuat pembangunan di sini terasa tak menyentuh akar persoalan,” katanya.
Melalui pengalaman ini, ia memahami bahwa pendekatan pembangunan yang Jakarta-sentris sering tidak sesuai dengan kondisi lokal. Bantuan sering diberikan tanpa memahami adat, budaya, atau kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya.

Bia dan Kapak Batu: Simbol Kehidupan dan Konflik Sosial
Judul novel memadukan dua simbol, yakni Bia (kerang, perhiasan tradisional), dan Kapak Batu (alat esensial hidup yang juga digunakan sebagai mas kawin tradisional). Simbol ini bukan sekadar ornamen, tetapi mencerminkan konflik dan tantangan yang dihadapi perempuan Asmat setelah menikah, kehidupan sehari-hari mereka, dan perubahan budaya yang mereka alami.
“Referensi tertulis tentang hal ini memang sedikit. Saya banyak mendapatkan cerita langsung dari masyarakat. Ini menjadi cermin bagi pembaca tentang bagaimana perempuan menghadapi realitas mereka,” ujar Intan.
Dalam novel ini, Intan menyoroti fenomena sosial seperti gastrokolonialisme, di mana bantuan pangan dan modernisasi menggantikan sistem pangan lokal dan menciptakan ketergantungan. Ia menulis kisah ini dari sudut pandang seorang perempuan Asmat, sehingga cerita terasa autentik, tidak seperti catatan medis atau laporan sosial biasa.
“Saya menulis bukan sebagai dokter. Profesi saya hanya mempermudah saya dekat dengan masyarakat. Mereka sering was-was dengan orang asing, tapi ketika tahu saya dokter, mereka lebih terbuka,” tuturnya.
Ia juga berdialog dengan ketua adat untuk memahami perubahan kondisi masyarakat, harapan mereka, dan tantangan yang mereka hadapi, sehingga novel ini menjadi potret kehidupan nyata, bukan sekadar cerita fiktif.
Menulis, Mengabdi, dan Memberi Suara
Novel ini bukan sekadar kritik sosial. Bagi Intan, Bia dan Kapak Batu adalah potret realitas masyarakat Asmat yang mengingatkan pembaca bahwa niat baik tidak cukup tanpa pemahaman mendalam tentang manusia yang ingin ditolong.
“Untuk menolong, niat saja tidak cukup. Harus ada pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisa,” ujarnya.
Setelah menulis novel ini, Intan tetap fokus pada pendidikan spesialis urologi di Surabaya. Novel ini telah diluncurkan di Ubud Writers & Readers Festival 2025, menandai perjalanan panjang dari dokter relawan menjadi penulis yang menyuarakan Asmat ke panggung internasional. Novel Bia dan Kapak Batu bakal diterbitkan Gramedia Pustaka Utama di bulan ini.
Bia dan Kapak Batu menghadirkan suara perempuan dan masyarakat Asmat yang jarang terdengar, menantang pembaca memahami pembangunan, budaya, dan kemanusiaan dari perspektif lokal. Intan Andaru membuktikan bahwa menulis dan menjadi dokter bukan dua hal terpisah, melainkan dua cara untuk menyentuh kehidupan orang lain.
Profil Singkat dr. Intan Andaru
dr. Intan Andaru, M.Ked.Klin. Lahir di Banyuwangi, 20 Februari 1990. Calon dokter spesialis urologi yang pernah menjadi relawan di Asmat. Penulis karya sastra termasuk:33 Senja di Halmahera (Gramedia, 2017) Perempuan Bersampur Merah (Gramedia, 2019) Bia dan Kapak Batu (Gramedia, 2025), Penerima Hibah Perempuan Pelaku Kebudayaan, Emerging Writer Indonesia Ubud Writers & Readers Festival 2021, serta berbagai penghargaan literasi lainnya. (*)


























Discussion about this post