• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

Bia dan Kapak Batu: Suara Dokter Perempuan dari Tanah Asmat

November 7, 2025
in Seni & Budaya, Animha
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Emanuel Riberu - Editor: Angela Flassy
Asmat

dr. Intan Andaru semasa bertugas menyempatkan waktu bersama anak-anak di Asmat. - Jubi/foto dr. Intan

0
SHARES
576
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Merauke, Jubi – Di sebuah kampung pedalaman Asmat, seorang anak bertanya polos kepada dr. Intan Andaru: “Indonesia itu di mana, Dok?” Pertanyaan sederhana itu menancap di benak dokter muda asal Banyuwangi itu, membuka lembaran perjalanan yang kemudian menjadi novel ‘Bia dan Kapak Batu’.

Intan datang ke Asmat pertama kali pada 2018, bukan sebagai penulis, melainkan dokter relawan. Tujuannya jelas. Ia ingin menyelamatkan nyawa, namun juga belajar mendengar dan melihat realitas masyarakat Asmat dari dekat. Dari pelayanan medis, ia menemukan realitas sosial – ketimpangan, pergeseran budaya, dan tantangan pembangunan yang tidak selalu menyentuh akar masalah.

“Saya merasa tidak mungkin datang ke Asmat hanya untuk menulis. Saya harus berbuat sesuatu,” kata dr. Intan kepada Jubi dalam sebuah wawancara panjang melalui telepon.

Selama dua bulan di Sawaerma, Intan terjun langsung melayani pasien, sekaligus mengamati kehidupan masyarakat. Ia mencatat kisah anak-anak yang bermain sambil membawa alat tradisional, perempuan yang menyiapkan sagu untuk keluarga, dan interaksi dengan tenaga medis serta relawan NGO. Setiap peristiwa, setiap percakapan, menjadi bahan penting bagi tulisannya.

Setahun setelah penugasan pertamanya, Intan kembali ke Asmat sebagai dokter PTT di RSUD Agats. Selain praktik medis, ia menghabiskan waktu dengan teman-teman NGO, tenaga medis lain, masyarakat hingga para pekerja seks untuk berdiskusi tentang berbagai masalah sosial. Topik diskusi terkait gegar budaya, ketergantungan pangan, prostitusi, kekerasan, diskriminasi, hingga eksploitasi perempuan dan sumber daya alam.

“Saya menangkap kegelisahan itu sebagai dokter, tapi saya menulis sebagai perempuan Asmat. Saya banyak berteman dengan remaja perempuan untuk memahami pandangan mereka tentang adat, agama, bahkan seksualitas,” jelasnya.

Intan juga menyaksikan ironinya pembangunan, seperti kios yang menjual bahan makanan dengan harga berlipat dan minuman energi untuk anak-anak, tenaga medis yang seharusnya kampanye antirokok justru menjual rokok, serta proyek kayu gaharu yang mengeksploitasi alam dan perempuan pekerja seks. Semua itu membentuk lapisan realitas yang kompleks, yang tidak mudah ditangani hanya dengan niat baik.

BERITATERKAIT

Gubernur Meki Nawipa resmikan pesantren dan sambut berdirinya SMP-SMA Riyadhul Qur’an

Batik Air resmi beroperasi di Papua Tengah

Realisasi pendapat daerah Papua Tengah melampaui target

Gubernur Nawipa letakkan fondasi pembangunan jangka panjang

“Bantuan yang datang sering kali tidak diimbangi pengetahuan tentang masyarakat. Mereka belum tentu siap. Itu yang membuat pembangunan di sini terasa tak menyentuh akar persoalan,” katanya.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Melalui pengalaman ini, ia memahami bahwa pendekatan pembangunan yang Jakarta-sentris sering tidak sesuai dengan kondisi lokal. Bantuan sering diberikan tanpa memahami adat, budaya, atau kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya.

buku
Novel Bia dan Kapak Batu karya Dokter Intan Andaru

Bia dan Kapak Batu: Simbol Kehidupan dan Konflik Sosial

Judul novel memadukan dua simbol, yakni Bia (kerang, perhiasan tradisional), dan Kapak Batu (alat esensial hidup yang juga digunakan sebagai mas kawin tradisional). Simbol ini bukan sekadar ornamen, tetapi mencerminkan konflik dan tantangan yang dihadapi perempuan Asmat setelah menikah, kehidupan sehari-hari mereka, dan perubahan budaya yang mereka alami.

“Referensi tertulis tentang hal ini memang sedikit. Saya banyak mendapatkan cerita langsung dari masyarakat. Ini menjadi cermin bagi pembaca tentang bagaimana perempuan menghadapi realitas mereka,” ujar Intan.

Dalam novel ini, Intan menyoroti fenomena sosial seperti gastrokolonialisme, di mana bantuan pangan dan modernisasi menggantikan sistem pangan lokal dan menciptakan ketergantungan. Ia menulis kisah ini dari sudut pandang seorang perempuan Asmat, sehingga cerita terasa autentik, tidak seperti catatan medis atau laporan sosial biasa.

“Saya menulis bukan sebagai dokter. Profesi saya hanya mempermudah saya dekat dengan masyarakat. Mereka sering was-was dengan orang asing, tapi ketika tahu saya dokter, mereka lebih terbuka,” tuturnya.

Ia juga berdialog dengan ketua adat untuk memahami perubahan kondisi masyarakat, harapan mereka, dan tantangan yang mereka hadapi, sehingga novel ini menjadi potret kehidupan nyata, bukan sekadar cerita fiktif.

Menulis, Mengabdi, dan Memberi Suara

Novel ini bukan sekadar kritik sosial. Bagi Intan, Bia dan Kapak Batu adalah potret realitas masyarakat Asmat yang mengingatkan pembaca bahwa niat baik tidak cukup tanpa pemahaman mendalam tentang manusia yang ingin ditolong.

“Untuk menolong, niat saja tidak cukup. Harus ada pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisa,” ujarnya.

Setelah menulis novel ini, Intan tetap fokus pada pendidikan spesialis urologi di Surabaya. Novel ini telah diluncurkan di Ubud Writers & Readers Festival 2025, menandai perjalanan panjang dari dokter relawan menjadi penulis yang menyuarakan Asmat ke panggung internasional. Novel Bia dan Kapak Batu bakal diterbitkan Gramedia Pustaka Utama di bulan ini.

Bia dan Kapak Batu menghadirkan suara perempuan dan masyarakat Asmat yang jarang terdengar, menantang pembaca memahami pembangunan, budaya, dan kemanusiaan dari perspektif lokal. Intan Andaru membuktikan bahwa menulis dan menjadi dokter bukan dua hal terpisah, melainkan dua cara untuk menyentuh kehidupan orang lain.

Profil Singkat dr. Intan Andaru
dr. Intan Andaru, M.Ked.Klin. Lahir di Banyuwangi, 20 Februari 1990. Calon dokter spesialis urologi yang pernah menjadi relawan di Asmat. Penulis karya sastra termasuk:33 Senja di Halmahera (Gramedia, 2017) Perempuan Bersampur Merah (Gramedia, 2019) Bia dan Kapak Batu (Gramedia, 2025), Penerima Hibah Perempuan Pelaku Kebudayaan, Emerging Writer Indonesia Ubud Writers & Readers Festival 2021, serta berbagai penghargaan literasi lainnya. (*)

Tags: Bia dan Kapak BatudokterKabupaten Asmatnovel papuaProvinsi Papua Tengah
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Arnold

Arnold Clemens Ap, dari PMS Biak sampai Mambesak 1978

April 27, 2026
Pembangunan

Benarkah proyek pembangunan di Tanah Papua untuk masyarakat

April 21, 2026

PTUN Jayapura kembali gelar sidang gugatan terhadap SK Bupati Merauke

April 21, 2026

Masyarakat Kampung Yobeh sambut wisatawan mancanegara dengan atraksi budaya

April 16, 2026

Penggugat minta pembangunan jalan di Merauke dihentikan selama persidangan

April 14, 2026

Sidang gugatan terhadap SK Bupati Merauke kembali digelar

April 14, 2026

Discussion about this post

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Kebijakan kesehatan

Kebijakan kesehatan di Tanah Papua perlu perubahan

May 3, 2026
PINA

Presiden PINA: Kebebasan pers bukan ancaman bagi pemerintah

May 3, 2026
PINA

Pesan Presiden PINA untuk Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026

May 3, 2026
Fiji Media

Fijian Media Asosiation: Kemajuan dalam kebebasan pers masih rapuh

May 3, 2026
DWU PNG

DWU PNG peringati hari kebebasan pers sedunia dengan kampanye kesadaran

May 3, 2026
Musrenbang Otsus

DPRK Tambrauw: Musrenbang Otsus mesti prioritaskan program untuk OAP

May 2, 2026
Gubernur Nawipa

Gubernur Nawipa luncurkan SLB Negeri Pembina pada peringatan Hardiknas

May 2, 2026
Kajari

Kajari: Tak ada penanganan dugaan tipikor DAK Pemkab Manokwari

May 1, 2026
KNPB

KNPB peringati 63 tahun aneksasi Papua dalam NKRI

May 1, 2026
Pemprov Papua

Pemprov Papua tetapkan tiga kawasan strategis untuk investasi dan pariwisata

May 1, 2026
Gubernur Nawipa

Gubernur Nawipa luncurkan SLB Negeri Pembina pada peringatan Hardiknas

May 2, 2026
Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
Pesta Babi

‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

April 21, 2026
Hardiknas

Gubernur Nawipa instruksikan pemajuan pendidikan pada peringatan Hardiknas

May 2, 2026
Kebijakan kesehatan

Kebijakan kesehatan di Tanah Papua perlu perubahan

0
PINA

Presiden PINA: Kebebasan pers bukan ancaman bagi pemerintah

0
PINA

Pesan Presiden PINA untuk Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026

0
Fiji Media

Fijian Media Asosiation: Kemajuan dalam kebebasan pers masih rapuh

0
DWU PNG

DWU PNG peringati hari kebebasan pers sedunia dengan kampanye kesadaran

0
Matius D. Fakhiri, Papuan Government, took part in the national corn harvest in Sanggaria Village, Keerom Regency, on Thursday (April 30, 2026). — Alexander Loen

Corn Harvest Boom: Keeroms ready to become Papua’s food barn

0
Indonesian Deputy Minister of Home Affairs, Ribka Haluk during a recent visit to Papua. — Alexander Loen

People’s Schools and “Merah Putih” cooperatives key to Economic Equity in Papua

0

English Stories

A public forum organized by Suara Perempuan Papua protesting militarism and National Strategic Projects (PSN) in the Land of Papua, held at Abepura Circle, Jayapura City, Papua, Thursday (April 30, 2026) — Jubi/Aida Ulim
Pacnews

Papuan Women call for resistance against injustice

May 1, 2026
Matius D. Fakhiri, Papuan Government, took part in the national corn harvest in Sanggaria Village, Keerom Regency, on Thursday (April 30, 2026). — Alexander Loen
Pacnews

Corn Harvest Boom: Keeroms ready to become Papua’s food barn

May 3, 2026
Indonesian Deputy Minister of Home Affairs, Ribka Haluk during a recent visit to Papua. — Alexander Loen
Pacnews

People’s Schools and “Merah Putih” cooperatives key to Economic Equity in Papua

May 3, 2026
Acting Regional Secretary of Central Papua, Silwanus Soemoele, representing Meki Nawipa, during the closing of the Special Autonomy Development Planning Forum (Musrenbang Otsus) and the Regional Government Work Plan (RKPD) Musrenbang at the Governor’s Office in Nabire, Thursday (April 30, 2026). — Documented for Jubi
Pacnews

Development in Central Papua must benefit Indigenous Papuans

May 3, 2026
An illustration of students staging a demonstration titled “Papua in Military and Humanitarian Emergency” in Jayapura, Monday (April 26, 2026). — Courtesy of Jubi
Pacnews

Papua Rights Groups declare ‘Human Rights Emergency,’ urge end to Military Operations

April 29, 2026

Trending

  • Kajari

    Kajari: Tak ada penanganan dugaan tipikor DAK Pemkab Manokwari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KNPB peringati 63 tahun aneksasi Papua dalam NKRI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Papua tetapkan tiga kawasan strategis untuk investasi dan pariwisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Nawipa luncurkan SLB Negeri Pembina pada peringatan Hardiknas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara