Jayapura, Jubi-Jasad tokoh pejuang identitas Budaya Melanesia Papua Barat, Arnold Clemens Ap ditemukan di Pantai Pasir Enam, Kota Jayapura, Papua, 26 April 1984. Arnold ditemukan terkapar tewas akibat letusan bedil dan timah panas dari pasukan elit Indonesia yang waktu itu bernama Kophasanda. Jasadnya ditemukan bersama jasad saudara sepupunya (napirem) Edu Mofu. Sudah 42 tahun berlalu, namun kepergian pejuang identitas Budaya Melanesia West Papua itu masih diperingati.
Mendiang AC Ap lahir di Kampung Ampombukor 1 Juli 1945, orang tuanya berasal dari Kampung Ampombukor. Napirem Edu Mofu, juga dari Kampung Ampombukor, Biak Barat.
Setelah menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat di Numfor, ia melanjutkan pendidikan ke Primaire Middlebaire Scholl atau PMS Biak. PMS adalah pendidikan setingkat SMP pada zaman Belanda.
Saat bersekolah di PMS, ia seangkatan dengan Sam Kapisa, JR Mansoben, MA PhD, Ir Frans Wospakrik. MSc, Ir Agus Rumansara, Ir HE Mackbon MSc dan SP Morin. Sedangkan adik kelasnya waktu itu Drs Michael Menufandu, MA dan Brigjen Marini Abraham Atururi serta Piet Wospakrik.
Usai menyelesaikan pendidikan di PMS, sebagian besar melanjutkan pendidikan di SMA YPK di Ridge Biak hingga tamat, sedangkan JR Mansoben dan HE Mackbon ke SMA Gabungan di Jayapura.
Setamat dari SMA, Arnold C Ap dan JR Mansoben melanjutkan Pendidikan ke Fakultas Ilmu Keguruan (FIK) Jurusan Geografi hingga meraih gelar sarjana muda. Keduanya lalu mengikuti penelitian di Asmat bersama Prof Dr Walker pada 1974.
JR Mansoben melanjutkan Pendidikan ke Antropologi, Fisip Universitas Indonesia. AC Ap belajar kurator di Mealbourne University. Sekembalinya dari negeri Kangguru, menetap dan berkarier di Museum Kampus Universitas Cenderawasih, sejak itu pula Museum Uncen dijadikan pusat budaya dan kegiatan kesenian di tanah Papua.
Saat menjadi kurator dan membangun grup Mambesok, sebelumnya juga membentuk Grup Manyori untuk mengisi acara pelangi budaya di Radio Republik Indonesia (RRI). Bahkan setiap minggu ada kegiatan berkesenian di pelataran Museum Uncen Abepura, adapun isi kegiatan itu menari, vocal grup termasuk mob yang diisi oleh seniman Papua dan juga anak anak pelajar SMA.
Semua kegiatan berkesenian ini lahir karena Grup Mambesak, grup musik rakyat Papua yang dibentuk pada 5 Agustus 1978 di Universitas Cenderawasih. “Saya yang mengetik surat undangan dan saya antar kepada semua anggota hadir. Semua sepakat nama Mambesak dan kaka Arnold sebagai Ketua Mambesak,” kata Th Wolas Krenak.
Adapun anggota Mambesak yang hadir antara lain, Eddy Mofu, Sam Kapisa, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki, Abner Korwa, Yohana Yembise, Uslin Monim dan lain lain.
Lahirnya Grup Mambesak ini langsung memproduksi lagu lagu bahasa daerah Irian Jaya kala itu dalam bentuk kaset yang direkam sendiri tanpa teknologi rekaman yang canggih. Costan Ruhukail merupakan juru rekam kaset Mambesak hingga edisi enam album dalam bahasa suku suku di Tanah Papua.
Arnold C Ap dalam merekam lagu lagu khas Papua harus benar dalam ucapan sesuai dengan karakter setiap suku. Begitu pula dalam menabuh tifa sesuai dengan gaya pukulan tifa dari setiap suku termasuk gaya tari suku Asmat yang terkenal.
Wolas Krenak mengaku pernah tampil dalam tarian nasional di Jakarta bersama Grup Mambesak. Ia menabuh tifa dan belajar untuk mengetahui semua gaya memukul tifa (gaya toki tifa) dari setiap suku di tanah Papua.
Lagu-lagu Mambesak juga dipopulerkan dalam siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di Studio RRI Nusantara V Jayapura setiap hari Minggu siang. Para pentolan seniman Mambesak juga menjadi penyiar memperkenalkan budaya Papua dalam seni dan tari serta lagu.
Sayangnya Grup Mambesak akhirnya tampil terakhir pada 29 November 1983 di Kantor Gubernur Provinsi Irian Jaya.
Setelah itu mendiang Arnold C Ap dan Edu Mofu serta dua rekan lainnya ditangkap dan ditahan.
Tiga bulan setelah penahanan itu jenazah kedua seniman dan budayawan Papua itu ditemukan mengambang di Pantai Pasir Enam pada 26 April 1984. (*)

























Discussion about this post