oleh: Rabin Yarangga*)
Bagaikan lilin yang membakar dirinya sendiri demi menerangi sekitarnya dan orang lain, tidak peduli ia akan habis. Itulah Max Binur.
Sorong, Jubi – Siang, langit tampak mendung. Alunan musik Mambesak ‘Hidup Ini Suatu Misteri, Tak Terbayang Juga Tak Terduga, Beginilah Kenyataan Ini, Aku Terkurung di Dalam Duniaku. Yang Kudamba, yang Kunanti, Tiada Lain Hanya Kebebasan’, lagu yang Max nyanyikan pada konser di Melbourne pada tahun 2003 itu mengiringi langkah-langkah duka yang mengantar kepergiannya di tempat peristirahatan terakhir.
Tanah Papua kehilangan salah satu cahaya terangnya, dan hati mereka yang mengenalnya serta belajar di ‘jalan sunyi’ bersamanya diliputi kehilangan yang mendalam.

Perjalanan di Jalan Sunyi Max Binur
Markus Binur, atau yang akrab disapa Max Binur, adalah seorang budayawan Papua, sekaligus pendiri dan direktur Bengkel Pembelajaran Antar Rakyat (Belantara Papua). Ia mendedikasikan lebih dari 20 tahun hidupnya untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan alternatif, pengorganisasian komunitas, pelatihan seni, dan aktivitas kebudayaan di Kota Sorong, Papua Barat Daya,.
Max adalah seorang pejuang seni dan kebudayaan yang juga aktif mengadvokasi berbagai isu di jaringan lembaga hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, perempuan, masyarakat adat, dan penyandang disabilitas. Ia bahkan mengajarkan generasi muda tentang spirit dan jejak yang ditinggalkan oleh grup musik legendaris Papua, Mambesak.
Namun, perjuangan itu harus berakhir. Max meninggal dunia pada Kamis, (18/9/2025), setelah berjuang melawan sakit. Kepergiannya ini terjadi hanya beberapa bulan setelah ia kehilangan istri tercintanya, Danarti Wulandari, seorang pegiat sosial dan pendidikan yang juga berjuang bersamanya.
Pria kelahiran Biak, 18 Januari 1970 ini meninggalkan dua orang anak, serta warisan yang tak ternilai. Segala karya, semangat, kebaikan, dan perjuangannya untuk seni dan budaya Papua tidak hanya akan dikenang, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan semangat bagi generasi berikutnya.

Kesaksian dari Orang-orang Terdekat
Seorang seniman Papua dari Sanggar Araima Papua, David Womsiwor menceritakan bagaimana Max Binur telah menjadi sosok yang luar biasa. “Max Binur adalah orang yang sangat peduli terhadap masyarakat Papua,” ujarnya. David mengenang, Max tidak segan-segan merangkul anak-anak putus sekolah untuk dididik dan diberdayakan di Belantara Papua. “Ia seperti lilin yang membakar diri untuk menerangi lingkungan di mana ia berada.”
Tak hanya itu, Max juga dikenal sebagai sosok yang gigih dalam mendokumentasikan akar penyebaran suku Biak bersama rekannya, Daniel Randongkir, yang juga telah lebih dulu berpulang 3 hari sebelumnya. Max menjelajahi berbagai daerah, mulai dari Raja Ampat hingga Tidore, untuk mencari jejak penyebaran suku Biak. Rencananya, hasil penelitian ini akan diterbitkan dalam sebuah buku. “Walaupun ia banyak tugas dan baru saja kehilangan istrinya, ia masih sempat menghadiri kegiatan untuk memberikan materi,” tambah David, dengan nada haru.
Pesan Max kepada setiap generasi dan sanggar adalah tentang tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikan budaya kampung halaman. David bahkan mengaku tak kuasa menahan tangis saat mendengarkan Max berbicara dalam sebuah forum tentang temuan-temuan budaya yang hampir punah di Papua. “Dia tidak pernah marah. Ia merangkul mereka, dengan bahasa yang membuat mereka tenang, percaya diri, tanpa membuat perbedaan,” kenangnya.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sorong Malamoi, Torianus Kalami mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. “Kami kehilangan seseorang yang jadi penuntun. Walaupun dalam suasana terjepit, kaka Max punya energi yang akan dia berikan kepada kami semua,” kata Torianus.
Menurutnya, Max adalah mentor yang mengangkat banyak aktivis dari posisi “nol” hingga mereka menjadi orang yang berpengetahuan. “Kaka Max adalah orang lama yang bekerja di NGO di Sorong dan salah satu senior kami yang selalu konsisten.”
Dengan latar belakang pendidikan antropologi, Max sangat memahami cara mengembangkan budaya dengan merangkul anak-anak muda, bahkan mereka yang putus sekolah, dari berbagai wilayah seperti Sorong, Tambrauw, Raja Ampat, hingga Sorong Selatan. “Warisan yang kaka Max tinggalkan telah menghadirkan banyak anak-anak yang hari ini bergerak,” ungkap Torianus. “Ajaran dia tidak bisa diukur oleh apa pun.”
Petrus Asamsyum, seniman dari Belantara Papua dan salah satu anak didik Max, juga merasakan hal yang sama. “Saya termasuk anak yang dididik dari kecil, dirangkul untuk diajarkan musik dan tari,” cerita Petrus. “Dia banyak mengetahui seni budaya Papua dan yang paling bernilai, ia ajarkan bagaimana kami dapat mengenal jati diri kami sendiri dalam kebudayaan.”
Max tidak hanya mengajarkan seni tradisional dari kampung-kampung, tetapi juga mengajarkan seni kontemporer, hasil kreasinya. “Sebelum ia pergi, kaka Max sudah tanamkan nilai kepada kami. Ia hidup dalam jiwa kami,” tutur Petrus. “Kami akan pertahankan apa yang selama ini diperjuangkan dalam seni budaya.”
Amos Wabdaron dari Sanggar Kumeser Papua, yang mengenal Max sejak 2005. Ia merasakan betapa tulusnya Max dalam perjuangannya. “Kaka Max membawa kami untuk mengenal budaya itu dengan potensi yang berbeda-beda,” ungkapnya.
Untuk mengenang sosoknya, sanggarnya mengambil nama salah satu anak Max, Kumeser yang berarti Bintang Fajar. “Agar itu selalu dekat dengan kami, dan bukti didikan dari kaka Max tentang kebudayaan,” ujar Amos.
Nilai terbesar yang ditanamkan Max adalah bagaimana menghargai dan menghormati budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan. “Ketika kita hidup, berarti budaya juga hidup,” kata Amos dengan suara bergetar. “Kaka mau kami menari, menyanyi untuk tanah dan negeri ini. Dia tidak mau hal itu putus di tengah jalan, meskipun kakak Max telah pergi, karena semangat itu jangan sampai padam.”
Max Binur adalah sosok yang rendah hati, peduli, dan murni seorang pejuang kebudayaan yang tak kenal lelah, meskipun jalan yang dilaluinya tak selalu mudah. Kini, cita-cita Max untuk membawa pendidikan kebudayaan ke sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga terus mengalir dalam semangat para penerusnya.
Walau telah berpulang, perjuangan Max akan terus hidup melalui setiap tarian, nyanyian, dan langkah yang dilanjutkan oleh generasi yang ia didik. Mereka adalah lilin-lilin baru yang akan menerangi tanah Papua.(*)
*) Jurnalis Papua yang sekarang bermukim di Kota Sorong




Discussion about this post