Jayapura, Jubi – Dalam setahun selama 2024, Lapak Baca Santo Yohanes Pembaptis Yogonima berhasil membuat delapan anak yang sebelumnya tidak bisa baca dan tulis sama sekali, menjadi bisa. Mereka pun menempuh pendidikan di kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
“Mereka yang kini bisa membaca dan menulis yakni Derion Halitopo, Roy Itlay, Nius Itlay, Dorpi Itlay, Rosa Hisage, Salisik Walilo, Ela Halitopo, dan Lupia Itlay, mereka merupakan anak didik di Lapak Baca Yohanes Pembaptis Yogonima, sekarang mereka sekolah,” kata Farida Hisage, koordinator lapak baca tersebut dalam pesan yang diterima Jubi di Kota Jayapura, Papua pada Kamis (23/1/2025).
“Derion, Roy dan Nius kini melanjutkan studi di tingkat SMP di kota Wamena. Sementara itu, Dorpi, Rosa, Salisik, dan Ela kini aktif di gereja. Lupia sendiri sedang melanjutkan studi di SD Inpres Sikan. Selain itu, ada belasan anak yang dulu tidak tahu abjad kini mulai bisa menghafalkannya,” kata Hisage.
Farida mengatakan ada juga sebagian anak-anak usia produktif yang yang putus sekolah dari Sekolah Dasar Inpres Sumunikama. Namun dalam setahun ini pihaknya sebagai guru relawan di pondok bacaan ini berhasil mengantarkan anak-anak di bawah umur ini berhasil tahu baca dan tulis.

Pengurus gereja di Yogonima menargetkan, dalam kurun 5-10 tahun ke depan dapat memberantas angka buta aksara. Salah satu caranya, pada tahun ini pengurus sepakat akan membuka pondok baca di kampung Sumunikama dan Sagesalo, supaya anak-anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan informal dan nonformal dapat diakses di situ. Sejauh ini ada dua relawan di lapak baca tersebut.
Di samping itu, orang-orang tua di Kapela Santo Yohanes Pembaptis Yogonima, Paroki Kristus Gembala Kita Pugima juga akan melanjutkan aksi “Eka Sula” setiap akhir bulan untuk mendukung biaya pendidikan bagi anak-anak setempat. “Eka Sula” adalah bahasa Wamena yang berarti sumbangan suka rela.
Pemuda dari Yogonima Soleman Itlay mengapresiasi dan merasa puas dengan lapak baca Santo Yohanes Pembaptis Yogonima karena meski baru berdiri dalam setahun, berhasil membuat delapan anak tahu baca tulis.
“Saya secara pribadi merasa sangat puas. Karena dengan adanya lapak baca ini banyak anak-anak usia lima hingga enam tahun bisa mengenal huruf dan kata,” kata Itlay.
Ia menyampaikan terimakasih kepada pastor Isak Bame, Fredy Pawika, Edsy Wantik, Simon Mendopma dan Gerakan Papua Mengajar (GPM) yang punya andil dalam membuka dan membantu anak-anak di gereja dan kampung ini. (*)





















Discussion about this post