Nabire, Jubi – Ketua Panitia Panitia Lepas Sambut Tahun Baru 2024 dalam Nuansa Orang Hugula yang berlangsung di Kapela Santo Yohanes Yogonima Pugima, Jeremias Hisage mengatakan umat Katolik di Pugima ingin Keuskupan Jayapura lebih berperan memberantas buta huruf. Dari 204 jiwa umat Kapela Santo Yohanes Yogonima Pugima, 127 diantarnya masih buta huruf.
Hal itu menjadi salah satu topik Diskusi Kelompok Terpumpun yang digelar Kapela Santo Yohanes Yogonima Pugima, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, pada 4 – 6 Januari 2024. Jeremias Hisage mengatakan ada 80 anak di Kapela Santo Yohanes Yogonima. “Dari jumlah tersebut, 58 orang belum tahu baca tulis. Hanya 22 orang/anak saja yang bisa baca tulis,” kata Jeremias dalam keterangan pers tertulisnya.
Jeremias menyatakan buta huruf masih menjadi persoalan mendasar di Papua. Situasi buta huruf itu terjadi di banyak wilayah.
“Potret buta aksara dengan keadaan yang sama berlaku di Kapela Santo Lukas Lukaken, Santo Simon Sagesalo, Santo Konelius Kemisake, Santo Matias Wuroba, Santo Hironimus Helepalegem, Santo Thomas Siliwak, dan masih banyak lagi. Tetangga gereja seperti Gereja Kingmi di Sumunikama dan Jemaat Efesus Tomisa GKI di Tanah Papua memiliki keadaan pendidikan yang sama,” katanya.
Jeremias mengatakan kondisi buta huruf itu dipengaruhi oleh keterbatasan akses pendidikan di wilayah Pugima, khususnya pasca penutupan SD YPPK Lukaken pada tahun 1980-an. “Tenaga pengajar dan fasilitas belajar mengajar yang minim mengakibatkan anak-anak di wilayah Itlay-Wisage sulit mendapatkankan pendidikan sejak usia dini,” katanya.
Jeremias mengatakan biaya pendidikan yang mahal juga menghambat anak-anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Pendapatan yang minim sangat mempengaruhi keluarga dalam mendukung nasib dan masa depan anak untuk mencapai cita-citanya. Ironisnya, hari ini kita sibuk membangun gedung gereja, sekolah, pastoran dan lainnya yang baru,” katanya.
Jeremias mengatakan pembangunan gedung gereja bisa membebani umat, apalagi jika gereja akan dibangun dengan dana yang dihimpun dari umat. “Kesannya, Gereja Katolik hari ini lebih suka mengejar keindahan fisik arsitektur gereja ketimbang membangkitkan dan menyelamatkan gereja manusia yang hidup sekarat dan menderita,” kata Jeremias.
Jeremias berharap hasil dari Diskusi Kelompok Terpumpun di Pugima akan membuat Keuskupan Jayapura lebih memprioritaskan pembangunan gereja manusia ketimbang pembangunan gedung gereja fisik.
“Jangan meminta dan menuntut uang saja dari umat untuk bangun gedung gereja yang tidak terlalu penting. Kalau pemimpin gereja memiliki hati, maka harus membangun gereja manusia yang putus sekolah, menganggur, miskin, terluka, sakit, menderita, terabaikan, terlupakan, tertindas, dan terlibat dalam hal yang merusak nasib dan masa depannya,” katanya.
Jeremias meminta Keuskupan Jayapura membuka sekolah tingkat TK, SD, dan SMP di Kampung Yogonima. “Itu doa dan harapan terbesar kami selama ini, untuk mempersiapkan jalan bagi generasi penerus,” katanya.
Jeremias mengatakan pihaknya memunyai tanah dan lokasinya sudah siap, dan siap membangun sendiri gedung sekolah yang dibutuhkan. “Sekarang tinggal Bapak Uskup kasih restu dan mendukung kami. Kalau tidak, sampai kapan pun anak-anak kami tidak akan sekolah dan tidak akan mendapatkan akses layanan pendidikan katolik di Keuskupan Jayapura,” katanya.
Sekretaris Panitia, Frengki Hisage mengatakan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) itu merupakan bagian dari Perayaan Lepas Sambut Tahun Baru 2024 dalam Nuansa Orang Hugula. “Kali ini perayaan dilakukan dengan tema ‘Membangun Gereja Manusia Mandiri’. FGD membahas secara komprehensif beberapa bidang karya Pastoral, antara lain pendidikan, kesehatan, ekonomi, kebudayaan, perempuan, dan tanah adat. Dari semua bidang itu, pembahasan yang paling menarik di bidang pendidikan,” ujar Frengki. (*)























Discussion about this post