Jayapura, Jubi – Perpustakaan Rakyat Kamapi Topii di Dogiyai digagas Arnoldus Douw dan Bastian Tebai. ‘Kamapi’ adalah singkatan dari ‘Kamuu-Mapi’, dua distrik induk di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, sebelum dan setelah pemekaran. Sedangkan ‘Topii’ dalam bahasa Suku Mee berarti ‘belajar’.
Bastian Tebai kepada Jubi.id mengatakan Perpustakaan Rakyat Kamapi Topii sudah hadir di Kabupaten Dogoyai sejak 1 Februari 2022. Kamapi Topii diinisiasi Kamar Adat Penguasaha Papua (KAPP) Kabupaten Dogiyai dan Komunitas Sastra Papua (Ko’Sapa).
Perpustakaan ini dikelola secara kolektif oleh tim penggerak. Tim penggerak terdiri dari sejumlah anak muda yang dengan sukarela ikut bergabung tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan pribadi dari pihak mana pun.
“Saat ini Kamapi Topii didukung penuh rekan-rekan muda yang terlibat aktif sebagai penggerak,” kata Tebai menyebutkan sejumlah nama.

Di antara nama adalah Ancelina Yobee, Evita Pigai, Selpina Tekege, Ola Yobee, Markus Butu, Didimus Goo, Yanto Tebai, Petrus Tebai, Ernest Pugiyee, Markus Pigai, Yuliten Yobee, Frans Douw, Frans Gobay, Longginus Wakei, Hery Tebai, dan Dominikus Boga.
“Kami mengundang siapa saja yang berdomisili di Dogiyai, yang tergerak hatinya untuk membangun budaya membaca-menulis di Dogiyai agar menggabungkan diri bersama kami memajukan dan mengembangkan Perpustakaan Rakyat Kamapi Topii,” ujarnya.
Setelah didirikan, Kamapi Topii mulai menggelar buku yang bisa dibaca siapa saja atau masyarakat umum di Dogiyai. Buku digelar di beberapa sekolah, baik SD dan SMP, maupun SMA dan SMK. Selain itu, juga di Lapangan Sepakbola Theo Makai di Moanemani, Dogiyai.
Tebai menjelaskan, Perpustakaan Rakyat Kamapi Topii hadir untuk mewujudkan misi membangun budaya membaca dan menulis di Kabupaten Dogiyai. Kehadiran Kamapi Topii juga dilatari sulitnya sumber bacaan bagi para peserta didik dan masyarakat yang tinggal di kampung-kampung.
“Selama ini Dogiyai tidak memiliki perpustakaan daerah, taman baca, atau toko buku,” ujarnya.
Apalagi di Dogiyai jaringan internet lambat dan sulit diakses. Sejam orang mengakses internet harus mengeluarkan uang Rp15 ribu. Informasi perkembangan pembangunan dan informasi literasi menjadi sangat terbatas.
Selain itu, kalangan masyarakat di kampung-kampung, media cetak juga masih menjadi kebutuhan langka.
“Karena itu melalui Kamapi Topii kami berniat memenuhi kerinduan masyarakat memperoleh sumber bacaan,” katanya.
Dengan berdirinya Perpustakaan Rakyat Kamapi Topii dapat membantu anak-anak usia sekolah, generasi muda, dan masyarakat di wilayah Meeuwodide (Tanah Air Mee), seperti Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Selain itu, kehadiran Kamapi Topii juga menjadikan aktivitas membaca sebagai kebutuhan.
Mereka bisa mengakses sumber bacaan seperti koran dan majalah bekas, serta buku-buku berbagai usia.
“Akses anak-anak usia sekolah, bahkan masyarakat, memperoleh sumber bacaan, terutama koran-koran lokal seperti Tabloid Jubi dan Harian Papua Pos Nabire, sangat sulit, ini akibat jarak transportasi dari Nabire ke Dogiyai lebih 300 km. Anak-anak sekolah maupun masyarakat luas memperoleh sumber bacaan sangat sulit,” katanya.
Awalnya berbasis di sekolah
Kamapi Topii awalnya berbasis di sekolah. Bastian Tebai atau Topilus Bastian Tebai adalah penulis Papua yang sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Aku Peluru Ketujuh (GPM dan Ko’Sapa: 2017), Nemangkawi (Matoa dan Patugana, 2020), Buku Kumpulan Cerita rakyat Dogiyai Amoye Melawan Anak Raja Iblis (Ikan Paus, 2022), dan Perempuan Penyembah Malaikat (Ko’Sapa-Sulur Pustaka: Desember 2023).
Tebai memelopori kegiatan literasi di sejumlah sekolah di Kabupaten Dogiyai dengan mengawalinya di SMP YPPK Moanemani pada 2021. Di sekolah itu, ia mengisi kegiatan ekstrakurikuler membaca dan menulis. Siswa diajari menulis dan hasilnya diterbitkan di majalah sekolah dan majalah dinding.
“Ini su berhasil jalan sampe majalah edisi kelima tulisan-tulisan milik anak-anak sekolah dan guru yang bersedia menulis,” ujarnya.
Kegiatan ekskul bertambah di satu sekolah lainnya, yaitu SMP Negeri 1 Mapia. Di sini kegiatan siswa didampingi tiga guru yang dikoordinir Ibu Guru Afrida Kedeikoto.
“Mereka sudah berhasil menerbitkan majalah sekolah juga, ini sedang proses untuk edisi kedua, terbit per enam bulanan,” katanya.
Kemudian kegiatan ekskul bertambah, yaitu di SMA Negeri 1 Dogiyai di Bomomani yang dibina Pak Guru Ernest Pugiye. Di sekolah ini tulisan siswa diterbitkan di majalah dinding dan sudah masuk edisi ketiga.
“Jadi tugas kita mendorong, memberi kesadaran, memberitahu cara, mendiskusikan lebih lanjut dengan para guru, terutama guru Bahasa Indonesia dan guru yang nyambung, serta dengan kepala sekolah,” ujarnya.

Dengan kegiatan di beberapa sekolah ini, kata Tebai, pihaknya sudah menulis buku cerita rakyat, buku kumpulan puisi, dan buku kumpulan cerpen yang ditaruh di perpustakaan Kamapii Topii.
Untuk mendapatkan koleksi buku perpustakaan rakyat, Kamapi Topii mengadakan donasi buku besar-besaran sejak 2021. Buku banyak berdatangan dari berbagai kalangan, terutama perorangan yang peduli dengan gerakan anak-anak muda Papua ini.
“Jadi kalau soal galang buku sudah cukup. Bukunya dibikin taman bacaan dan menggelar lapak baca. Kebanyakan dikoordinir anak-anak yang sadar literasi, guru honorer yang habis kuliah dan pulang mengabdi di sekolah. Situasinnya begitu di Dogiyai,” ujar Bastian Tebai.
Memulai untuk menjadi inspirasi
Menurut Bendy Pigai, pegiat literasi di Dogiyai, pendidikan di Papua saat ini sangat memprihatinkan. Karena itu, di setiap kampung, rumah, atau kompleks harus membuka kelompok belajar, ruang diskusi, lapak baca, dan pojok baca untuk memberantas buta huruf atau melawan buta aksara.
Dengan gerakan kesadaran seperti yang dilakukan Perpustakaan Rakyat Kamapi Topii, kata Pigai, kemajuan literasi di Papua, khususnya di Dogiyai, pasti bisa diwujudkan perlahan-perlahan.
“Persoalan hari ini hanya kurang adanya niat pemuda untuk ambil bagian dalam menggerakkan semangat berliterasi, sebab pemuda hari ini lebih senang berlomba-lomba dalam politik praktis, ini satu hal yang harus kita refleksi bersama,” ujarnya.
Semakin banyak orang muda yang terlibat, kata Pigai, maka ada kesadaran bahwa generasi dan kehidupan bangsa mendatang lebih penting daripada apapun.
“Karena kalau kita tidak memulai maka tidak akan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk memulai,” katanya.
Pigai mengapresiai gerakan literasi seperti Gerakan Papua Mengajar (GPM) dan Komunitas Sastra Papua (Ko’SaPa) yang dilakukan generasi muda. Kedua gerakan ini, katanya, terus menginspirasi generasi muda Papua lainya, seperti di Dogiyai.
“Saya akan terus mendukung, sebab saya juga bagian dari organisasi dua di atas selama di kota studi Jayapura,” katanya.
Pigai mengajak generasi muda untuk selalu rajin membaca buku. “Bagaimana tong mau lawan kalau buku saja pemalas kita sentuh dan baca. Kita Mau dapat pikiran jernih, pasang taktik yang jitu, ataupun ide yang kreatif dan kritis, di mana kalau tidak punya bahan referensi,” katanya.
Guru: Perlu kerja serius oleh anak-anak Papua sendiri
Ernest Pugiye, guru SMA Negeri 1 Dogiyai yang menjadi pendamping atau pembina kegiatan ekstrakurikuler atau ekskul menulis di sekolahnya mengatakan siswa-siswi perlu mengenal dirinya melalui membaca buku dan menulis.
“Saya menyadari bahwa ekstrakurikuler menulis itu penting, sebab melalui menulis anak-anak bisa mengenal jati diri mereka,” ujarnya.
Menurut Pugiye selama ini banyak pihak mendesak agar anak Papua harus membaca dan menulis, tetapi tidak mengajarkan caranya.
“Sehingga saya hadir mendorong litersi dasar membaca dan menulis di sekolah agar anak anak Papua bisa membaca buku dan menulis artikel,” katanya.
Pugiye mengatakan gerakan literasi sangat membantu anak-anak melek huruf.
“Kalau anak-anak melek huruf, artinya secara tidak langsung kita memberantas buta aksara di kampung melalui sekolah formal maupun nonformal,” ujarnya.
Untuk mengubah pendidikan di Papua, kata Pugiye, perlu kerja serius oleh anak-anak Papua sendiri.
“Kami harap gerakan literasi menjadi gerakan bersama anak-anak muda Papua Tengah agar kita memberantas buta huruf,” katanya. (*)




















Discussion about this post