Nabire, Jubi – Komunitas Korowa Membaca yang disingkat Ko’Membaca adalah sebuah komunitas independen di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah yang bergerak di bidang dunia literasi.
Komunitas ini didirikan Mis Murib. Usai menamatkan pendidikannya di Semarang, Jawa Tengah, Mis Murib pulang ke Nabire dan prihatin melihat kondisi lingkungan pendidikan generasi muda di daerahnya.
“Sebelum saya diwisuda, pada 2019 terjadi peristiwa rasisme di Surabaya. Saya pulang ke Nabire pada 2020. Di tahun itu saya melakukan observasi di lingkungan saya tinggal,” katanya kepada Jubi.
Di lingkungannya itu banyak anak-anak, namun tidak ada perpustakaan ataupun komunitas membaca.
“Adik-adik di kompleks kebanyakan aktivitas mereka setelah pulang sekolah itu tidak pernah pegang buku atau kebanyakan bermain, jalan-jalan ikut acara yang tidak membawa manfaat sehingga saya tergerak agar bisa membangun komunitas ini,” ujarnya.

Menurut Murib kebanyakan anak-anak di sana tidak mendapatkan perhatian orang tua. Umumnya orang tua mereka adalah petani sehingga waktu mereka habis di kebun dan kadang anak-anak ikut ke kebun atau bermain. Selain itu orang tua yang tidak berpendidikan juga berpengaruh terhadap literasi anak-anak.
Dari hasil observasinya, Murib menyimpulkan ia harus mendirikan komunitas literasi agar dapat mengajak anak-anak Papua yang berada di Korowa dalam satu wadah, tempat mereka bermain sambil belajar. Sebelum memulai ia memberikan pemahaman akan pentingnya literasi baca dan tulis kepada pemuda-pemudi di Korowa.
“Setelah itu kami mendirikan komunitas ini untuk menghimpun anak-anak tersebut agar mereka ubah waktu bermain menjadi waktu belajar, dan kami juga awasi mereka dari aktivitas negatif,” ujaranya.
Murib menghimpun generasi muda Papua yang berada di Korwa dalam satu ruang Korwa Membaca agar sama-sama bergerak membangun literasi dasar baca dan tulis untuk generasi muda yang berada di Korwa.
Meski pendirian Ko’Membaca adalah inisiatif Murib sendiri, namun ia mengakui terinspirasi dari Gerakan Papua Mengajar dan Komunitas Sastra Papua (Ko’Sapa) yang mengajar dan membagikan buku-buku ke kampung-kampung.
Murib menyampaikan nama ‘Korowa Membaca’ diambil dari nama tempat atau kompleks yang ditempati komunitas tersebut di Samabusa, Nabire. Murib mendirikan Ko’Membaca pada 2021.

Setelah mendirikan Ko’Membaca, Murib langsung membuat jadwal belajar. Jadwal yang ditetapkan untuk kegiatan belajar-mengajar setiap Jumat sore, pukul 15.00-17.00 WIT. Lokasi belajar di teras gereja.
Anggota komunitasnya sangat beragam, mulai dari anak-anak usia dini hingga siswa SMA, bahkan ada juga mahasiswa. Sekarang, kata Murib, jumlah anggota komunitasnya, termasuk relawan, sekitar 200-an orang.
“Orang-orang yang terlibat tidak hanya siswa, tetapi juga beberapa pemuda Korowa dan mahasiswa dari kampus USWIM (Universitas Satya Wiyata Mandala) Nabire sebagai relawan,” ujarnya.
Murib mengatakan selama ini meng-update semua aktivitas Ko’Membaca di media sosialnya, baik Facebook, Instagram, X, maupun Youtube dan lainnya.
“Tujuan kami bagaimana meng-update informasi agar bisa menginspirasi generasi muda yang ada di Nabire dan di Papua bahwa orang-orang Papua yang berada di pinggiran kota juga ada yang tidak tahu membaca dan menulis sehingga kita harus bantu adik-adik agar bisa bersaing dengan bangsa lain di belahan dunia lain,” katanya.
Murib mengaku sejauh ini belum ada perhatian dari pemerintah daerah dan tidak pernah ada pemerintah yang merespon kegiatannya. Ia juga belum pernah menyampaikan tentang komunitas dan kegiatan kepada Pemkab Nabire maupun Pemprov Papua Tengah.
“Tujuan kami bekerja bukan untuk mencari perhatian ke pemerintah daerah, tetapi kami sadar dengan realitas hidup yang kami alami di Nabire maupun Papua sehingga kami bangun komunitas ini untuk membantu adik-adik kami yang lama distigma oleh orang-orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dan sebagainya,” ujarnya.
Membangun Pondok dari Usaha Sendiri
Setelah Ko’Membaca berjalan tiga tahun, Mis Murib bersama anggota komunitasnya mengumpulkan bahan material secara swadaya untuk membangun rumah baca dan pondok belajar.
“Teman-teman cari dana dengan menjual es, anak-anak muda angkat-angkat kayu sendiri dari hutan, kerja bakti, itu inisiatif semua teman-teman untuk mendirikan sekretariat sekalian tempat belajar-mengajar,” ujarnya.

Selama ini, kata Murib, komunitasnya belajar di depan gereja dan sering dimarahi petugas gereja. Meski demikian, komunitasnya selalu memberikan pemahaman kepada orang-orang tua agar diperbolehkan beraktivitas di teras gereja.
“Kami sering dimarahi oleh petugas gereja, tetapi hal ini justru memotivasi kami bahwa target kami di tahun ini harus punya program bagaimana caranya supaya kami punya sekretariat dan rumah belajar, agar kami bisa belajar di tempat kami sendiri, tidak lagi di halaman gereja,” katanya.
Tahun lalu komunitasnya membentuk panitia pembangunan dan berbagi tugas untuk mewujudkannya.
“Adik-adik kami, mereka mengangkat rumput, angkat batu, angkat pohon, angkat tali, adik pengurus inilah yang bergerak untuk cari dana,” katanya.
Komunitas Korowa Membaca juga membuka donasi buku bacaan untuk ditaruh di perpustakaan mini untuk dibaca anak-anak yang ikut kegiatan belajar.
Lepiton Tabuni masih pelajar SMA, tetapi mendapat tanggung jawab menjadi ketua Ko’Membaca. Ia biasa bergabung pada tingkat tiga saat belajar di komunitas, namun sering membantu mengajar anak-anak usia belia.
Tabuni mengatakan banyak orang yang datang mengunjungi Ko’Membaca, baik secara individu maupun kelompok, dengan membawa buku-buku bacaan.
“Kemarin baru dari Komunitas Sastra Papua Pusat dan Komunitas Sastra Papua Tengah yang datang mengantar buku bacaan sekaligus memberikan materi seputar pentingnya literasi dasar membaca dan menulis,” katanya.
Tabuni mengatakan, badan pengurus dan anggota Ko’Membaca menyampaikan ucapan terima kasih kepada kakak-kakak yang sudah menyumbangkan buku.
“Semoga buku ini menjadi berkat bagi kami dan siapapun yang akan datang ke komunitas untuk membaca buku agar mereka bisa mendapatkan pengetahuan,” ujarnya.
Tabuni juga aktif mengurus pembangunan dan menyambut gembira rencana pendirian rumah baca Ko’Membaca.
“Kami tidak pernah pikir soal ini, selama ini kami belajar di luar rumah, hanya di depan teras, tapi berkat bantuan Tuhan melalui karya Papua kami bisa dapat bantuan. Tuhan memberkati selalu,” katanya.
Ia menjelaskan pembuatan fondasi Rumah Baca dan Perpustakaan Ko’ Membaca oleh Karya Papua sebagai sponsor utama dilakukan di lokasi tanah milik Komunitas Korowa Membaca di Jalan Korowa Atas, Belakang Gereja GKII Nabire pada Sabtu, 8 Juni 2024 pukul 08.30 Waktu Papua. Acara itu dihadiri anak-anak komunitas.
Menurut Koordinator Sastra Papua Wilayah Papua Tengah Arnold Wandikbo pegiat literasi di Provinsi Papua Tengah perlu berkolaborasi untuk mendorong kerja-kerja demi pemajuan literasi dan sastra di Tanah Papua.

“Kami akan terus melakukan kerja-kerja kolaborasi untuk mendorong literasi di pelosok Nabire yang juga mayoritas anak-anak Papua masih buta huruf, tidak melek membaca,” katanya.
Wandikbo mengapresiasi kerja-kerja Ko’ Membaca yang terus berbenah untuk memajukan literasi dengan membina anak-anak Papua di lingkungannya.
“Ini satu pekerjaan berat yang mesti kita kerja bersama, bergandeng tangan mendorong program bersama untuk Nabire dan Papua Tengah yang lebih baik,” ujarnya.
Wandikbo juga mengapresiasi sikap orang tua-tua di Kompleks Korowa yang mendukung Komunitas Korowa Membaca. Termasuk juga hamba-hamba Tuhan yang selama ini telah memberikan kesempatan teras gereja dipakai untuk belajar oleh Ko’Membaca.
“Kalau orang tua hamba Tuhan dukung berarti kegiatan ini akan berjalan mulus tanpa hambatan, sebab anak-anak juga bekerja dengan rajin dan penuh optimistis,” katanya. (*)





















Discussion about this post