Jayapura, Jubi – Film ‘Teman Tegar Maira Whisper From Papua’ menggambarkan pesan resiliensi masyarakat adat melalui kedekatan masyarakat adat dengan hutan. Film ini akan ditayangkan mulai 5 Februari 2026 di seluruh bioskop di Indonesia.
Produser film, Chandra Sembiring mengatakan pesan yang ingin disampaikan dalam film tersebut adalah belajar resiliensi dari masyarakat adat.
“Kami mau coba sampaikan tentang krisis iklim dari sudut pandang masyarakat adat, bagaimana resiliensi mereka, bagaimana kedekatan mereka dengan alam,” kata Chandra Sembiring usai screening film di bioskop, mall Jayapura, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Senin (19/1/2025) malam.
Film yang disutradarai oleh Anggi Frisca mengisahkan bagaimana dua anak dari latar belakang berbeda memulai perjalanan yang mengubah hidup mereka.
Berawal dari rasa ingin tahu terhadap burung cendrawasih, hingga pada akhirnya ikut memperjuangkan hak-hak hutan untuk masa depan mereka.
Di tengah kabut pegunungan Papua, seorang gadis pemberani berusia 12 tahun bernama Maira berjuang mempertahankan hutan tempat tinggalnya. Datanglah Tegar, bocah 11 tahun dengan disabilitas fisik dari kota, yang ingin mengenal hutanbyang dulu diceritakan kakeknya.
Namun hutan itu kini terancam oleh pengusaha jahat yang ingin menguasainya.
Melalui perpaduan musik, dongeng, dan lanskap menakjubkan, Maira adalah tribut untuk persahabatan, keteguhan, dan suara alam yang tak terdengar.
Film ini diharapkan bisa berkontribusi dan mendorong para pemangku kepentingan hingga seniman, bisa mengurangi dampak kerusakan dari krisis iklim yang tidak bisa dihilangkan.
Film berdurasi 97 menit itu juga menggambarkan bagaimana masyarakat adat menjadikan alam atau hutan sebagai sumber makanan, obat-obatan, dan hidup harmonis dengan alam.
Chandra mengatakan lewat film tersebut ia ingin menginspirasi generasi mendatang untuk menyuarakan masyarakat adat, menjadikan subjek dan isu diskusi publik.
“Saya masuk [sejumlah pedalaman di Indonesia] saya melihat resiliensi itu sebenarnya. Jadi, terkait masyarakat adat, saya ingin selalu mengangkat pentingnya resiliensi,” ucapnya.
Menurutnya, film ini bukan hanya sekadar menjadikan Papua sebagai latar, tetapi sebagai subjek bukan objek. Untuk itulah para pemain dan kru yang dilibatkan adalah masyarakat lokal untuk membuka akses, dan ruang ekspresi.
“Mungkin lebih populer bawa artis nasional ke daerah untuk bikin film, tapi kami coba membuka akses dan ruang untuk anak-anak Papua menjadi aktor/aktris untuk mengeluarkan ekspresi seninya. Mereka punya darah seniman, darah motorik yang cukup baik,” ucapnya.
Joanita Chatarine Wakum, jebolan Indonesian Idol yang berperan sebagai Teh Isy, pengasuh Tegar dalam film ini menyatakan film ini bukan hanya menampilkan keindahan alam lewat gambar, tetapi bercerita lewat setiap gerakan dan liriknya.
Seperti bagian lirik yang dinyanyikan “Lewati hujan, sungai, rawa, hutan lagi, lewat belakang gunung. Aaah, dekat saja, pakai perahu, satu kampung di belakang gunung itu.”
Joanita Wakum percaya bahwa musik itu universal yang bisa menyentuh hati hingga anak-anak.
“Di luar sebagai penyanyi, saya merasa ini cara saya bersuara tentang Papua lewat karya [film], Film ini bukan egois tentang saya bawa tim dari Jakarta, buka. Tapi film ini melibatkan teman-teman Seniman dari Kaimana, dan akhirnya, kita bisa dengan bangga bilang bahwa ‘ini kitong pu film,” kata Joanita Chatarine Wakum.
Dalam peran Teh Isy, Joanita Wakum bercerita bahwa niat baik saja tidak cukup, mencerminkan keadaan yang bukan hanya di Papua saja dengan berbagai tantangannya. Tetapi, ia percaya selalu ada jalan terbaik yang diatur dari Tuhan.
“Kita harus bangga sama kita punya tradisi. Kalau kitong mencintai kitong pu tanah, pasti kiting sendiri akan tahu bagaimana cara untuk jaga,” katanya.
Joanita Wakum mengajak generasi muda, khususnya di Papua, untuk bertumbuh peduli dengan mempertahankan budaya Papua itu keren dan sangat luar biasa.
Sementara itu, salah satu penonton, Afny Fadilla Rahmadani (23 tahun) mengatakan film itu bukan hanya mengangkat isu lingkungan, juga kebudayaan dan nyayian rakyat.
“Mereka berani untuk memunculkan bahasa daerah dari Papua itu sendiri, sehingga banyak masyarakat di luar Papua bisa tahu bahasa daerah,” kata Afny.
Menurutnya, film ini mengedukasi masyarakat khususnya anak-anak, agar sedari dini dapat menjaga lingkungan.
“[kesan saya setelah nonton film ini] campur aduk, kak. Pas, scene hutan dihancurkan itu memang [saya] nangis, sampai teman di samping juga kaget, saya bisa menangis karena memang relate sekali, banyak masyarakat adat yang sulit memperjuangkan hutan mereka. Jadi, membawa terbawa suasana, menangis tadi, kak,” katan Duta Bahasa Papua 2025 itu. (*)
























Discussion about this post