Jayapura, Jubi – Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat Franky Samperante mengatakan Proyek Strategis Nasional atau PSN yang saat ini dibuka di beberapa daerah di Tanah Papua, sebenarnya upaya kolonialisme memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan komoditas ekspor.
Hal itu disampaikan Franky Samperante pada webinar ‘Memahami PSN, Dampaknya bagi Masyarakat Adat, dan Kerja Sama Solidaritas’ yang diadakan Pusat Studi HAM, Sosial, dan Pastoral Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura (PSHSP-STT WPJ) bersama Dewan Gereja Papua melalui Zoom Meeting pada Kamis (9/10/2025).
“Isu PSN yang terjadi di beberapa daerah di Tanah Papua, seperti Merauke, Nabire, Teluk Bintuni, Fakfak, Sorong, dan beberapa tempat lainnya mengabaikan hak-hak masyarakat adat,” kata Samperante yang membahas ‘Update PSN Merauke’.
Ia mencontohkan, sejak masuknya PSN di Merauke, Papua Selatan, masyarakat adat Malind khususnya, sudah terpinggirkan akibat deforestasi proyek itu.
“Padahal bagi masyarakat adat di Papua kerusakan satu pohon saja akan memukul secara psikis, karena mereka dengan lingkungan relatif kuat, tetapi negara sering mengabaikan itu,” ujarnya.
Webinar yang dimoderatori Novita Opki tersebut menampilkan tiga pembicara. Dua pembicara lainnya adalah Cahyo Pamungkas dari Tim Kajian Papua, Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora, Badan Riset dan Inovasi Nasional (IPSH-BRIN) dan Pdt Fransina Yoteni, akademisi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI Izaak Samuel Kijne, Jayapura.
Cahyo Pamungkas yang membahas ‘Invasi Ekonomi dalam Membaca PSN Papua’ mengatakan program food estate dan energy estate di Papua merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk ketahanan pangan dan energi
BERITATERKAIT
“Namun di wilayah Merauke dan Boven Digoel, proyek ini menimbulkan perubahan ekologis yang besar,” ujarnya.
Dampak ekologis langsung, kata Cahyo, hilangnya biodiversitas dan habitat endemik, gangguan terhadap fungsi ekologis serupa penyerapan karbon dan daur air, serta meningkatnya resiko kebakaran hutan dan erosi tanah.
Pdt Fransina Yoteni yang membahas ‘Refleksi Teologis’ terkait PSN di Tanah Papua menyebutkan dari perspektif filosofis teologis bumi sebagai sistem kehidupan yang bernilai, namun isu pelestarian lingkungan semakin mendesak.
“Pelestarian lingkungan sekarang dalam suasana yang tidak baik, suasana yang sangat mengerikan, tetapi juga menunjukkan kehancuran,” ujarnya
Bumi, lanjutnya, merupakan ciptaan ilahi yang suci dan bukan objek eksploitasi. Bumi sebagai ibu dan penjaga kehidupan.
“Karena itu perspektif filosofis teologis harus menjadi dasar etika pelestarian lingkungan,” katanya. (*)































