Jayapura, Jubi – Ketua Pusat Studi Indo Pasifik Universitas Cenderawasih (Uncen) Dr Melyana Pugu SIP MSi mengatakan diplomasi kebudayaan bisa menjadi pintu masuk bagi Papua dan Indonesia untuk menjalin kerja sama bisnis maupun pendidikan dengan negara-negara di Pasifik.
“Apalagi dengan negara-negara Melanesia yang punya karakter dan budaya yang sama dalam kehidupan sehari-hari dengan Papua,” katanya kepada jubi.id di sela acara Fokus Group Diskusi (FGD) ‘Indonesia dalam Pusaran Indo Pasifik: Posisi Strategis Papua’ di salah satu hotel di Kotaraja, Kota Jayapura, Jumat (22/3/2025).
Untuk kerja sama pendidikan, Uncen telah melakukan kerja sama dan pendekatan dengan beberapa perguruan tinggi di Suva, Fiji, yaitu Universitas Nasional Fiji dan University of The South Pacific.
“Kita sudah melakukan penjajakan dan saya juga pernah ikut menjadi pembicara dan menyampaikan materi dalam seminar bersama Fiji National University di Suva,” katanya.
Dr Pugu mengatakan sudah banyak penelitian yang dilakukan Pusat Studi Indo Pasifik Uncen tentang Pasifik, terutama menyangkut perbatasan Papua Nugini dan Indonesia.
“Kami juga telah mendorong agar mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP (Fakultas Ilmu Sosial danIlmu Politik) Uncen juga fokus dalam membahas negara-negara Pasifik, terutama kawasan Melanesia yang punya kedekatan etnis dan budaya dengan Papua,” ujarnya.
Menurut Dr Pugu wilayah Pasifik, terutama negara-negara Melanesia, sebagai wilayah terdekat dengan Papua harus memakai pendekatan diplomasi kebudayaan untuk lebih memperat hubungan dengan negara-negara tersebut.
Selain itu, lanjut Dr Pugu, pada Konvensi Nasional XV yang diadakan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di Jayapura, 74 akademisi dari 45 perguruan tinggi membahas isu-isu strategis di kawasan Indo-Pasifik, khususnya terkait ekonomi dan keamanan.

Waktu itu, jelasnya, sangat menekankan pentingnya peran Papua dalam konteks tersebut, mengingat posisinya yang strategis dan potensi ekonominya. Secara keseluruhan, para ahli hubungan internasional melihat Papua sebagai wilayah dengan potensi strategis yang signifikan dalam meningkatkan konektivitas dan peran Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Pembukaan jalan darat dan transportasi darat dari Papua ke Papua Nugini (PNG) dapat dianalisis menggunakan teori konektivitas dalam hubungan internasional dan ekonomi regional.
“Teori konektivitas menekankan bahwa peningkatan infrastruktur transportasi dan keterhubungan fisik dapat memperkuat interaksi sosial, ekonomi, dan geopolitik antar wilayah,” katanya.
George Waromi, salah satu pebisnis Papua yang sering melakukan bisnis dengan mitranya di Papua Nugini mengakui saat ini Cina telah banyak membangun infrastrukur di PNG, terutama bandara, pelabuhan, dan jalan darat.
“Kita juga telah memasok material untuk pembangunan jalan ke Wewak maupun ke Vanimo,” katanya.
Ia menambahkan banyak warga di Provinsi Sandaun atau Sepik Barat, PNG sudah memanfaatkan jalan darat dari Vanimo ke Pasar Tradisional Wutung yang dapat ditempuh dengan kendaraan hanya dalam waktu dua jam.
Dia berharap untuk menunjang kerja sama bisnis antara Papua dengan Papua Nugini, serta negara-negara di Pasifik jelas harus mendapat dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat, terutama yang terkait dengan regulasi. “Dukungan ini penting karena perdagangan dan bisnis antara negara-negara di Pasifik maupun di Papua Nugini,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Kota Jayapura Matius Pawara. Ia mengatakan, sebenarnya antara Kota Vanimo dan Kota Wewak sudah menandatangani kesepakatan bersama menjadi ‘sister city’ antara PNG dan Kota Jayapura, Provinsi Papua.
“Bayangkan, hampir setiap hari pasar di Wutung, Kamis dan Sabtu, 1.000 sampai 2.000 warga dari lima kampung di Provinsi Sepik Barat belanja di Wutung. Berbeda kalau hari biasa hanya 200 orang per hari,” ujarnya. (*)





















Discussion about this post