Jayapura, Jubi – Owner Isasai Resto, Usilina Epa mengatakan, diperlukan inovasi mengeloa pangan lokal Papua menjadi produk bernilai jual, dengan tetap menjaga keaslian, keberlanjutan, dan identitas budaya Papua.
Katanya, Papua memiliki kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Namun belum seluruhnya dikenal dan dimanfaatkan secara optimal.
Ini disampaikan Usilina Epa dalam kegiatan Super Studentpreneur yang dilakukan Universitas Cenderawasih atau Uncen Jayapura, di Kota Jayapura, Papua Senin (8/6/2026).
Menurutnya, inovasi pengelolaan pangan lokal, bukan sekadar mengikuti tren pasar. Melainkan upaya menghadirkan kembali kekayaan alam Papua ke meja makan, dengan tetap menghormati ekosistem dan kearifan lokal yang ada.
“Pentingnya inovasi yang tidak hanya mengolah bahan pangan menjadi produk bernilai jual, tetapi juga menjaga keaslian, keberlanjutan, dan identitas budaya Papua,” kata Usilina Epa.
Ia mengatakan, bahan pangan lokal merupakan sesuatu yang menjadi fokus pekerjaannya sejak 12 tahun lalu. Setelah menyelesaikan kuliah, ia memulai aktivitas berkebun sebelum kemudian terjun lebih serius dalam pengembangan usaha berbasis bahan pangan lokal.
“Hari ini saya sangat senang mendapat kesempatan untuk berbagi pemikiran dengan adik-adik mahasiswa. Saya ingin mengajak semua peserta menyadari satu hal penting yaitu kita berada di Tanah Papua yang sangat kaya,” ucapnya.
Tanah Papua kata Usilina Epa, memiliki begitu banyak persediaan bahan pangan yang bentuknya beragam. Bahan pangan lokal Papua tidak hanya berupa umbi-umbian, juga berbagai jenis buah-buahan, biji-bijian, sayuran, kulit tanaman, serat, daun, rempah-rempah, hingga beragam sumber protein.
“Bahkan hal sederhana seperti bawang lokal memiliki keunggulan tersendiri, misalnya aroma yang lebih kuat dibandingkan bawang dari daerah lain,” ujarnya.
Tanah Papua juga memiliki sumber protein dari ikan dan hasil perairan yang sangat melimpah. Semua potensi tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk yang menarik dan bernilai ekonomi. Namun potensi itu, seringkali belum dilihat sebagai nilai tambah yang dapat dikembangkan.
“Bahan pangan lokal di [Tanah] Papua sangat beragam. Misalnya, selain pisang yang sering kita lihat di pasar, ada juga berbagai jenis umbi-umbian yang dalam bahasa Sentani dikenal dengan nama Yaara,” katanya.
Ia pun mengajak semua pihak mulai berpikir lebih luas. Jika selama ini mungkin hanya mengenal bahan pangan yang sering terlihat di pasar, apabila berkunjung ke kampung-kampung di sekitar Jayapura, kita akan menemukan begitu banyak jenis pangan lokal yang belum banyak dikenal masyarakat kota.
“Di Sentani terdapat beragam bahan pangan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kekayaan inilah yang menjadi alasan saya memulai usaha sekitar empat tahun lalu. Saya melihat banyak bahan pangan lokal yang sebenarnya tersedia di kampung, tetapi tidak lagi ditemukan di pasar,” ujar Usilina Epa.
Katanya bahan pangan lokal yang terlihat di pasar hanyalah sebagian kecil. Sebagian besar bahkan tidak terlihat sama sekali di pasar tradisional, apalagi di warung makan dan restoran yang ada di Kota Jayapura.
Ia mengatakan, kondisi inilah yang mendorongnya untuk membangun usaha dan mulai mengembangkan berbagai produk berbasis pangan lokal.
Seba menurutnya bahan pangan lokal harus hadir di meja makan dan dapat dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di kota. Kekayaan tersebut tidak boleh hanya tersimpan dan dikonsumsi di dapur-dapur kampung.
Menurutnya, banyak orang yang kini tinggal jauh dari kampung dan sudah lama berhenti berkebun. Akibatnya, tidak lagi dapat menikmati kekayaan pangan lokal setiap hari, kecuali pada momen-momen tertentu, seperti acara adat atau pertemuan keluarga.
Melalui usahanya, Usilina Epa ingin menghadirkan kembali berbagai cita rasa lokal, memperkenalkan bahan pangan asli Papua, serta melestarikan resep-resep otentik yang merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur.
“Warisan kuliner dari para nenek dan leluhur ini perlu disajikan kembali kepada masyarakat luas untuk dinikmati. Bukan hanya oleh orang luar, juga oleh masyarakat Sentani sendiri yang mungkin sudah lama terputus dari kampung halamannya dan tidak lagi memiliki akses langsung terhadap kekayaan pangan lokal.”
Dalam menjalankan usahanya kata Epa, Bahan pangan yang digunakan sebagian diperoleh dari pasar tradisional. Dibeli langsung dari para pedagang mama-mama Papua.
Selain itu, banyak bahan lain yang didatangkan langsung dari kampung, terutama ikan yang hampir selalu diperoleh dari masyarakat kampung.
Dalam penyajian makanan, pihaknya selalu menggunakan filosofi dan perlengkapan makan tradisional masyarakat adat Sentani.
Selain hote atau piring kayu, terdapat pula wadah-wadah lain yang terbuat dari tanah liat maupun bahan alami yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat.
“Bagi kami, makanan dan cara menyajikannya tidak dapat dipisahkan dari budaya. Keduanya merupakan satu kesatuan. Karena itu, yang ingin kami hadirkan melalui usaha ini bukan hanya rasa makanan, tetapi juga pengalaman budaya yang menyertainya,” ucapnya.
Ia mengatakan, inilah yang ingin ia tampilkan dan kembangkan, agar produk pangan lokal bisa lebih dikenal dan bersaing di ruang kuliner yang ada.
Berkaitan dengan inovasi Usilina Epa mengatakan, ada beberapa jebakan inovasi yang menurutnya sebagai mahasiswa perlu waspadai, agar tidak mengurangi kualitas terbaik dari bahan pangan lokal yang ada di Papua.
Katanya, sekitar 60 persen bahan pangan di Papua adalah endemik. Banyak orang di luar Papua mencari kualitas bahan pangan yang hanya ada di Papua. Apabila mereka mencari kualitas tersebut, tentu nilai ekonominya juga tinggi karena keunikan dan keterbatasan sumbernya.
“Sehingga tidak boleh terjebak dalam konsep inovasi yang justru merusak kualitas dari bahan pangan itu sendiri.
Ada beberapa hal yang sering terjadi ketika orang membuat produk dari bahan pangan lokal. Banyak produk yang hanya menempelkan nama bahan lokal di kemasan, tetapi rasa asli atau karakter alami dari bahan pangan itu sudah hilang atau tidak lagi terlihat dalam produk,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Namblong (Bumma), Yohana Tarkuo mengatakan, badan usaha yang dikelola pihkanya dibentuk sebagai upaya menjaga dan mengelola hak wilayah serta potensi yang dimiliki masyarakat adat, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat berbasis komunitas.
“Kami bekerja dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam setiap kegiatan usaha. Semua potensi yang ada di 25 kampung dikelola bersama untuk memberikan manfaat bagi masyarakat adat,” kata Yohana Tarkuo.
Menurutnya, luas wilayah yang dikelola mencapai sekitar 53.000 hektare, dan menjadi bagian dari ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.
Dalam pengelolaannya, Bumma berusaha memanfaatkan potensi yang ada sekaligus menjaga nilai-nilai adat yang sudah diwariskan turun-temurun. Masyarakat tidak hanya menjadi objek, juga subjek utama dalam setiap kegiatan usaha.
“Badan usaha ini juga telah memiliki dasar hukum yang jelas, sehingga kegiatan yang dilakukan memiliki legalitas sesuai dengan peraturan yang berlaku,” ucapnya.
Katanya, melalui badan usaha masyarakat adat ini, pihaknya mencoba membangun kembali sistem ekonomi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
“Prinsip utama yang kami pegang adalah bahwa usaha ini harus kembali kepada masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat adat,” ujarnya. (*)

























Discussion about this post