Jayapura, Jubi – Berawal dari tugas mata kuliah, sekelompok mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Cenderawasih (Uncen) mencoba mendobrak kebiasaan lama dalam mengolah pangan lokal. Mereka menghadirkan “Cendrawasih Banana Treats”, sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadikan pisang raja sebagai primadona camilan modern.
Inisiatif ini lahir dari tangan Agnes Ratu Tehresia Tail bersama enam rekannya: Ishak Semuel Karma, Putri Nur Rohma, Dini Nonik Trianita, Oriana Matua, Richard Sanyar, dan Anna Hissage. Mereka tertantang untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap pisang yang selama ini dianggap makanan sederhana.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. Maka kami buat menu utama bernama Royal Bananique,” tulis mereka dalam laporan usaha yang disusun sebagai bagian dari tugas kuliah yang dibuat pada Sabtu (28/3/2026).
Royal Bananique bukanlah pisang goreng biasa. Menggunakan bahan baku pisang raja utuh, buah ini dibaluri tepung basah dan tepung roti hingga menghasilkan tekstur renyah setelah digoreng. Keunikannya terletak pada bagian tengah pisang yang sengaja dibuat kosong untuk diisi berbagai varian topping dan fla (saus manis).
Selain Royal Bananique, mereka juga menjual beberapa menu pendamping, seperti Pisang Aroma, Cincau Bliss, dan Emerald Ice, dengan rentang harga sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000. Menu-menu ini dirancang untuk memadukan cita rasa lokal dengan sentuhan modern agar sesuai dengan selera generasi muda.
Dalam laporan mereka, pisang dipilih bukan hanya karena mudah diperoleh, tetapi juga karena fleksibilitasnya dalam pengolahan. Dengan inovasi yang tepat, bahan pangan yang sederhana ini dinilai mampu memiliki nilai jual lebih tinggi dan berpotensi bersaing dengan produk instan maupun merek besar.

Proses menjalankan usaha ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Keterbatasan dana, koordinasi tim, dan minimnya peralatan memasak menjadi tantangan utama sejak tahap persiapan. Sebagai ketua kelompok, Agnes harus mengoordinasikan pengumpulan modal dan memastikan kebutuhan usaha tetap terpenuhi meskipun respons anggota tidak selalu seragam.
Sehari sebelum penjualan, enam anggota tim berkumpul di salah satu kos mahasiswa untuk menyiapkan bahan dan peralatan. Mereka menyiapkan adonan, topping, hingga perlengkapan booth yang sebagian besar dibawa dari rumah masing-masing, mulai dari kompor, meja, hingga kursi untuk pelanggan.
Penjualan pertama dilakukan di booth yang disediakan di depan kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih pada Senin, 9 Maret 2026. Cuaca yang kurang mendukung sempat menimbulkan kekhawatiran, namun antusiasme mahasiswa lain cukup tinggi. Royal Bananique, Pisang Aroma, dan Cincau Bliss terjual dengan baik sepanjang hari.
Sebaliknya, minuman Emerald Ice tidak banyak diminati, sehingga sebagian stok tidak terjual. Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh belum sepenuhnya mampu menutupi modal awal, terutama karena biaya topping dan bahan tambahan relatif tinggi.
Meski secara finansial belum menghasilkan laba maksimal, pengalaman menjalankan usaha ini memberikan pembelajaran langsung mengenai manajemen modal, kerja sama tim, hingga strategi pemasaran sederhana di lingkungan kampus. Dari tujuh anggota, enam orang terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan, sementara satu anggota hanya berkontribusi dalam pengumpulan dana. Evaluasi peran setiap anggota tetap dicatat sebagai bagian dari laporan akademik mereka.
Di luar konteks tugas kuliah, usaha ini juga menunjukkan potensi ekonomi dari pengolahan pangan lokal. Penggunaan pisang sebagai bahan utama secara tidak langsung mendukung permintaan hasil pertanian lokal dan membuka peluang bagi pengembangan usaha kecil berbasis komoditas daerah.
Dalam laporan penutup, para mahasiswa menilai bahwa pengalaman ini membuat mereka memahami bahwa kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan teori perencanaan bisnis, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lapangan, termasuk cuaca, selera konsumen, dan keterbatasan sumber daya.
Di tengah arus globalisasi dan meningkatnya konsumsi produk instan, pangan lokal kerap tersisih dari pilihan generasi muda. Padahal, seperti ditunjukkan melalui Cendrawasih Banana Treats, bahan pangan lokal memiliki potensi besar jika diolah dengan kreativitas dan pendekatan yang relevan dengan tren pasar.
Inovasi seperti Royal Bananique menjadi contoh bagaimana pisang—yang selama ini dianggap makanan biasa—dapat diposisikan sebagai produk dengan konsep premium dan daya tarik visual yang kuat. Upaya ini tidak hanya memperkaya variasi kuliner, tetapi juga memperkuat identitas daerah serta membuka peluang ekonomi baru.
Bagi para mahasiswa tersebut, tugas kuliah ini berakhir bukan hanya dengan nilai akademik, melainkan juga pengalaman langsung membangun usaha dari nol. Dari proses mengumpulkan modal hingga menghadapi risiko kerugian, mereka memperoleh gambaran konkret tentang dunia bisnis yang selama ini hanya dipelajari di ruang kelas. (*)
*Agnes Ratu Tehresia Tail, Dini Nonik Trianti, Putri Nur Rohma, Richard Sanyar, Oriana Matuan dan Ishak Samauel Karma berkontribusi dalam laporan ini.




Discussion about this post