Jayapura, Jubi – Owner Isasai Resto, Usilina Epa mengatakan, pengembangan pangan lokal Papua di tidak hanya berfokus pada aspek bisnis, juga bagian dari upaya menjaga identitas budaya dan keberlanjutan ekologi.
Ini disampaikan Usilina Epa dalam kegiatan Super Studentpreneur yang dilakukan Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, di Kota Jayapura, Papua Senin (8/6/2026).
Ia mengatakan, makanan khas Papua memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas. Namun kini masih sering kalah bersaing dengan makanan populer seperti bakso, mie ayam, dan lalapan yang mudah ditemukan di berbagai daerah.
Kondisi ini menyebabkan kekayaan pangan lokal Papua kurang tampil sebagai identitas utama di ruang kuliner di kota. Tantangan lain adalah kecenderungan inovasi pangan yang justru mengurangi kualitas bahan asli, misalnya penggunaan gula berlebihan, pengawet, atau perasa tambahan.
“Inovasi seharusnya tidak mengurangi, apalagi merusak, kualitas terbaik dari bahan pangan lokal,” kata Usilina Epa.
Katanya, inovasi pangan lokal juga kerap terjebak pada tren pasar, sehingga produk yang dihasilkan menjadi seragam dengan produk lain dan kehilangan keunikan. Produk yang kehilangan identitas diangap akan sulit bersaing dalam jangka panjang dan berisiko tidak berkelanjutan.
“Dalam konteks ini produk berbasis kekayaan lokal menjadi kunci agar usaha kecil dapat bertahan dan berkembang,” ucapnya.
Misalnya, pengembangan produk berbasis pangan lokal dilakukan oleh Sinergi Papua yang mengolah bahan-bahan lokal tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Produk-produk tersebut telah dipasarkan hingga tingkat nasional bahkan internasional, menunjukkan bahwa inovasi berbasis keunikan lokal memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas tanpa harus kehilangan identitas.
“Selain aspek bisnis, pendekatan ini juga menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Pengembangan usaha berbasis pangan lokal harus tetap memperhatikan kelestarian kebun, tanah, dan hutan agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap alam,” ucapnya.
Menurutnya, para pelaku usaha dan mahasiswa didorong untuk menggali lebih dalam potensi pangan di daerah masing-masing, serta mengembangkan produk bernilai ekonomi yang tetap menjaga keseimbangan ekologi dan budaya.
“Kewirausahaan adalah jembatan antara kelimpahan ekologis, pengetahuan, budaya, dan nilai ekonomi. Tugas kita adalah memastikan kekayaan itu menjadi kemakmuran yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Namblong (Bumma) Yohana Tarkuo mengatakan badan usaha yang dikelola pihaknya adalah model usaha yang dirancang dengan tiga pendekatan utama.
Pendekatan itu adalah penguatan ekonomi berbasis komunitas, peningkatan sumber daya manusia secara berkelanjutan, serta pelestarian dan penguatan nilai-nilai budaya lokal yang mulai terkikis.
“Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem yang sudah ada, melainkan menghubungkannya agar lebih terstruktur dan bernilai ekonomi,” kata Yohana Tarkuo.
Menurutnya, ada lima unit usaha utama yang dikembangkan, meliputi sektor pertanian seperti vanili, jagung, padi, dan kakao berbasis komunitas, kehutanan melalui rehabilitasi lahan dan perikanan, pariwisata berbasis alam, serta unit usaha pendukung lainnya.
“Salah satu contoh pengembangan pariwisata adalah wisata susur sungai menggunakan rakit bambu,” ucapnya.
Kata, untuk sektor pertanian, masyarakat telah mulai melakukan budidaya berbagai komoditas. Namun tantangan utama masih terletak pada akses pasar.
Banyak hasil produksi petani belum memiliki kepastian pembeli, sehingga lembaga usaha ini berperan sebagai penghubung antara petani dan pasar, sekaligus memperkuat kapasitas produksi dan pemasaran.
“Selain itu, kami juga melakukan pendataan lahan adat serta pemetaan potensi komoditas di wilayah masing-masing kampung,” ujarnya.
Ia mengatakan, masyarakat adat tetap menjadi pemilik utama sumber daya, sementara lembaga usaha berfungsi sebagai fasilitator dan pendamping dalam pengembangan ekonomi lokal.
“Pengembangan ini penting untuk kolaborasi lintas pihak, serta keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengelola potensi daerahnya sendiri tanpa menghilangkan nilai budaya yang telah ada,” katanya. (*)

























Discussion about this post