4 suku di Teluk Bintuni tolak DOB Papua Barat Tengah

Penulis: Adlu Raharusun
Editor: Dewi Wulandari

Manokwari, Jubi – Perwakilan masyarakat 4 suku, yakni Suku Kuri, Wamesa, Irarutu, dan Sumuri yang masuk dalam suku besar Risaturi di Teluk Bintuni, menolak upaya segelintir bupati di Papua Barat yang mendorong pemekaran Provinsi Papua Barat Tengah (PBT).

Wakil Ketua Bidang Transformasi Suku Sumuri Teluk Bintuni, Econ Waprak, di Manokwari, Minggu (19/2/2023), mengatakan masyarakat Suku Besar Risaturi

Kuri, Wamesa, Irarutu, dan Sumuri melihat kepentingan DOB PBT tidak mengakomodir masyarakat adat akar rumput Risaturi, tetapi juga tujuh suku besar di wilayah adat Kabupaten Teluk Bintuni.

Segelintir kepala daerah di Papua Barat yakni Bupati Teluk Bintuni, Bupati Teluk Wondama, Wakil Bupati Fakfak, dan Wakil Bupati Kaimana mendorong pembentukan DOB Papua Barat Tengah.

“Hal yang perlu dilakukan Tuan Besar 4 bupati yakni Bupati Bintuni, Fakfak, Kaimana, dan Wondama adalah hak sepihak yang dilakukan di kalangan atas,” kata Econ Waprak.

Kepada Bupati Teluk Bintuni, Econ mengingatkan bahwa masyarakat Risaturi melihat ada agenda yang perlu dilihat baik oleh Bupati Bintuni.

“Yaitu kepentingan pemindahan industri yang menyerap hasil pada hak wilayah adat Risaturi terutama suku Sumuri,” ucapnya.

BERITATERKAIT

“Masyarakat adat minta agar tim yang melakukan kajian pemindahan harus dapat menjelaskan kepada masyarakat adat alasan pemindahan industri,” tegasnya.

Econ menambahkan bahwa keinginan masyarakat adat adalah pemekaran Daerah Otonomi Baru Kabupaten Babo Raya, bukan provinsi yang digaungkan para kepala daerah, terutama Bupati Teluk Bintuni.

Pihaknya mendesak agar Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni segera memroses DOB Babo Raya, kemudian menjadikan kawasan industri di Sumuri menjadi kota madya industri dan segera minta tim kajian akademik untuk dapat menjelaskan pemindahan industri dari wilayah adat suku Sumuri Kampung Onar Kabupaten Teluk Bintuni ke Fior di Kabupaten Fakfak.

“Kami akan pastikan satu pekan dari apa yang kami sampaikan di media, suku besar Risaturi dapat ditanggapi dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. Jika tidak, kami akan boikot investasi migas dan semua aktivitas investasi lain di wilayah adat kami,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Gobai warns military presence could perpetuate violence in Paniai

Jayapura, Jubi – Deputy Speaker IV of the Central Papua Legislative Council (DPR Papua Tengah, John NR Gobai, has alleged [...]

Kamuyend clan’s black cross burned amid customary land dispute in Merauke

Jayapura, Jubi – Unidentified individuals have damaged and burned a black cross erected by the Kamuyend clan as a traditional [...]

WVI launches public campaign to support more than 5,000 children in Papua

Jayapura, Jubi – World Vision Indonesia (Wahana Visi Indonesia – WVI) has relaunched its Baca Tanpa Batas (Read Without Limits) [...]

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist