Jayapura, Jubi – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua melalui UPTD Taman Budaya menggelar Workshop Seni Musik Tradisional Papua untuk memperkenalkan, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni musik tradisional Papua.
Workshop ini diperuntukkan bagi pelajar tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) se-Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.
Agenda ini digelar di UPTD Taman Budaya Expo Waena, Kota Jayapura, Provinsi Papua pada 4 November-6 November 2026.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Josefienje Wandosa mengatakan Papua memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa. Salah satu warisan budaya yang memiliki nilai penting adalah seni musik tradisional.
Menurutnya, musik tradisional Papua bukan sekadar bunyi-bunyian atau hiburan, tetapi merupakan bagian dari identitas, sejarah, kehidupan sosial, adat istiadat, dan ekspresi nilai-nilai budaya masyarakat Papua.
“Maka dari itu kegiatan ini menjadi bagian penting bagi generasi penerus yang ada di tanah ini,” kata Josefienje Wandosa, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, melalui workshop ini para pelajar tidak hanya diperkenalkan pada seni musik tradisional Papua, juga diberikan kesempatan untuk belajar, mengenal teknik bermusik, memahami nilai-nilai budaya, dan mengembangkan kreativitas dalam memainkan dan memperkenalkan musik tradisional.
BERITATERKAIT
Peserta diingatkan tidak merasa malu atau menganggap musik tradisional sebagai sesuatu yang kuno. Sebaliknya, generasi muda harus menjadikan seni musik tradisional sebagai kebanggaan dan kekuatan identitas diri.
Ia berharap, melalui workshop tersebut, para pelajar dapat menjadi generasi penerus yang turut menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan seni musik tradisional Papua kepada masyarakat luas, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.
Sementara itu, Ketua Panitia, Marya Natalia Patiran menjelaskan workshop ini diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Taman Budaya yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Kebudayaan.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 80 peserta dari 14 sekolah di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, termasuk pelajar dari SLB Negeri Pembina Buper Waena.
Natalia Patiran mengatakan, pelajar tingkat SLTA dipilih sebagai peserta karena memiliki kemampuan untuk memahami materi dan mengembangkan kreativitas seni musik tradisional.
“Tujuan kegiatan ini yang pertama adalah memperkenalkan kekayaan dan keberagaman seni musik tradisional Papua kepada pelajar,” ujar Natalia Patiran.
Melalui pelatihan ini pihaknya ingin peserta memiliki kepedulian terhadap musik tradisional Papua sekaligus menumbuhkan rasa cinta bahwa ini adalah budaya yang harus dipelajari dan dijaga.
Katanya, workshop ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai sejarah dan jenis-jenis alat musik tradisional Papua, tetapi juga meningkatkan keterampilan peserta melalui praktik, eksplorasi dan kolaborasi musik.
Papua kata Patiran, punya keberagaman alat musik tradisional dan fungsinya berbeda-beda, ada musik tradisional yang digunakan untuk orang meninggal, alat musik untuk tarian dan lainnya.
“Kami pikir di usia tingkat SLTA ini usia yang cukup matang untuk lebih mudah memahami dan menangkap pelajaran yang diberikan terkait dengan musik tradisional ini,” katanya.
Ia menjelaskan dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok diberikan tantangan dari narasumber untuk mengembangkan sebuah lagu dengan mengkolaborasikannya bersama alat musik tradisional Papua.
Ia mengatakan, salah satu hal istimewa dalam kegiatan ini adalah keterlibatan tiga siswa dan dua guru pendamping dari SLB Negeri Pembina Buper Waena.
Menurutnya, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang pembelajaran dan kreativitas seni yang terbuka bagi seluruh peserta didik.
Pihaknya ingin menyiapkan generasi muda sebagai penerus dan pelestari budaya Papua, dan berharap apa yang mereka dapatkan selama workshop bisa dibawa pulang ke sekolah, dikembangkan bersama guru pendamping dan diajarkan kepada teman-teman mereka.
Ia juga berharap kegiatan workshop itu dapat berkelanjutan. Ke depannya Taman Budaya akan menyediakan ruang ekspresi bagi para pelajar untuk menampilkan hasil karyanya melalui kegiatan di panggung terbuka Taman Budaya.
Sementara itu, Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Yudhi Aji Ristanto sebagai pemateri mengatakan, dalam kegiatan itu peserta diarahkan untuk menciptakan komposisi musik baru, bukan sekadar melakukan aransemen terhadap musik yang sudah ada.
Menurutnya, proses penciptaan karya musik dilakukan secara bertahap, mulai dari menentukan tema, menggali ide dan gagasan, menyusun konsep, hingga membuat sinopsis karya.
“Kami lebih menekankan bahwa peserta akan menciptakan suatu komposisi musik bukan aransemen musik. Sehingga ini menjadi suatu musik baru atau penciptaan baru bagi anak-anak sekolah, khususnya siswa SMA di Kota dan Kabupaten Jayapura,” ucap Yudhi Aji Ristanto.
Ia mengatakan, materi diberikan dengan pendekatan sederhana agar mudah dipahami dan diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing. Kreativitas dalam mengembangkan musik tradisional perlu terus didorong.
Menurutnya, musik tradisional Papua dapat dikolaborasikan dengan musik Barat maupun menggunakan teknik komposisi modern, selama tetap menghormati adat istiadat dan aturan budaya yang berlaku.
“Kita boleh mengembangkan ide dan kreativitas dalam bermusik, tetapi tetap harus menjaga adat istiadat yang ada. Misalnya, jika ada lagu atau tradisi yang tidak boleh dibawakan atau harus mendapatkan izin terlebih dahulu, maka kita tetap harus meminta izin,” katanya.
Ia mengatakan, pada akhir workshop, enam kelompok peserta dijadwalkan mempresentasikan hasil penciptaan komposisi musik masing-masing dengan mengangkat tema dan konsep yang berbeda. Penampilan tersebut juga akan dilengkapi dengan penggunaan kostum adat Papua.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada pelaksanaan workshop saja, tetapi dilanjutkan dengan berbagai kegiatan atau ruang pertunjukan yang dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk menampilkan karyanya.
Keberadaan event musik yang berkelanjutan dinilai sangat penting untuk menjaga motivasi dan semangat pelajar dalam mengembangkan kreativitas khususnya di bidang musik tradisional Papua.
Ia menambahkan dengan adanya workshop ini, diharapkan generasi muda Papua semakin mengenal kekayaan musik tradisional daerahnya, memiliki keterampilan dalam menciptakan karya musik.
“Tapi juga tumbuh menjadi generasi yang bangga dan bertanggung jawab dalam melestarikan warisan budaya Papua,” ujarnya. (*)

































