Jayapura, Jubi – Peneliti buah merah Papua, I Made Budi membagikan ilmu hasil penelitiannya dan menunjukkan mesin yang ia gunakan untuk mengolah buah merah kepada mahasiswa Fisip Uncen Jurusan Hubungan Internasional dan pelajar SMK Negeri 8 yang melakukan magang di PT Media Jubi Papua, Jumat (26/7/2024).
I Made Budi, peneliti dan dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Uncen itu menceritakan hasil penelitiannya dalam pengolahan buah merah.
“Saya mulai meneliti buah merah hampir tiga tahun lalu, membuat produk dari buah merah, menciptakan produk seperti minyak sari buah merah, lalu dibuat dalam bentuk pil. Buah merah dibeli dari masyarakat, ada yang didatangkan dari Wamena dan yang dekat dari Jayapura biasa dari Arso dan Lereh,” ujarnya.

Selain penelitian buah merah, I Made telah melakukan penelitian selama 30 tahun terhadap pengolahan buah coklat dan minyak kelapa. Hasil penelitiannya sudah menghasilkan banyak produk seperti sabun, shampoo, bodylotion, dan penganan coklat serta minyak murni dari kelapa yang disebut VCO.
“Ada penelitian membuat minyak untuk membantu pengeringan luka saat operasi, itu dibuat dari 60 persen minyak dari tanaman lidah buaya, 20 persen VCO dan 20 persen buah merah. Minyak ini sudah dibuat dan sudah diuji, hasilnya membantu mempercepat atau menutup luka operasi lebih cepat, produknya sudah bisa dibuat hanya tinggal tunggu izin dari BPOM saja sebelum dipasarkan,” ujarnya.
Selain hasil penelitian terhadap tanaman-tanaman itu, I Made Budi juga menunjukkan mesin penunjang hasil ciptaannya.
“Ini saya juga ada alat hasil ciptaan sendiri dan ada yang dipesan, [ada] alat untuk menghitung obat, jadi tinggal dimasukkan nanti obatnya ke alat itu [lalu langsung terkemas]. Satu hari bisa dapat 1000 botol. Ada juga alat untuk membuat pil buah merah, ini harganya 150 juta” ujarnya.
I Made juga menciptakan alat pengasapan ikan. Saat ini mesin ciptaannya itu sudah dipesan untuk dibawa ke Depapre.
“Alat teknologi yang dipesan itu alat asar ikan, alat ini tidak mengeluarkan asapnya jadi bebas asap. Alat teknologi ini mampu asar [mengasapi] ikan sebanyak 20 ekor dalam waktu 2 jam lalu di-vacuum dalam plastik sehingga bisa bertahan sampai tiga minggu,” ujarnya.
I Made Budi mengatakan dirinya menciptakan alat-alat itu dengan tujuan untuk membantu masyarakat, agar kemudian masyarakat belajar dan mengembangkannya kedepan.
Ia juga menyontohkan alat pembuat sagu untuk memangkas waktu yang dibutuhkan dalam pemrosesan sagu.
“Contoh alat untuk membuat sagu, dulu butuh waktu 3 hari untuk olah satu pohon jadi sagu, dengan alat yang saya punya ini hanya butuh 2 sampai 3 jam saja sudah jadi sagu, artinya ini mempermudah masyarakat serta membantu masyarakat untuk lebih baik lagi sehingga tenaga bisa dikurangi dan hasil bisa banyak,” ujarnya.
Dominggus Mampioper, wartawan senior yang mendampingi mahasiswa magang di PT Media Jubi Papua menanyakan apakah alat-alat yang dibuat oleh I Made Budi dan penelitian buah merah untuk kecantikan sudah ada yang meniru atau diikuti oleh orang lain.
I Made Budi mengatakan dirinya malah senang jika ada yang mengikuti jejaknya atau apa yang telah ia lakukan.
“Saya senang, artinya orang mau belajar dan berkembang, saya siap membantu dalam memberikan ilmu, mengajarkan kepada masyarakat karena dari awal saya lakukan semua ini karena hobi. Akan ada orang dari negara tetangga PNG yang akan datang untuk melihat dan [minta] diajarkan cara pengolahan buah coklat,” lanjutnya. (*)























Discussion about this post