Jayapura, Jubi – Alat panggang pemasak ikan asap tuna dan cakalang khas atau ikan asar Papua menjadi salah satu dari 20 inovasi teknologi yang dikembangkan oleh Drs I Made Budi, MSc, seorang peneliti dan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Budi adalah alumni pascasarjana jurusan ilmu gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Saat tim magang mahasiswa Fisip Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Cenderawasih (Uncen) dan pelajar SMK Negeri VIII Kota Jayapura berkunjung ke laboratorium I Made Budi di Waena, Kota Jayapura, pada Jumat (26/7/2024), peneliti tersebut menunjukkan berbagai inovasi teknologinya.
“Sudah ada 20 mesin teknologi pangan yang saya buat khusus untuk Papua,” kata Budi, yang kini menjelang masa pensiun pada usia 65 tahun. Inspirasi untuk terjun ke dunia teknologi mesin pangan datang dari pengalamannya mengikuti penelitian di PT Bogasari, pabrik pangan gandum terbesar di Indonesia.
Menurut Budi, keberhasilan inovasi ini merupakan hasil penggabungan ilmu gizi dengan teknologi, didorong oleh filosofi China yang menyatakan bahwa negara bisa maju dan sejahtera jika menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Alat Panggang Ikan Asar
Salah satu inovasi menarik dari I Made Budi adalah alat panggang ikan asar, yang dirancang untuk mempermudah pengolahan ikan asap di Papua. Budi menghabiskan empat tahun untuk meneliti alat ini, yang awalnya berbentuk persegi empat dan kemudian diubah menjadi lingkaran untuk pemanasan yang lebih merata.
“Alat panggang ini bekerja seperti oven, dengan proses pembakaran dan pengasapan ikan dilakukan selama 1,5-2 jam. Hasilnya kemudian divakum,” jelas Budi. Berbeda dengan cara tradisional yang menggunakan tungku, alat ini dirancang berbentuk seperti panci bakso, di mana ikan digantung dengan kepala ke bawah agar darah dan airnya mengering sempurna.
Ikan asap yang dihasilkan oleh alat ini bisa bertahan hampir sebulan karena kekeringannya yang sempurna dan pengemasannya yang vakum. Alat panggang ini dibuat dari bahan stainless steel yang dilapisi nikel, tahan karat, dan dapat bertahan hingga 20 tahun tanpa menghasilkan bunyi atau ledakan. Harga alat ini berkisar mulai dari Rp31.000.000, namun bisa dinegosiasikan untuk masyarakat.
Mesin Coklat, Pellet, Buah Merah, Kopi, dan Parut Sagu
Selain alat panggang ikan asap, I Made Budi juga mengembangkan berbagai mesin pangan lainnya, termasuk mesin pemroses buah merah, mesin sagu, dan mesin kopi. Mesin buah merah hasil ciptaannya sudah digunakan oleh masyarakat, dan mesin sagu buatannya banyak diminati pengusaha dari luar Papua seperti Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.
Budi juga menciptakan mesin pengolah kopi organik Papua, yang terkenal dengan aroma tajam dan rasa yang kuat. Proses pembuatan mesin kopi ini terinspirasi dari pengamatan langsung pengolahan biji kopi oleh masyarakat pegunungan Papua. “Dulu masyarakat mengupas biji kopi secara manual, yang menyebabkan kuku mereka rusak. Hal ini memotivasi saya untuk menciptakan teknologi yang memudahkan pekerjaan mereka,” katanya.
Selain itu, Budi juga bereksperimen dengan mesin sagu untuk menciptakan berbagai produk seperti mie sagu, beras sagu, dan es krim sagu. Menurutnya, inovasi antara ilmu dan teknologi bisa menciptakan produk baru yang kompetitif di pasar.
Budi juga berharap suatu saat Papua bisa memproduksi tepung tapioka sendiri, mengingat melimpahnya singkong dan ubi jalar yang dijual di pasar. “Sumber daya alam di Papua sangat banyak. Sampai saat ini, kita belum bisa membuat tapioka sendiri,” tutupnya.
Dengan inovasi teknologi pangan yang dihasilkan, I Made Budi berharap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal yang melimpah. Inovasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk pangan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat. (*)
Tirza Karina Timisela, Mahasiswa Magang Program Studi Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Cenderawasih (Uncen) turut berkontribusi dalam berita ini.




Discussion about this post