Jayapura, Jubi – Pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Mimika, yang menempuh pendidikan di Kota Jayapura mendorong pemerintah daerah Provinsi Papua Tengah, tokoh agama, hingga apparat keamanan secepatnya turun tangan untuk menghentikan konflik antar warga yang masih berlangsung di Kampung Kwamki Narama (Kwamki Lama).
Hingga hari keempat setelah pecah konflik pada Selasa (14/10/2025), korban luka-luka karena tembakan anak panah menembus 15 orang. Tak hanya itu, konflik ini juga menciptakan ketakutan bagi masyarakat biasa dan anak-anak sekolah.
Hal ini disampaikan Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Damal, Mehu Wandik dalam kunjungannya ke kantor Redaksi Media Jubi di Jayapura, Jumat (17/10/2025).
“Konflik horizontal ini mulai hari Selasa lalu, terus hari Kamis juga, dan sampai hari ini (Jumat) memang tidak ada perang panah tapi situasi tegang, antar pihak baku jaga. Ini buat anak-anak sekolah dari SD, SMP dan SMA tidak bisa pergi ke sekolah. Terus masyarakat biasa juga takut jalan bebas. Kalau yang luka-luka, keluarga infokan kepada kami 15 orang, tapi sudah dibawa ke RSUD Mimika dan RS Mitra Masyarakat,” kata Mehu Wandik, didampingi mahasiswa Mimika: Joren Kiwak, Tolekinus Tenbak, dan Ekian Wandikbo.
Mehu mengatakan, sebagai anak, para pelajar dan mahasiswa asal Mimika berharap agar ketegangan yang ditimbulkan pasca konflik antar warga ini segera berakhir.
“Harapan kami supaya masalah bisa diselesaikan antar kedua pihak, dengan begitu, keluarga kami, masyarakat semua bisa kembali aktifitas lagi. Adik-adik kami bisa Kembali ke sekolah, mama-mama kami bisa kembali ke kebun, ke pasar jual sayur dan lain-lain. Itu harapan kami,” kata Mehu.
Untuk itu, Mehu mengatakan, dirinya bersama tiga ikatan pelajar dan mahasiswa asal kabuapten Mimika dan Puncak, di kota studi Jayapura mengeluarkan lima permintaan kepada pemerintah kabupaten Mimika, pemerintah kabupaten Puncak, DPRD, hingga pihak kepolisian, serta para oknum dari kedua pihak yang berkonflik.
“Jadi, di sini (kantor Redaksi Media Jubi) saya mewakili teman-teman dari Ikatan Pelajar & Mahasiswa Mimika (IPMM), Ikatan Pelajar & Mahasiswa Wangbe (IPMW) dan Ikatan Pelajar & Mahasiswa Damal (IPMD), kami sampaikan aspirasi kami kepada pemerintah, wakil rakyat di DPRD, dan polisi supaya masuk ikut cari solusi, selesaikan masalah ini,” katanya.
Aspirasi poin pertama dan kedua adalah meminta Pemkab Mimika dan Pemkab Puncak serta wakil rakyat di legislative. “…segera menghentikan konflik horizontal yang sedang terjadi di Distrik Kwamki Narama (Kwamki Lama) sebelum jatuh korban nyawa,” kata Mehu.
Poin berikut, aspirasi disampaikan kepada apparat kepolisian. “Kami meminta kepada Polres Mimika segera mengamankan konflik yang sedang terjadi di Distrik Kwamki Narama.”

Atur Damai
Mehu juga menjelaskan, aspirasi berikut kepada semua pihak untuk mendudukan para oknum yang berkonflik dan mencari solusi baik bagi semua pihak.
“Aspirasi kami selanjutnya yaitu kepada Polres Mimika segera menangkap oknum dari kedua belah pihak untuk mendamaikan konflik horizontal tersebut yang sedang berlangsung di Distrik Kwamki Narama,” ujarnya.
Mehu mengatakan, upaya mendorong perdamaian antar kelompok yang berkonflik juga sebagai upaya menciptakan Mimika sebagai daerah yang aman bagi semua masyarakat dimana didiami oleh berbagai orang dari beragam suku.
“Dan aspirasi kami yang terakhir, Pemkab Mimika, Pemkab Puncak serta pihak keamanan Polres Mimika segera menghentikan konflik tersebut untuk tidak mengganggu aktifitas masyarakat 7 suku dan suku-suku kerabat lainnya yang ada di Kabupaten Mimika,” kata Mehu.

Akar Masalah
Kepala Polres Mimika, Ajun Komisaris Besar Polisi Billyandha Hildiario Budiman di Timika, pada Rabu (15/10/2025), mengatakan dua kelompok massa di Kampung Amole, Kwamki Lama berntrok menggunakan senjata tradisional panah karena dipicu perselingkungan.
“Info awal yang kami terima ada masalah keluarga, yaitu masalah perselingkuhan sehingga dua kelompok terlibat pertikaian,” kata Billy.
Kedua kelompok sempat berhadap-hadapan dan saling menyerang dengan bersenjatakan busur dan anak panah.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Mimika Ajun Komisaris Henri Alfredo Korwae mengatakan pihaknya berupaya mempertemukan para tokoh dari dua kelompok yang bertikai guna mencari penyelesaian damai.
“Kami fasilitasi para tokoh-tokoh untuk melakukan negosiasi supaya permasalah yang ada bisa diselesaikan secara damai, bukan melalui perang karena nanti bisa jatuh korban dari dua belah pihak,” kata Alfredo Kowae seperti dilansir Antara.
Wilayah Kwamki Lama yang berada di antara Bandara Mozes Kilangin Timika dengan Kampun gKarang Senang SP3 Distrik Kuala Kencana merupakan lokasi tempat tinggal warga asli Papua seperti suku Damal, Dani, dan lainnya. (*)




Discussion about this post